Pengempon memiliki tanggung jawab penuh dalam menjaga kelestarian dan keindahan Pura Rambut Siwi, memastikan kenyamanan para pemedek (pengunjung) yang datang untuk bersembahyang dan merasakan ketenangan spiritual.
Memasuki kawasan Pura Rambut Siwi, konsep Tri Mandala menyambut pengunjung. Nista Mandala seluas 1 hektar, termasuk lahan parkir, menjadi area pertama yang dilalui. Di sini akan menemukan berbagai fasilitas penunjang seperti toilet dan warung makan.
Selanjutnya, Madya Mandala, area yang lebih suci, menjadi tempat berdirinya beberapa pura, seperti Pura Melanting, Pura Dalem Ped, dan Pura Gading Wani. Di area ini, suasana spiritual semakin terasa, menandakan kedekatan dengan tempat suci utama.
Kemudian pada areal Utama Mandala, tempat di mana Pura Luhur Rambut Siwi, pura utama kompleks ini, berdiri megah.
Di sinilah konon rambut suci Dang Hyang Dwijendra, seorang pendeta Hindu yang dihormati, disimpan.
Keberadaan rambut suci ini menjadi daya tarik utama Pura Rambut Siwi dan diyakini sebagai penjaga keharmonisan dan keseimbangan alam di Bali Barat.
Pujawali Pura Luhur Dang Kahayangan Rambut Siwi jatuh setiap Buda Umanis Perangbakat, Umat Hindu yang nangkil datang dari sejumlah wilayah di Bali.
Mereka berbondong-bondong untuk nangkil memohon kerahayuan.
Klian Pengempon Pura Rambut Siwi, I Gusti Made Sedana mengatakan Pujawali nyejer selama lima hari.
Sebelum pelaksanaan pujawali, pengempon dari Kecamatan Mendoyo, dimulai dari ritual pecaruan lan ngebejian.
Baca Juga: Pura Rambut Siwi Jembrana: Rambut Dang Hyang Dwijendra Cikal Bakal Nama Pura
Rangkaian upaeara ini didahului oleh pangulapan serta menurunkan pratima (arca) dari meru tumpang tiga untuk diberi busana dan hiasan dengan bunga-bungaan, kemudian selanjutnya kalinggihang (ditempatkan) di bale Pelik diiringi kidung (nyanyian).
Apabila odalan nadi, upaeara selanjutnya adalah ngabejiang yaitu masuci ke pura Beji yang letaknya tidak jauh dari pura Rambut Siwi.
“Pada waktu itu dengan diiringi gambelan dan suara kidung yang merdu, pratima tersebut diatas diarak menuju ke pura Beji,” katanya.
Arca yang disimpan pada meru tumpang tiga tersebut diatas, jumlahnya ada empat buah. Sebuah arca berbentuk laki dan tiga buah yang lainnya berbentuk pradana (Perempuan).
Dijelaskan bahwa arca yang berbentuk purusa (laki-laki) adalah arca Bhatara Sakti.
Kemudian ada sebuah arca yang berbentuk perempuan adalah Bhatara lstri Lingsir (Ida Ratu lstri Lingsir) dan dua buah arca lainnya adalah Bhatari Anom (Ida Ratu Anom).
Baca Juga: Catat!! Ini Pujawali di Pura Batu Meringgit
Keempat arca itu diyakini sebagai arca dari Danghyang Nirartha beserta istri dan kedua putrinya
“Selain di Pura Luhur dan Pura Penataran, di masing-masing Parahyangan seperti di Pura Pesanakan Ratu Nyoman, Pura Taman Beji, Pesanakan Melanting, Pura Goa Tirta, Pura Goa Dasar, Pesanakan Dalem ped serta Pesanakan Gading Wani juga digelar pemuspaan,” tutupnya (dik)
Editor : I Putu Mardika