Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih di Pura Dalem Tamblingan: Tempat Memohon Hujan dan Kesuburan

I Putu Mardika • Sabtu, 27 April 2024 | 21:08 WIB

Pelinggih Ida Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih (lingga yoni)
Pelinggih Ida Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih (lingga yoni)
JEMBRANA EXPRESS-Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih, sebuah lingga yoni di Pura Dalem Tamblingan, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, menjadi simbol kesuburan dan diyakini mampu memberikan keturunan bagi mereka yang belum memilikinya.

Lingga yoni ini merupakan batu alam yang unik dan berbeda dengan lingga yoni pada umumnya. Lingga Yoni bagi umat Hindu Bali sebagai simbol rwa bhineda.

Menurut Mangku Kastawa, lingga yoni ini terbagi menjadi dua bagian Celak Kontong (phallus) dan Lugeng Luwih (vulva).

Bagian Celak Kontong (phallus atau lingga) berbentuk silinder yang berukuran panjang 24 cm dengan diameter 15 cm.

Sedangkan bagian yang disebut Lugeng Luwih (vulva-yoni) merupakan batuan monolit yang memiliki dimensi kedalaman 30 cm, tinggi 90 cm, panjang 150 cm.

Bentuknya menyerupai lumpang batu dengan alu, namun ukurannya tidak memungkinkan untuk digunakan sebagai alat penumbuk.

Lingga yoni ini diperkirakan merupakan peninggalan prasejarah dari zaman Megalitik.

Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih dihormati sebagai lingga Swayambhuwalingga, yaitu lingga yang suci dan utama karena asal usulnya tidak diketahui.

Masyarakat percaya bahwa lingga ini memiliki kekuatan untuk memberikan kesuburan dan keturunan.

Pemujaan di lingga yoni ini dilakukan dengan mempersembahkan banten dan sesajen, termasuk air Danau Tamblingan yang disiramkan ke lingga yoni.

Pemimpin adat kemudian menggoyangkan lingga untuk memohon hujan.

Masyarakat Catur Desa Adat Tamblingan meyakini bahwa ritual ini dapat mendatangkan hujan di musim kemarau.

Banten yang digunakan seperti sesayut aparangkat, sesayut ngeleb, sesayut tumpukan atumpuk, dupa taksi canang daksina apasang, penyeneng penyarikan atumpuk, penyeneng penyarikan tayan taenan, gula kelapa ategen, peras berbentuk purusa pradana.

Ia menjelaskan proses memohon hujan itu diawali dengan mengambil air danau Tamblingan 11 kali, kemudian air disiramkan pada lingga yoni. Setelah itu pemimpin adat menggoyang-goyangkan bagian lingga yang menyembul ke luar.

 “Masyarakat di Catur Desa Adat Tamblingan sangat percaya bila lingga digerakkan dari yoni tempatnya tertancap, maka akan menimbulkan hujan,” pungkasnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#Lingga Yoni #kesuburan #Banjar #keturunan #hindu bali #Bhatara Celak Kontong Lugeng Luwih #buleleng #Pura Dalem Tamblingan #bali