Tarian ini merupakan simbol perjuangan baik saat menjalani masa brahmacari maupun grahasta.
Jero Gede Batur Duhuran menjelaskan Tarian perang - perangan yang melibatkan dua orang jojoran dan dua orang jero baris.
Baca Juga: Pura Ulun Danu Batur Kintamani: Pusat Ritual di Bali, Erat dengan Mitos Gunung dan Danau Batur
Tarian Perang-perangan ini adalah suatu tarian yang memiliki suatu makna yang dalam untuk kehidupan. Tarian ini dipentaskan tepat sebelum acara Matiti Suara dilaksanakan.
“Tarian ini ditarikan oleh empat orang yang dibagi kedalam dua sesi, masing-masing sesi terdapat dua orang penari,” kata Jero Gede Batur Duhuran.
Pada sesi pertama ada dua orang penari jojoran yang merupakan simbolis masa brahmacari, namun yang menarikan bukan seorang brahmacari melainkan seorang yang sudah mencapai masagrhasta (berumah tangga).
Ini dikarenakan sistem tempekan yang ada di desa Adat Batur dimana setiap orang yang telah memasuki masa grhasta (menikah).
Hal ini diwajibkan untuk masuk ke dalam lempekan yang berbeda dengan seorang yang masih pada masa brahmacari seperti lempek Jero Baris, Jero Gambel, Jero Batu, Jero Undagi dan Jero Pecalang.
Namun jika masih pada masa brahmacari, tempekan yang diperbolehkan yaitu tempek Rohan yaitu khusus untuk anak laki-laki dan tempek Daha Bunga khusus untuk anak perempuan tempekan sebelas.
Pada sesi pertama ini ditarikan oleh Tempek Jro Baris yang masih muda.
Baca Juga: Balian di Pura Ulun Danu Batur Seorang Wanita: Gelar Dicabut jika Menikah
Sesi kedua ada dua orang penari Baris Gede dari Tempek Jro Baris yang menarikan adalah Jro baris yang sudah lingsir. Ini merupakan simbol masa grhasta (berumah tangga).
Makna dari tarian Perang-perangan adalah bahwasanya sebagai manusia baik di masa brahmacari maupun grhasta membutuhkan yang namanya perjuangan.
"Nah perjuangan ini untuk mencapai kesejahteraan hidup, perang-perangan disini bukanlah perang melawan sesama namun perjuangan mencari kesejahteraan,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika