Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Kehen Bangli: Diempon oleh Gebog Domas, Diyakini sudah Ada sejak Abad IX

I Putu Mardika • Jumat, 3 Mei 2024 | 05:19 WIB

 

Pura Kehen Bangli yang dibangun sejak Abad IX
Pura Kehen Bangli yang dibangun sejak Abad IX
JEMBRANA EXPRESS-Pura Kehen yang merupakan salah satu Pura Khayangan Jagat yang terletak di Desa Adat Cempaga, Kecamatan Bangli. Sebagi pura yang diwariskan sejak era Bali Kuno, Pura Kehen memiliki beragam keunikan.

Belum dapat dipastikan kapan sejatinya pura tersebut didirikan, dan apa yang menjadi asal- usul nama Kehen itu sendiri. 

Namun berdasarkan prasasti ketiga yang berangka tahun 1204 Masehi disebutkan beberapa pura yang mempunyai hubungan kesatuan meliputi Hyang Matu, Hyang Kedaton, Hyang Paha Bangli, Hyang Pende, Hyang Wukir, Hyang Tegal, Hyang Waringin, Hyang Pahumbukan, Hyang Buhitan, Hyang Peken Lor, Hyang Peken Kidul, dan Hyang Kehen.

Kehen sendiri diperkirakan berasal dari kata keren (tempat api).

Baca Juga: Menakjubkan!! Arca Peninggalan di Pura Kebo Edan ini sakral Berusia Ratusan Tahun, Ada Ajaran Panca Ma

Bila dihubungkan dengan prasasti pertama yang berbahasa Sansekerta, namun tidak berangaka tahun dimana didalamnya menyebutkan kata-kata Hyang Api, Hyang Karimana, Hyang Tanda serta nama-nama biksu.

Diyakini jika Pura Kehen sudah ada pada akhir abad IX atau permulaan abad X Masehi.

Pengempon Pura Kehen, Jro Gede Kehen mengatakan Pura Kehen diempon oleh masyarakat Gebog Domas dari empat buah desa adat atau desa adat yakni Cempaga, Kawan, Kubu, dan Bebalang ditambah masyarakat Desa Adat Demulih, Susut, dan Sulahan.

“Pura Kehen diempon oleh 33 orang pemangku yang berasal dari desa-desa panyungsung Pura yang mempunyai berbagai tugas dan kewajiban yang dibedakan atas 2 golongan yang disebut Dangka dan Pemaksan,” jelasnya.

Pemangku yang berjumlah 33 orang itu dipimpin oleh dua orang Pemangku utama yakni Jro Mangku Gede sebagai ketua dan Jero Mangku Pasek sebagai wakil ketua.

Kedua Pemangku utama ini dibantu oleh Jero Mangku Penyarikan (sekretaris) dan Jero Mangku Catu (bendahar), sebagai Pura besar, upacara di Pura Kehen berlangsung pada Hari Raya Pagerwesi,

Dijelaskan Jro Gede Kehen secara struktur Pura Kehen terdiri dari tiga halaman, yakni halaman Nista, madya dan utama mandala. 

Pada areal Nista Mandala terdapat Bale Gong, Pelinggih batu keramat, Bale Agung, Bale Kulkul,Pelinggih batara sakti sading bingin, Pelinggih batara sakti kebo suih, Pelinggih Batara Sakti Ratu Mas Ayu Panganten, Pelinggih batara sakti manik aseman

Pada areal madya mandala terdapat beberapa bangunan pelinggih (bangunan suci) yakni sebagai berikut.

Bale Pasangkepan, Bale Wayang, Bale Semar Pegulingan, Pelinggih Batara Sakti Ratu Mas Subandar.

Areal Perantenan, bangunan ini berada di sebelah barat daya madya mandala di areal perantenan.

“Perantenan berfungsi sebagai tempat untuk mempersiapkan sesaji upacara dan mempersiapkan makanan bagi penangkil maupun pengayah yang ngaturang ayah ke Pura Kehen,” imbuhnya.

Sedangkan, bale Pewaregan sendiri berfungsi sebagai tempat bagi pengayah, pemedek, ataupun penangkil mengambil makanan dan minuman yang disediakan oleh panitia pura karena kebanyakan dari mereka tempat tinggalnya jauh dari lokasi pura.

Areal selanjutnya disebut utama mandala atau sering disebut jeroan. Bagian ini merupakan paling suci (sakral).

Baca Juga: Jangan Kaget!!Pura Kebo Edan  Dibangun Abad ke 13 Masehi, Jejak Sejarah Aliran Tantrayana di Bali  

Bangunan pelinggih (bangunan suci) yang terdapat di areal utama mandala yakni.

Bale Penglipuran (pelinggih batara sakti dahaning gunung), Pelinggih Batara Sakti Pasek Majambul, Pelinggih Batara Sakti Gede Penyarikan, Pelinggih Batara Sakti Taman Sari.

Ada pula Pelinggih Sangran, Pelinggih batara sakti gede sema, Pelinggih batara sakti gunung kaloka, Pelinggih batara sakti gunung tengah, Pelinggih Batara Sakti Gunung Sari, Pelinggih Ratu Ngerurah, Pelinggih Batara Sakti Swaring Jagat/ Corong Agung.

Ada pula Pelinggih batara sakti hyang wukir, Pelinggih Batara Sakti Hyang Kehen, Pelinggih Batara Sakti Hyang Karimana dan Pelinggih Batara Sakti Dalem Bujangga, Pelinggih dasar, Bale Peselang, Bale Panggungan,

Di areal utama mandala juga terdapat Pelinggih Batara Sakti Bukit Jati, Pelinggih Batara Sakti Ngurah Sakti, Pelinggih Batara Sakti Gunung Agung, Pelinggih Batara Sakti Maspait, Pelinggih Batara Sakti Manik Tirta, Pelinggih Batara Sakti Gede Pande, Bale pasamuan parepen, Bale Pasamuan, Bale Pawedaan, Bale Pidpid, Bale Pesandekan.

Pura Penyineban berada di sebelah selatan Pura Kehen. “Pura Penyineban berfungsi untuk menyimapan prasasti- prasasti,” sebutnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#abad X #masehi #pura kehen #bangli #hindu bali #Bali Kuno #pura #abad IX