Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Tirta Harum Serangan Denpasar: Perpaduan Hindu-Budha, Telaga Bermula dari Percikan Air  

I Putu Mardika • Kamis, 9 Mei 2024 | 22:59 WIB

 

Pura Tirta Harum Serangan di Denpasar Selatan, sebagai perpaduan antara Hindu dengan Budha
Pura Tirta Harum Serangan di Denpasar Selatan, sebagai perpaduan antara Hindu dengan Budha
JEMBRANA EXPRESS-Pura Tirtha Harum yang terletak di Desa Adat Serangan Kecamatan Denpasar Selatan menjadi potret tempat suci yang mencerminkan moderasi beragama.

Di pura ini terdapat dua keyakinan yakni Hindu dan Budha yang berdampingan. Tak berlebihan, kedua keyakinan inipun disebut-sebut sebagai sinkretisme (perpaduan) antara Hindu-Budha.

I Wayan Leder selaku pengempon Pura Tirtha Harum menceritakan jika keberadaan pura ini memiliki sejarah panjang.

Ia menyebutkan, dahulu terdapat dua orang raja yang diutus dari candi Prambanan untuk menyelamatkan tepi sirang (pesisir pantai selatan) yang berada di hutan dari sebuah bencana.

Namun ternyata di tengah hutan ini terdapat seorang yang sakti dan tidak tertandingi yang disebut bernama Nyi Roro Kidul.

Kedua raja ini tidak mampu menghadapi serangan tersebut. Pada saat berperang mereka mengalami kekalahan dan akhirnya beliau lari menuju tepi pantai.

Ketika sedang berada di tepi pantai beliau melihat perahu yang jumlahnya sangat banyak dengan pasukan yang berasal dari Cina.

Baca Juga: Pujawali di Pura Rambut Siwi saat Buda Prangbakat: Ada Prosesi Nedunang Pratima

Pasukan ini adalah utusan dari Budha untuk menyelamatkan bencana pesisir pantai, dengan visi dan misi yang sama dari kedua utusan tersebut akhirnya raja ini bergabung dengan pasukan Cina dan pergi berlayar ke Bali hingga sampai di laut Serangan.

“Maka dari itu pada tahun 1952 dibangunlah sebuah Pura dan Konco yang merupakan perpaduan antara dua kebudayaan yaitu Hindu (Siwa) dan Budha,” katanya.

Setelah dibangunnya Pura ini, I Wayan Leder menemukan sebuah keanehan pada tahun 2007. Ia bersama masyarakat lainnya menemukan sebuah batu yang mengapung di dekat hutan bakau yang beratnya sekitar 40 kg.

Kemudian untuk memindahkan batu tersebut dibutuhkan 10 orang untuk memindahkan batu itu ke sebuah tepi.

Namun pada saat sore menjelang malam (sandikala) dari tempat ditemukannya batu tersebut. Masyarakat tiba-tiba melihat percikan mata air yang keluar dengan bau yang sangat harum dan tidak lama kemudian mata air tersebut berhenti dengan sendirinya.

“Dari kejadian inilah akhirnya telaga yang berada di dekat Pura Tirtha Harum digunakan sebagai alternatif untuk sarana pengobatan,” sebutnya.

Selain itu perpaduan atau sinkritisme dari budaya Hindu dan Budha ini masih tetap terjalin dengan baik sampai saat ini mengingat adanya persamaan misi dari leluhur nenek moyang. 

Walaupun kedua budaya ini dipadukan namun masyarakat pengempon pura tidak melupakan adat dari masing-masing agama dengan diadakannya perayaan hari suci pada kedua tempat suci ini.

Misalnya saja pada Pura Tirtha Harum piodalannya jatuh pada Anggarakasih Prangbakat dengan menggunakan sarana upakara berupa bebantenan.

Sedangkan pada Konco biasanya dirayakan pada hari raya Imlek yang jatuh pada bulan februari dengan sarana persembahyangan berupa buah – buahan, uang kertas dan dupa.

Baca Juga: Pura Rambut Siwi Jembrana: Rambut Dang Hyang Dwijendra Cikal Bakal Nama Pura  

“Pangempon dan pamedek yang saling menghormati dari kedua budaya tersebut hingga sampai saat ini harus tetap mampu untuk dilestarikan keberadaannya,” paparnya.

Ada sejumlah pelinggih yang terdapat pada utama mandala (jeroan).

Diantaranya Palinggih Puncak Giri yang merupakan palinggih utama yang terdapat pada Pura Tirtha Harum.

Pada palinggih ini yang bersthana adalah Dewa Siwa beserta dua Bidadari penjaga telaga yang terdapat di sebelah barat.

Kemudian, Palinggih Gedong Sari adalah tempat bersthananya Sang Hyang Rambut Sedana. Palinggih ini biasanya sebagai tempat pemujaan oleh masyarakat untuk memohon kemakmuran.

Palinggih Gunung Agung yaitu sebuah simbol atau pasimpangan dari dewa yang bersthana di Gunung Agung.

Selanjutnya Palinggih Tirtha di sampingnya terdapat sumur yang airnya digunakan sebagai sarana upacara yaitu tirtha. Pada palinggih ini yang bersthana adalah Dewa Wisnu.

Palinggih Taru, pada palinggih ini yang bersthana adalah Sang Hyang Taru Sakti. Palinggih Sloka adalah tempat pemujaan terhadap Dewi Saraswati yang merupakan dewi dari ilmu pengetahuan.

Menariknya, di areal Konco terdapat beberapa patung yaitu Dua Patung Singa yang ada di depan konco ini merupakan simbol penjaga pintu masuk, yang diyakini dapat mencegah kekuatan negatif. 

Tikong adalah simbol dari dewa langit untuk memohon keharmonisan alam.

Patung Ratu Mas Manik Subhandar, yang berwujud seorang pendeta yang bertubuh pendek dan dipercayai oleh masyarakat sebagai simbol dari dewanya para pedagang.

Baca Juga: Konco Pura Taman Gandasari :Tidak ada Pemaksaan Sembahyang di Pelinggih Hindu

Patung Dewi Kwan Im adalah patung yang berwujud seorang dewi yang memiliki sifat welas asih terhadap semua makhluk hidup.

“Ada juga Patung Dewa Bumi merupakan simbol dari dewa kesuburan. Sebuah kendi yang dijadikan tempat pembakaran uang kertas yang ditujukan kepada leluhur,” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#serangan #beragama #hindu #hindu bali #Moderasi #Pura Tirta Harum #pura #bali #denpasar #budha