Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ngusaba Dimel di Desa Adat Batur: Dilaksanakan saat Sasih Karo, Ada Prosesi Ngabuangin  

I Putu Mardika • Jumat, 19 April 2024 | 04:37 WIB

 

Krama Batur saat berjalan beriringan menuju Pura tirta Mas Mampeh serangkaian Ngusaba Dimel saat Sasih Karo
Krama Batur saat berjalan beriringan menuju Pura tirta Mas Mampeh serangkaian Ngusaba Dimel saat Sasih Karo
JEMBRANA EXPRESS-Setiap dua tahun sekali, tepatnya pada Sasih Karo, Krama Desa Adat Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli menggelar upacara Ngusaba Dimel. Upacara ini dilangsungkan di Pura Bale Agung Batur dan di Pura Tirta Mas Mampeh.

Uniknya, krama melaksanakan prosesi Ngabuangin sebagai persembahan hasil bumi.

Prajuru Adat Batur, Jero Mangku Buda menjelaskan Ngusaba Dimel erat kaitannya dengan sejarah yang berawal dari peparuman Ida Batara Indra dengan Ida Bhatara Putran Jaya dan Ida Batari Dewi Danu di suatu tempat suci.

Karena beliau bertiga dalam pertemuan itu, maka tempat tersebut dinamakan Pura Samuan Tiga, yang sekarang berada di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar.

Pada pertemuan tersebut Batari Dewi Danu tempat duduknya dikelilingi dengan besi. Hal itu bertepatan dengan Buda Kliwon Sinta sehingga hari tersebut dinamakan hari raya Pagerwesi.

Dalam pertemuan tersebut membahas tentang pembagian tugas Ida Batara Batari yang berstana di Bali, yakni Ida Batara Putran Jaya yang berstana di Gunung Toh Langkir parhyangannya di Pura Besakih, beliau berkuasa atas nafas atau hidup dan matinya manusia di Bali.

Kemudian Ida Batari Dewi Danu diberi kewenangan untuk berkuasa atas amerta di Bali. Pada saat itulah Batara Indra menganugrahkan tirta amerta di dalam bambu (bumbung tiing).

Tirta amerta inilah yang dilempar menuju arah barat laut, lalu ditangkap oleh Batari Dewi Danu dengan menggunkan tangan kiri dan ditanam di puncak tebing. Maka dari sanalah muncul air terjun yang dinamakan Tirta Mas Mampeh.

Tirta inilah sebagai perwujudan tirta amerta yang dapat digunakan dalam berbagai upacara yadnya yang berkaitan dengan pertanian, mengawali menanam sampai panen.

Di tempat tersebut dibangun Pura Tirta Mas Mampeh sebagai tempat berstananya Ida Batara Batari di Batur bersama-sama melaksanakan Ngusaba dimel

Karena tirta amerta diambil dengan tangan kiri maka setiap ngusaba kedasa masyarakat desa Adat batur mempersembahkan kaki depan kerbau yang sebelah kiri (pala kiwa) yang merupakan sarana utama dalam mapepada agung kemudian di gantung di sanggar agung,

“Ini sebagai tanda penyambutan (pemendak) tirta amerta (tirta mas mampeh) yang di anugrahkan oleh Batara Indra. Setiap dua tahun sekali yaitu bertepatan dengan sasih karo masyarakat desa Adat batur melaksanakan upacara ngusaba dimel,” jelas Mangku Buda.

Jero Mangku Buda menjelaskan proses Ngusaba Dimel diawali dengan Ida Batara Batari di Pura Ulun Danu Batur katuran piodalan di Pura Bale Agung Batur selama tiga hari.

Pada saat itu krama Desa Adat Batur mendaftarkan diri (mecacak jiwa) secara niskala dengan memakai uang kepeng senilai dengan jumlah keluarganya masing-masing.

Besoknya, krama desa melaksanakan bakti maenoman. Kemudian dilanjutkan dengan makan bersama empat orang dalam satu ancak (megibung) sebagai wujud rasa persaudaraan antara krama bedanginan dan bedauhan.

Usai upacara di Bale Agung barulah perjalanan Ngusaba Dimel dilanjutkan. Perjalanan Ida Batari Batur menuju Pura Jati disambut oleh para krama subak yang dilalui. antara lain subak Taru Mas, Subak Masem, Subak Bugbugan, Subak Telemba, Subak Taksu, Subak Petung, dan Subak Bubung Kelambu.

Sesampainya di Pura Jati Ida Batari mesandekan (istirahat sejenak) disambut oleh krama Subak Seked. Perjalanan dilanjutkan menuju Pura Tirta Mas Bungkah, sesampainya di sana disambut oleh krama Subak Toya Bungkah.

Perjalanan Ida Batari Batur berlanjut dengan mengelilingi Gunung Batur menuju Pura Taman Sari. Sesampainya di sana disambut oleh krama Subak Yeh Mampeh dan Ida Batari katuran dan beliau mesandekan (beristirahat) selama satu malam.

“Besoknya perjalanan dilanjutkan menuju Pura Tirta Mas Mampeh. Nah di sanalah dilaksanakan puncak pujawali yang disebut dengan upacara Ngusaba Dimel,” imbuhnya.

Pelaksanaan upacara Ngusaba Dimel di Pura Tirta Mas Mampeh hari pertama Ida Batara Batari Batur katuran persembahan berupa Bakti Bebangkit dan rosan.

Sedangkan pada hari ke dua dilaksanakan proses ngusaba dengan melakukan pawai atau pepada penek.

Pepada Penek tujuannnya mengabarkan kepada masyarakat Batur dan seluruh krama subak yang ada di Batur. Hari ke tiga Ngusaba, dilanjutkan berupa bakti nebengin atau menurunkan Ida Batara Batari melalui perantara orang yang kesurupan.

Tujuannya agar krama desa Adat batur dan krama subak dapat mengetahui, apakah upacara Ngusaba Dimel telah diterima oleh Ida Batara Batari.

Bila diterima, maka dilanjutkan dengan upacara ngabuangin. Upacara ini sebagai persembahan yang berupa hasil bumi yang dipanen oleh krama subak antara lain berupa umbi-umbian atau pala bungkah, seperti bawang merah, bawang putih, kentang, ketela, ubi jalar, kacang tanah.

Ada pula buah-buahan atau pala gantung seperti nangka, mangga, cabe, tomat, juruk, pisang, dan kacang-kacangan atau pala wija seperti kacang panjang, kacang merah, komak, kacang buncis.

Harapannya, agar panen atau hasil bumi semakin berlimpah dan terhindar dari berbagai penyakit/hama tanaman.

Besoknya perjalanan dilanjutkan menuju Pura Ulun Danu Batur melalui jalan setapak mendaki tebing sampailah di Pura Subak Tirta Mas Mula dan disambut oleh krama subak.

Perjalanan Batara-Batari Batur yang di iringi oleh krama Desa Adat Batur dan seluruh krama subak yang ada di Batur menuju Pura Ulun Danu Batur.

Sesampainya kembali di Pura Ulun Danu Batur Ida Batara Batari katuran bakti masineb sebagai penanda berakhirnya Ngusaba Dimel. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kintamani #karo #ngusaba #dewi danu #pura #batur #Sasih #Pura Jati #ulun danu batur #dimel #Pura Bale Agung