Sebagai seorang Pamangku Undagi, setiap melakukan proses pemahatan maupun proses pembuatan lainnya, maka undagi tersebut pun terlebih dahulu menyucikan dirinya.
Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan yang juga penari Barong, Putu Aryasa Darmawan menjelaskan hal ini bertujuan agar tapel Barong dan Rangda yang dihasilkan benar-benar memancarkan vibrasi kesucian yang kuat atau mecaya (bercahaya spiritual).
Konsentrasi si pemahat tapel Barong dan Rangda untuk tapakan Ida Bhatara bertujuan untuk menghasilkan karya yang mataksu.
Setelah tapel selesai diukir diakhiri dengan proses menghaluskan (ngamplas), maka tahap berikutnya adalah pengecatan.
Pengecatan disesuaikan dengan kebutuhan dan warna pilihan. Diawali dengan penutupan pori-pori kayu dengan plamir dan sejenisnya.
Pada saat pengecatan Barong-Rangda ada beberapa jenis warna yang digunakan, dan Barong maupun Rangda yang berkualitas baik adalah menggunakan warna alami. M
isalnya warna putih dibuat dari tulang, merah dengan kayu tiga gancu, warna hitam dengan areng pohon pinus dan warna alami lainnya.
“Belakangan ini sangat jarang menggunakan warna alami karena prosesnya sangat lama, tetapi kualitas warna tetap dijaga agar tahan lama dan alami sehingga Barong-Rangda Nampak hidup dan matkasu,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika