Upacara ini dilaksanakan setiap empat tahun sekali tepat pada purnama kapat, dengan melibatkan daha truna dan menggunakan pakaian khusus yang sudah ditentukan oleh para tetuanya.
Bendesa Adat Bayung Gede, Jro Ketut Sukarta mengatakan Ngusaba Lampuan sebagai tradisi besar yang sudah dijalankan secara turun temurun sejak ratusan tahun lalu.
Ritual ini bertujuan untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi agar para truna daha diberikan kekuatan dalam menjalankan kewajiban berumah tangga.
Pelaksanaan Ngusaba Lampuan di Bayung Gede tergolong unik, khususnya busana para pesertanya.
Bagi peserta upacara laki-laki atau Jro Lampuan Lanang memakai busana seperti kamben (kain) Bali, saput meselibeh (memakai slempang selimut), meselet golok (membawa golok), berkalung destar (ikat kepala), ngadut kompek (dompet) yang terbuat dari bambu yang dianyam menyerupai bentuk dompet.
Di dalamnya berisi daun sirih, buah pinang, tembakau, gambir, dan kapur sirih, yang nantinya akan dikunyah oleh para Lampuan Lanang di tempat upacara Pelampuan itu dilaksanakan.
Serta tidak diperbolehkan memakai baju, dan alas kaki (sandal).
Sedangkan peserta perempuan atau Jro Lampuan Istri memakai kamben (kain Bali), tidak diperbolehkan memakai segala bentuk perhiasan.
Mereka juga tidak diperbolehkan memakai pakaian selain kain Bali baik sebagai baju penggantipun harus memakai kain Bali, dan tidak diperbolehkan memakai sandal.
Dari segi sarana dan prasarana upcara yang digunakan sangat unik dan berbeda dari daerah lainnya seperti yang lazim digunakan.
Tradisi ini menggunakan sarana jajan biyu / jajan gong (jajan pisang) yang dibuat dari pisang mentah yang diparut dan dicampur dengan tepung beras merah, kemudian digoreng.
“Jajan ini dibuat oleh masing-masing peserta upacara secara urunan, dan digunakan sabagai alat pembayaran denda apabila ada pelanggaran yang dilakukan oleh Jro Lampuan Lanang dan Jro lampuan Istri,” katanya.
Selanjutnya penjor yang digunakan dalam Tradisi Ngusaba Lampuan ini terdiri dari dua buah penjor yang diikat menjadi satu.
Satu penjor terbuat dari bambu yang utuh. Artinya tidak boleh ada cabang yang patah, tidak boleh ada goresan, garis hitam melingkar pada ruas bambu, dari pangkal sampai keujung dengan hiasan daun enau muda.
Penjor yang satu lagi adalah berupa batang bambu yang telah dipotong ujungnya dan diatasnya ditancapkan jejahitan dari daun enau muda. Kedua penjor tersebut dibuat oleh masing-masing Lampuan Lanang.
Alat penerangan menggunakan lampu atau damarsuar meling yaitu lampu yang dibuat dari pangkal pohon pisang sebagai tangki minyak, menggunakan sumbu kerikan atau parutan kulit pohon bambu yang digiling, dan minyak kelapa sebagai bahan bakarnya, serta sebilah bambu sebagai tangkai (pasangan yang di gantung).
Dalam pelaksanaan Tradisi Ngusaba Lampuan di Desa Bayunggede, ada beberapa prosesi yang dilaksanakan.
Yaitu sebelum upacara Ngusaba Lampuan berlangsung para Lampuan Lanang dan Lampuan Istri serta masyarakat yang ada di Desa Bayunggede melaksanakan upacara matur piuning di Pura Penataran Bintak dengan dipuput oleh Jro Kubayan Muncuk dan para peduluan lainnya
Setelah dari pesiraman seluruh Pretima Ida bhatara kembali melinggih di pura Puseh untuk kemudian dihaturkan banten Dapetan. Usai dihaturkan Banten Dapetan masing-masing Pratima Ida Bhatara kembali ke masing-masing Pura.
Kemudian dilanjutkan dengan Upacara melasti. Prosesi ini dilaksanakan tujuh hari sebelum upacara puncak Ngusaba Lampuan dilaksanakan.
Datang dari melasti, Jro Kubayan mulai membuat sarana atau banten yang digunakan untuk upacara Ngusaba Lampuan. Sebelum membuat banten itu terlebih dahulu dipercikkan air suci atau tirta tersebut.
“Matur piuning ring Pura Puseh Pingit, matur piuning ring Pura Puseh Pingit diikuti oleh Jro Lampuan Lanang dan Jro Lampuan Istri, dimana matur piuning ke Pura Puseh Pingit diiringi oleh Jro Daha yang membawa sarana upacara yang disebut banten tamus,” paparnya.
Ia menambahkan, saat puncak karya di Pura Pelapuan menggunakan sarana banten munggah pedangsilan, dengan alasnya menggunakan wakul/bakul yang terbuat dari bambu, yang berisi beras dase paton (10 kg), uang kepeng atau uang bolong 4000 kepeng.
Ada juga sarana biu kayu, kelapa 5 buah, benang tekulan, buah-buahan, jajan begina 200 keping, jajan bekayu, siap biing (ayam merah), dan penyeneng isi tumpeng 2 buah. Serta sampian (canang) serta dihiasi dengan lenteran dengan menggunakan busung (janur), dengan kojong busung atau janur 200 helai dengan menggunakan bunga gemitir, pedangsilan ini merupakan pelinggihan Ida Bhatara.
Pada hari pertama diawali dengan mendak dangsil atau pedangsilan dilaksanakan di rumah jro Kubayan.
Lalu banten dansil dibawa ke penataran Pura Bintak, yang dilanjutkan dengan melaksanakan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh pemangku yang ada di Desa Pakraman Bayunggede.
Hari kedua dilanjutkan dengan Layud/Wayun Ageng (bawah) Ngeluur jaje biu (menghaturkan jajan pisang) yang dilaksanakan oleh masing-masing Jro Pelampuan.
Hari Ketiga pindah tempat dari Pura penataran Bintak menuju Pura Bale Agung. Upacara ini merupakan prosesi pencabutan penjor bagi teruna, kemudian penjor ini dibawa ke Pura Bale Agung yang dilanjutkan dengan pelaksanaan persembahyangan bersama.
Hari kempat yaitu pelaksanaan upacara Ongge-ongge atau mebebanyolan dengan permainan yang bernuansa lucu, saling balas pantun antara Jro lampuan Lanang dan Jro Lampuan Istri dengan menggunakan sarana banten teg-teg atau palian.
Hari kelima dilanjutkan dengan upacara Babuangan sundingan dengan menggunakan daun suren yang dilaksanakan oleh orangorang asli dari Desa Adat Bayunggede.
Sebelum pelaksanaan upacara inin, terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan untuk memohon keselamatan dan tidak ada halangan serta tidak ada pertengkaran antara satu dengan yang lainnya, sehingga upacara tersebut bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.
Sarana upacara yang dipakai dengan menghaturkan sarana banten peras pejati, isinya pejati/daksina yang sudah lengkap, tumpeng 5 buah, pangkonan 4 buah, pisang, jajan, buah-buahan, daging ayam, dan sampian peras lengkap dengan porosan, bungan dan rampe.
Terakhir adalah upacara penyineban. Upacara penyineban harus sesuai dengan hari baik, yang mana upacara penyineban ini diiringi dengan gambelan, menggunakan sarana banten teg-teg dan bangunan ayu, yang berisi daging babi, dan menggunakan jatah bebek.
Adapun isi dari jatah diantaranya kelapa, bebek yang masih mentah dipotong-potong menjadi beberapa bagian dan ditempel pada kelapa dengan tatanan yang rapi, berisi sate mentah dan sate yang sudah digoreng matang, berisi buahbuahan, jajan begina, jajan uli / jajan ketan, pisang, cabe, bawang merah dan bawang putih dan sampaian jatah, kemudian semunya itu ditusuk dengan menggunakan bambu yang sudah dibersihkan, lalu dipasang atau ditusuk pada kelapa yang masih utuh pada kulitnya.
Para Lampuan Lanang dan lampuan Istri matur piuning ke perempatan atau Pangkalan Desa Bayunggede yang ada hubungan dengan Ida Bhatara Batur.
“Selesai matur piuning, kemudian langsung bubar atau lebar dan para Lampuan Lanang pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kayu bakar dan para Lampuan Istri membawa sayur-sayuran yang dapat dipetik dan diambil di tepi-tepi jalan raya menuju pulang ke rumahnya masing-masing,” katanya. (dik)
Editor : I Putu Mardika