Pura Batukaru diempon oleh delapan Desa Adat. Kedelapan Desa Adat selaku Panjak Pekandelan Ida Bhatara Batukaru tersebut, yaitu terdiri atas Desa Wongaye Gde, Desa Adat Tengkudak, Desa Adat Kloncing, Desa Adat Batu Kambing, Desa Adat Bengkel, Desa Adat Penganggahan, Desa Adat Amplas, dan Desa Adat Sandan.
Pura Kahyangan Jagat Batukaru erat kaitannya dengan stana dewata nawa sanga. Di pura ini berstana Dewa Mahadewa di arah pascima (barat) yang juga diyakini menjaga jagat Pulau Dewata.
Uniknya, di Pura yang ramai dikunjungi umat Hindu Bali ini terdapat ritual mohon air hujan, secara tradisional disebut mapag toya atau mendak toya.
Mapag atau mendak memiliki arti yang sama, yaitu ‘menyambut’ (kedatangan), sedangkan toya adalah suatu istilah yang cukup umum untuk menyebut air yang bersifat profan. Sedangkan untuk air suci disebut dengan istilah tirtha.
Jero Bendesa Wongaya Gede, I Ketut Sucipta menjelaskan, Mendak atau mapag toya dapat diartikan menyambut (kedatangan) air.
Dalam konteks pertanian (subak), ritual mapag toya dikaitkan dengan menyambut kedatangan dan turunnya air hujan (blabur pertama setelah musim kemarau) dari langit agar petani dapat memulai aktivitas pertanian, khususnya dalam budidaya tanaman padi di sawah.
Dalam ritual mapag toya biasanya disertai dengan ritual mulang pakelem yaitu persembahan binatang kurban dengan sesajen selengkapnya.
Pakelem berarti penenggelaman atau melepas sesuatu atau kurban ke dalam air sungai, danau, laut, ke bumi atau ke tengah hutan. Ritual
Ritual pakelem di puncak gunung (tengah hutan), di air danau atau sungai yang terkait dengan ritual mapag toya/mendak toya di Tabanan dilakukan setahun sekali.
Terutama pada akhir musim kemarau (peralihan musim kemarau ke musim hujan).
Ritual mapag toya yang disertai dengan ritual pakelem dilakukan setiap bulan purnama pada sasih kapat atau bulan IV menurut perhitungan kalender Bali yang jatuh sekitar Oktober-November.
Selain ritual mapag toya di tingkat jagat (kabupaten atau provinsi), di tingkat yang lebih rendah, yaitu satu kesatuan organisasi unit Subak juga dikenal ritual mapag toya di hulu sungai ketika mereka hendak memulai aktivitas bertani di sawah.
Umumnya ritual mapag toya di kesatuan subak masing-masing dilakukan setelah ritual mapag toya di tingkat regional yang dilakukan antar subak di Puncak Kedaton Batukaru, hulu DAS Mawa, atau di Pura Ulun Danu Tamblingan.
“Keunikan ritual kurban dan persembahan mendak toya yang dilakukan oleh komunitas Subak di kawasan Gunung Batukaru, yaitu ritual dilakukan pada tiga lokasi yang berbeda-beda setiap tahun (setiap purnamining sasih kapat/Purnama bulan Oktober) dalam siklus tiga tahunan,” sebutnya.
Secara berturut-turut ritual kurban dan persembahan (ritual mapag/mendak toya) tersebut dilakukan dalam waktu tahunan.
Yakni, setiap purnamaing sasih Kapat atau purnama bulan Oktober) dalam siklus 3 tahunan.
Siklus pertama, saat Purnamaning Sasih Kapat tahun pertama, ritual dipusatkan di kahyangan Pucak Kedaton.
Ritual persembahan dan kurban di puncak Gunung Batukaru ini dilakukan secara khusus untuk memuliakan Dewa Pucak Kedaton (Sang Hyang Tumuwuh) dan Dewa Langit (Dewa Hujan) pada waktu malam hari sekitar pukul 00.00 Wita.
Baca Juga: Pura Blanjong di Sanur Kauh Prasasti Berangka Tahun 913M, Pujawali saat Soma Pahing Langkir
Ritual ini sebenarnya dimulai pada pagi hari sekitar pukul 09.00 Wita di Pura Penataran Batukaru. Dalam hal ini, ritual dipusatkan pada Ida Panembahan Sakti Luhur Penataran Bali di prasada/candi tumpang tujuh (pitu) sebagai sthana.
“Setelah ritual persembahan dan pemujaan, air suci (tirtha) dibagi-bagikan kepada para perwakilan subak (pekaseh) untuk didistribusikan lagi kepada krama subaknya pada masing-masing desa, dan kemudian dipercikan pada masing-masing sawahnya,” ungkapnya.
Setelah ritual pemujaan di Pura Luhur Batukaru berakhir, sebagian perwakilan subak, masyarakat umum lain melanjutkan prosesi ritual ke Kahyangan Pucak Kedaton yang terletak di puncak Gunung Batukaru.
Prosesi berlanjut melalui jalan pendakian spiritual dari barat pura Batukaru dengan menyeberangi Tukad Mawa.
Kemudian menelusuri hutan di lereng menuju ke puncak gunung Batukaru.
Para peserta ritual tiba di Pucak Kedaton sekitar pukul 17.00- 18.00 Wita. Ritual pada tengah malam purnama kapat di puncak gunung ini berlangsung sangat khusyuk.
“Memang pertimbangannya karena waktu malam purnama seperti itu dipandang waktu yang terbaik dan paling kramat bagi turunnya berkah dari para dewa, khususnya Bhatara Pucak Kedaton Batukaru Sang Hyang Tumuwuh.
Siklus kedua, Ritual Purnama-Sasih Kapat tahun kedua, dilakukan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Mawa yang terletak di sebelah Barat Pura Batukaru-Desa Wongaya Gede Dekat Pura Dalem,” ungkapnya.
Binatang kurban yang dipersembahkan pada pakalem/mendak toya di Pucak Kedaton dan di Tukad Mawa ini di antaranya bebek selem/hitam sepasang (pejantan-betina), ayam putih sepasang, yaitu ayam sepit gunting (bulu ekor keluar 2 bulu) yang kondisinya masih suci/sukla (belum pernah kawin), dan sesajen perlengkapan lainnya.
Siklus ketiga, Ritual kurban dan persembahan terakhir purnamaning sasih kapat tahun III, yaitu puncak ritual mapag toya.
“Ritual ini dipusatkan di Pura Ulun Danu Tamblingan (Dewi Danu Tamblingan) yang termasuk wilayah Catur Desa Dalem Tamblingan Kecamatan Banjar-Kabupaten Buleleng,” imbuhnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika