Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ini Alasan Nyapuleger di Pura Siwa Manik Dalang dimulai Jejeg Ai

I Putu Mardika • Senin, 13 Mei 2024 | 20:50 WIB

Prosesi melukat bagi yang kelahiran wuku Wayang di Pura Siwa Manik Dalang yang dipimpin pemangku di areal paduraksa
Prosesi melukat bagi yang kelahiran wuku Wayang di Pura Siwa Manik Dalang yang dipimpin pemangku di areal paduraksa
JEMBRANA EXPRESS-Prosesi Nyapuleger di Pura Siwa Manik Dalang, Desa Pemaron, Kecamatan/Kabupaten Buleleng, Bali saat Wuku Wayang berlangsung dari pukul 11.00 Wita hingga selesai. 

Sekertaris Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang, Nyoman Sudiarta menjelaskan Prajuru Pura Pemaksan Siwa Manik Dalang Pemaron juga melibatkan Jro Dalang dalam upacara Nyapu Leger.

Dengan catatan, mereka disebut sebagai Dalang Samirana dan paham tentang Dharma Pewayangan.

Sudiarta menyebut Jro Dalang yang kerap dilibatkan dalam Nyapu Leger rata rata berasal dari Buleleng dan berbagai wilayah di Bali.

Ada dari Banjar, Anturan, Tukad Mungga, Desa Pemaron hingga dari Air Sanih.

Baca Juga: Lahir di Wuku Wayang? Bisa Nyapuleger di Pura Siwa Manik Dalang

“Dalangnya yang ditunjuk itu dikordinasi oleh prajuru. Secara bergiliran dalam satu Minggu saat Wuku Wayang. Durasinya memang sangat ditentukan oleh para dalang dalam nyolahang wayang” jelasnya.

Ia menambahkan, prosesi atau pailen acara Nyapu Leger di Pura Siwa Manik Dalang biasanya dimulai dari jam 11.00 siang sampai selesai.

Pertimbangannya memang karena mencari waktu kala sehingga melewati jejeg ai atau pukul 12.00 Wita.

Banten Nyapu Leger disiapkan oleh Prajuru dari biaya yang dibebankan. Sedangkan peserta yang Nyapu Leger cukup hanya membawa banten Peras Pejati satu buah sebagai piuning.

Selain itu, mereka juga wajib membawa tirta upasaksi dan menggunakan saput poleng ketika ritual Nyapu Leger dilaksanakan.

Ritual ini dilaksanakan di areal Madya Mandala. Peserta yang diruwat  wajib mengenakan saput poleng di depan Bale Anyar tempat Dalang Samirana nyolahang Wayang Sapuh Leger.

Bebantenan juga sudah disiapkan di areal tersebut. Selain itu, ada pula pihak keluarga dari peserta yang turut menyaksikan proses ruwatan dilaksanakan.

Sementara berlangsung prosesi ruwatan, masyarakat atau pemedek yang bukan peserta Nyapu Leger juga bisa mengikuti persembahyangan secara bertahap yang dipimpin oleh para pemangku di Pura Siwa Manik Dalang.

Bagi yang hendak melukat karena terlahir di Wuku Wayang, mereka akan digiring ke depan Paduraksa yang merupakan batas antara Madya Mandala dengan utama Mandala.

Sudiarta menyebut, krama yang nangkil dan melukat disarankan untuk membawa banten Peras Pejati, peras Tataban, Tipat Gong dua, Ajengan, Bunga warna solas, Tunjung, Dadap dan Lalang.

“Nanti dilukat sama Jro Mangku,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Pura Siwa Manik Dalang #hindu #wayang #hindu bali #pura #dalang #bali