Mangku Gede Pura Luhur Natar Sari, I Ketut Mastrum menjelaskan masing-masing tapakan tersebut juga melambangkan dasa aksara Ida Sang Hyang Widhi yaitu Sang (Iswara, Timur, Putih, Anoman).
Baca Juga: Pura Luhur Natar Sari: Tempat Paruman Barong, Tapakan Berasal dari Lima Kabupaten
Bang (Brahma, Selatan, Merah, Singanana), Tang (Mahadewa, Barat, Kuning, Sangut), Ang (Wisnu, Utara, Hitam, Delem), Ing dan Yang (Siwa, Tengah, Panca Warna, Rahwana).
Nang (Maheswara, Tenggara, Dadu, Anggada), Mang (Rudra, Barat Daya, Jingga, Sugriwa), Sing (Sangkara, Barat Laut, Hijau, Anila), dan Wang (Sambu, Barat Laut, Abu-abu, Sampati).
Berdasarkan catatan yang ada, saat ini ada 23 tapakan barong dan rangda menjadi penguger di Pura Luhur Natar Sari.
Selain 23 tapakan barong dan rangda penguger tersebut, masih ada 46 tapakan barong dan rangda yang bukan penguger, nunas pasupati di Pura Luhur Natar Sari.
Sehingga ada 67 tapakan barong dan rangda dari lima kabupaten di Bali yakni Tabanan, Badung, Gianyar, Bangli, dan Jembrana.
Tapakan penguger adalah tapakan barong dan rangda yang hadir hadir pada setiap pujawali ageng di Pura Luhur Natar Sari sejak awal hingga prosesi upacara berakhir.
Prosesi puncak karya di Pura Luhur Natar Sari berbeda dengan prosesi puncak karya di pura lainnya di Bali.
Jika pada umumnya puncak karya seluruh pralingga Ida Bhatara melinggih di Bale Papelik, maka di Pura Luhur Natar Sari seluruh pralingga Ida Bhatara termasuk Tapakan Ratu Gede (barong) berdiri di pelataran pura (tedun kabeh).
“Uniknya, saat prosesi ini berlangsung justru membentuk lingkaran mengelilingi upakara Penyegjeg Buwana. Prosesi tersebut menyerupai formasi rapat (meeting), sehingga disebut paruman atau rapat para barong,” sebutnya.
Dikatakan Mangku Mastra, ada tiga proses upacara yang berlangsung dalam prosesi Bhatara tedun kabeh.
Pertama, sinarengan nunas pasupati (taksu) karena bersamaan dengan hari Tumpek Krulut yaitu hari turunnya taksu untuk tapakan barong, rangda, topeng, dan lain-lain.
Kedua, sinarengan katuran pujawali. Dan ketiga, Ida Bhatara sami sangkep, maosang indik kerahayuan jagat soang-soang.
Pada saat prosesi Bhatara tedun kabeh, masing-masing sesuhunan katunasin tirtha pemuput karya selain tirtha sane katunas ring kahyangan jagat ring Bali.
Seluruh tirtha tersebut digabung jadi satu. “Kemudian, tirtha punika ketunas oleh para pemedek untuk kerahayuan jagat” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika