Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Melukat di Pancoran Solas Taman Mumbuk Sangeh: Ada Sebelas, Ini Dewa-Dewi yang Berstana

I Putu Mardika • Sabtu, 11 Mei 2024 | 16:39 WIB

 

Pancoran Solas Tirta Mumbul Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung
Pancoran Solas Tirta Mumbul Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung
JEMBRANA EXPRESS-Pancoran Solas Taman Mumbul yang terletak di Desa Adat Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali selalu ramai didatangi umat Hindu Bali untuk melukat. Sumber mata air di kawasan inipun sangat disucikan, karena kerap digunakan sebagai sarana ritual.

Tidak sulit mencari tempat pelukatan Pancoran Solas Taman Mumbul. Posisinya tak jauh dari ruas jalan Sangeh-Mambal.

Posisinya persis 50meter ke arah timur. Sebelah utara jalan di depan pura pancoran solas terdapat sumber mata air yang menyerupai danau dengan air yang jernih.

Kemudian di sisi Selatan jalan, terdapat kompleks pura lengkap dengan pancoran berjumlah sebelas. Areal inilah yang dijadikan sebagai tempat untuk penglukatan bagi pemedek yang berkunjung. Kondisinya sudah sangat tertata rapi.

Bendesa Adat Sangeh I Gusti Agung Putu Adi Wiputra menjelaskan, Tirta Taman Mumbul terbentuk dari sumber air (klebutan) sehingga terbentuknya sebuah danau kecil.

Karena air yang terdapat di dalam danau tersebut merupakan air murni yang keluar dari bawah tanah.

Baca Juga: Mau Nangkil ke Pura Sakenan? Ini Dewa-Dewi yang Berstana di areal Utama Mandala

Pada awal mulanya Tirta Taman Mumbul digunakan masyarakat setempat sebagai pemandian umum.

Termasuk juga digunakan untuk kebutuhan sehari-hari contohnya seperti mencuci, minum, makan, beternak dan lain sebagainya.

“Dari dulu sampai saat ini tempat tersebut juga sering digunakan sebagai tempat untuk Melasti, diantaranya yaitu dari Kecamatan Petang dan juga Kecamatan Abiansemal yaitu kurang lebih sepuluh Desa Adat” jelasnya.

Di Tirta Taman Mumbul terdapat pura yang terletak di sebelah utara yang bernama Pura Ulun Suwi dan ada juga pura yang terletak di dalam danau. 

Pura yang terletak di dalam danau tersebut sudah ditemukan sejak dulu yang bersamaan dengan danau tersebut. Pasalnya, air itu sangat diperlukan untuk mengairi sawah hingga 300 hektar.

Sumber air dari penglukatan ini diambil dari tiga sumber air atau istilah balinya klebutan yaitu Diambil dari klebutan yang berada di sebelah utara danau atau kolam besar Taman Mumbul, dimana terdapat beji yang berisi sumber mata air yang keluar dari tanah.

Sumber air yang kedua yaitu berasal dari sumber air yang berada di dalam Pura Taman Pancaka Tirtha, yang berada di dekat lokasi penglukatan.

Terakhir adalah sumber air besar yang berada di sebelah barat danau di Taman Mumbul.

Penglukatan pancoran solas Taman Mumbul ini memiliki sebuah konsep penempatan areal pengambilan air yang dimana disebut dengan Tri Mandala, yaitu sebelah utara jalan raya, dari utara danau disebut Tirtha Mandala.

Airnya dipergunakan untuk kegiatan upacara keagamaan yang berhubungan langsung dengan Tuhan. Seperti mendak tirtha, melasti, dan juga nyegara gunung.

Dari jalan raya sampai sungai disebut dengan Toya Mandala.

Baca Juga: CATAT Sepuluh Pura untuk Nunas Pratisentana di Bali: Pelinggih Lingga Yoni Simbol Kesuburan

Fungsi airnya untuk penglukatan dalam hal ini untuk ritual pemandian tubuh manusia.

Dari sungai ke selatan disebut dengan Yeh Mandala, yaitu sisa dari semua pembuangan air ini dipergunakan untuk sumber irigasi sekitar 300 hektar sawah.

Sesuai namanya, Pancoran Solas memiliki 11 (sebelas) pancoran. Setiap pancoran merupakan simbol dari kekuatan Tuhan.

Ini merupakan simbol dari kekuatan Dewata Nawasanga yang menjadi sembilan penjuru mata angin.

Mulai dari pancoran yang paling kiri atau yang paling utara yaitu simbol dari Dewa Siwa, Dewa Sambu, Dewa Sangkara, Dewa Rudra, Dewa Maheswara, Dewa Wisnu, Dewa Mahadewa, Dewa Brahma, Dewa Iswara dan ditambah lagi dua pancoran yaitu pancoran yang sebagai simbol kekuatan Dewi Saraswati dan Dewi Gangga.

Dipilih Dewata Nawa Sanga dikarenakan memiliki filosofi sebagai sembilan Dewa atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Tujuannya untuk menjaga keharmonisan alam baik alam mikrokosmos maupun alam mikrokosmos yang ada dalam tubuh manusia untuk menjaga kestabilan fungsi organ dalam diri manusia.

Dewi Gangga sebagai Dewi Kesuburan dalam hal ini adalah air dan ditambah dengan Dewi Saraswati.

Dipilih Dewi Saraswati dikarenakan melambangkan ilmu pengetahuan yang cocok untuk para pelajar atau sisya yang sedang berjuang dan bergelut di dunia pendidikan untuk memohon penganugrahan ilmu pengetahuan.

Terdapat pula pelinggih yang berada di area Penglukatan yaitu pelinggih Konco yang berstana Ratu Dewi (Dewi Kwan Im) dan Juga Ratu Niang Sakti.

Pemangku yang biasanya membantu memimpin ritual penglukatan di Taman Mumbul ini merupakan para pemangku dari Pura Khayangan Tiga Desa Adat Sangeh.

Dimana satu hari penglukatan didampingi 2 (dua) pemangku, satu di pagi hari dari jam 07.00-13.00 wita dan satu lagi di sore hari yaitu di jam 13.00-19.00 wita.

Setiap bulan para pemangku yang ngayah diberi upah atau apresiasi dari pihak pengelola. Dalam artian penglukatan Pancoran Solas Taman Mumbul tidak memiliki pemangku khusus.

“Penglukatan biasanya didatangi lonjakan pemedek pada hari-hari besar Agama Hindu, seperti contohnya Galungan, Kuningan, Tilem, Purnama, Banyu pinaruh dan Kajeng Kliwon,” ungkapnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#hindu #melukat #hindu bali #pura