Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Penataran Sasih Pejeng: Dibangun sejak Delapan Abad Silam, Nekara Diyakini Anting-Anting Kebo Iwa  

I Putu Mardika • Selasa, 30 April 2024 | 03:52 WIB

 

Pura Penataran Sasih, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar
Pura Penataran Sasih, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar
JEMBRANA EXPRESS-Pura Penataran Sasih yang terletak di Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar tidak terlepas dari ikon Nekara yang sarat akan mitologis. Berdasarkan catatan Sejarah, pura ini telah dibangun di jaman Bali Kuna ketika pusat kekuasaan (pemerintahan) berada di Pejeng-Bedulu.

Seperti diketahui jika periode Bali Kuna berlansung dari abad 10 Masehi sampai abad 13 Masehi. Ini berarti Pura Penataran Sasih sudah dibangun di antara abad 10-13 M, atau setidaknya telah dibangun 800 tahun silam.

Usia 800 tahun adalah tergolong tua, dan cukup beralasan untuk memposisikan Desa Pejeng sebagai desa tua dan memiliki peranan penting dalam panggung sejarah dan politik di jaman Bali Kuna.

Baca Juga: Pura Bukit Indrakila: Tempat Beryoga Para Raja era Bali Kuna

Tetapi, bila melihat tinggalan nekaranya yang berasal dari jaman Perunggu, merujuk kepada Desa Pejeng sebagai desa yang amat tua.

Sebagai buktinya, peninggalan terpenting berupa nekara perunggu terbesar di Asia Tenggara dibuat di Pejeng.

Betapa pentingnya Desa Pejeng baik di jaman pra Hindu maupun di jaman Hindu, sehingga dipilih sebagai pusat aktivitas agama dan budaya.

Pura Penataran Sasih tidaklah berdiri sendiri, namun ada beberapa pura lainnya dan masih menjadi satu kesatuan, yaitu Pura Taman Sari, Pura Ratu Pasek, Pura Bale Agung dan ketiganya berada di bagian sebelah utara; dan Pura Ibu posisinya di bagian sebelah selatan; dan Pura Taman posisinya di sebelah timur atau di bagian belakang pura.

Setiap pura memiliki pintu masuk masing-masing, dengan dibatasi candi bentar dan dikelilingi tembok penyengker.

Untuk Pura Ibu, arah pintu jaba luarnya langsung ke jalan raya seperti halnya Pura Penataran Sasih, sedangkan tiga pura lainnya di bagian sebelah utara, jaba tengah dan jaba sisinya menjadi satu dengan Pura Penataran Sasih.

Jro Mangku Pura Penataran Sasih, Ngakan Made Semara Putra menjelaskan Pura Penatran Sasih adalah salah satu kahyangan jagat di Pulau Dewata yang diempon oleh krama Desa Adat Jro Kuta Pejeng, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar

“Pura Penataran Sasih ini diempon oleh empat Banjar Adat di Pejeng yaitu Banjar Puseh, Banjar Bulian, Banjar Intaran dan Banjar Pande. Jumlahnya kurang lebih 1000 Kepala Keluarga,” jelasnya.

Seperti pura pada umumnya, secara struktur dibagi menjadi tiga mandala, yakni Nista Mandala, Madya Mandala dan Utama Mandala.

Pada bagian Utama Mandala terdapat banyak pelinggih yang memiliki makna dan fungsi. Adapun yang menjadi ikon di pura ini adalah terdapat satu benda purbakala yan terbuat dari perunggu, dan disebut Nekara.

“Keberadaan Nekara yang dimaksud erat kaitannya dengan berbagai mitologi atau cerita rakyat bahwa ada yang menyebutkan jika nekara tersebut adalah perwujudan bulan,” imbuh Mangku Semara Putra.

Konon dahulu diyakini ada dua bulan. Satu di angkasa dan satu di pejeng. Ketika itu konon Desa Pejeng tidak prnah mengalami kegelapan karena sinar bulan itu bersinar sepanjang hari. Maka pada suatu ketika ada seseorang yang hendak berbuat kejahatan.

Namun si pelaku tidak bisa melakukannya karena di Pejeng tidak pernah mengalami kegelapan. Akhirnya dia berusaha mengencingi bulan itu hingga padam dan tidak bisa mengeluarkan Cahaya.

Ada pula cerita versi lain yang menyebut jika nekara itu adalah anting-anting dari Kebo Iwa. Kemudian nekara juga disebut sebagai media untuk memohon hujan. Pasalnya masyarakat kerap memohon kesejahteraan agar tetap bisa bercocok tanam melalui hujan.

“Semisal saat hujan tidak turun, maka dimohon agar bisa hujan dan menyuburkan tanaman. Sehingga bisa panen dan memberikan kesejahteraan,” paparnya.

Saat pujawali berlangsung di Pura Penataran Sasih dalam pelaksanaan ritual pada saat purnama kesanga. Yakni dari feburari sampai Maret. Disini dilaksanakan ritual ngusabha desa yang dihadiri oleh desa desa di sekitar Desa Jro Kuta Pejeng

Prosesi upacaranya selama 11 hari. Dalam perayaan tersebut dipentaskan tarian sakral yakni Tari Sang Hyang Jaran, Tari Ombak-Ombakan, Tarian Siat Sampian. Yang hanya ditarikan saat upacara tertentu.

Pura penataran sasih juga dikenal sebagai peninggalan cagar budaya, karena banyak situs seperti arca di setiap pelinggih.

Disinggung terkait nama penataran sasih, Mangku Semara menyebut jika Penataran itu artinya persembahan dan Sasih itu diartikan sebagai bulan.

“Jadi penataran ini sebagai tempat pemujaan Sang Ratih yang artinya Dewi Bulan. Di Pura ini juga bertsana juga Ida Manik Dalang,” katanya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#gianyar #Penataran Sasih #Tampaksiring #desa pejeng #pura #peninggalan