Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Batur Gangsia di Desa Tinggarsari: Mitos Batu dibawa oleh Kera

I Putu Mardika • Selasa, 30 April 2024 | 16:45 WIB

 

Pura Batur Gangsia yang terletak di Banjar Kapas Jawa, Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu
Pura Batur Gangsia yang terletak di Banjar Kapas Jawa, Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu
JEMBRANA EXPRESS-Pura Batur Gangsia yang terletak di Banjar Kapas Jawa, Desa Tinggarsari, Kecamatan Busungbiu tergolong unik.

Pasalnya, pura yang ramai dikunjungi umat Hindu Bali ini merupakan bebaturan yang tersusun dari bebatuan segi lima dan segi enam dan sudah ada sejak jaman megalitikum. 

Untuk menjangkau pura ini pemedek harus rela berjalan kaki. Namun, suasana yang tenang dikelilingi pepohonan nan rindang membuat suasana kian kusuk.

Para pemedek yang ingin ke tempat utama Pura Batur Gangsia harus menuruni anak tangga dan harus berhati-hati karena medan yang sedikit curam.

Jika dilihat secara seksama, batu-batu ini jumlahnya mencapai ribuan. Posisinya menumpuk dan tersusun rapi di areal bagian bawah Pura Batur Gangsia.

Baca Juga: Pura Tirta Mangening di Tepi Danau Tamblingan: Hanya Bebaturan, Tempat Nunas Tirta untuk Melukat

Meski terlihat menjorok di tebing dan tidak menggunakan perekat beton, namun tumpukan batu-batu tersebut sangat kuat dan tidak pernah bergeser.

Ajaibnya, batu-batu tersebut memiliki ukuran yang hampir sama dengan panjang 2 meter dan diameter sekitar 0,5 meter.

Tokoh masyarakat Desa Tingarsari Kadek Oka Armadika menyebutkan pura ini dianggap  tertua di Desa Tinggarsari dengan bentuk Palinggih  berupa batu segi lima dan segi enam yang memiliki panjang berbeda-beda.

Menariknya, bebatuan tersebut tersusun menumpuk tanpa adanya pelekat dengan kedalaman 350 meter dari atas sampai ke bawah sungai.

Banyak yang menduga bebatuan berbentuk balok di Desa Tinggarsari ini kemungkinan terbentuk pada zaman Megalitikum.

Ada sebuah mitos yang diyakini masyarakat setempat menyebutkan bahwa konon batu segi enam dan segi lima tersebut dipercaya di bawa oleh 9 ekor kera sehingga Pura tersebut dinamakan Pura Baturgangsia.

“Masyarakat meyakini jika pura ini sangat dikeramatkan. Yang nangkil juga dari berbagai wilayah di Bali,” jelasnya.

Secara struktur, bangunan pura mengikuti konsep Tri Mandala yang terdiri atas: Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala.

Di pura ini ada sejumlah Pelinggih. Diantaranya pelinggih Jro Dukuh Sakti, Pelinggih Ratu Ngurah Sedahan, Pelinggih Ratu Mas Meganggeng, Ratu Mas melanyat, Pelinggih Manik Congkeh, Pelinggih Jro Patih, dan Patih Nyoman Pengadangan.

Krama yang nangkil atau bersembahyang di Pura Batur Gangia, wajib terlebih dahulu bersembahyang di Pelinggih Jro Patih Sakti Nyoman Pegadangan.

Tujuannya untuk memohon ijin akan melakukan persembahyangan.

Dikatakan Oka, di Pura Batur Gangsia merupakan stana dari Ida Ratu Mas Melanyat. Beliau diyakini sebagai penguasa batu-batu purba.

Bentuk Palinggih-Nya pun hanya berupa bebaturan yang dikelilingi wastra poleng.

Tidak ada yang tahu secara pasti, sejak kapan batu-batu bersusun dengan ukuran hampir sama tersebut berada di sekitar Pura Baturgangsia.

Belum ada yang mengetahui secara pasti bagaimana sejarah dan kapan terbentuknya susunan batu-batu tersebut serta Palinggih yang ada. Sebab, tidak ada prasasti yang menjelaskan semuanya.

“Tapi, menurut penuturan para tetua yang mewarisi secara turun temurun bahwa batu-batu itu sudah ada sebelum penduduk tinggal di sana,” paparnya.

Keberadaan batu-batu bersusun tersebut dipercaya sudah ada sejak zaman Megalitikum. Muncul dugaan masyarakat setempat bahwa batu-batu tersebut mulanya akan digunakan untuk membangun sebuah candi.

Sampai saat ini, keberadaan batu-batu tersebut belum perah diteliti oleh ahli sejarah maupun purbakala.

Di antara bebatuan tersebut, terdapat sebuah bangunan suci (Palinggih) yang juga dipercaya sudah ada sejak masa lampau.

Agar memudahkan proses pemujaan, krama kemudian membuat Pura Pengayatan

“Karena lokasi untuk mencapai tempat tersebut suci dan keramat itu sangat curam dan sempit maka Krama berinisiatif membangun Pura Pengayatan di atas tebing, yang kemudian disebut Pura Baturgangsia,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#batu #hindu bali #pura #Pura Batur Gangsia #bebaturan #busungbiu