Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ngabeng di Pura Samuan Tiga: Dilaksanakan Anak-anak 15 hari sebelum Odalan

I Putu Mardika • Kamis, 16 Mei 2024 | 05:59 WIB

 

Tradisi Ngambeng di Pura Samuan Tiga serangkaian Pujawali
Tradisi Ngambeng di Pura Samuan Tiga serangkaian Pujawali
JEMBRANA EXPRESS-Setiap pujawali di Pura Samuan Tiga, Desa Adat Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar senantiasa dirangkaian dengan tradisi Ngambeng.

Prosesi yang diikuti oleh anak-anak maupun remaja ini bertujuan untuk mencari sarana upacara ke rumah-rumah penduduk di wilayah Desa Bedulu yang Menyungsung Pura Samuantiga.

Tradisi ini spontan dilakukan oleh anak-anak dan remaja ketika 15 hari sebelum pelaksanaan Piodalan di Pura Samuantiga dilaksanakan tanpa adanya perintah ataupun paksaan dari prajuru adat.

Tradisi ini biasanya berlangsung selama 7 hari, dan 8 hari sebelum pelaksanaan Piodalan di Pura Samua Tiga tradisi Ngambeng ini akan selesai dengan sendirinya tanpa ada perintah.

Hasil dari Ngambeng ini akan dikumpulkan untuk sarana perlengkapan Piodalan di Pura Samuantiga.

Tradisi Ngambeng di Pura Samuantiga Desa Bedulu merupakan Tradisi warisan yang telah dilaksanakan secara turun temurun dan dilaksanakan sejak dari berdirinya Pura Samuantiga.

Bendesa Pura Samuan Tiga, Gusti Ngurah Made Serana menjelaskan Tradisi Ngambeng merupakan tradisi sakral yang diyakini oleh masyarakat Desa Bedulu memiliki kekuatan magis dalam pelaksanaannya.

Berdasarkan cerita yang dituturkan secara turun temurun membuat masyarakat Desa Bedulu semakin kuat meyakini keberadaan tradisi Ngambeng.

Baca Juga: Rekam Jejak Maha Rsi Markandeya di Pura Gunung Raung Desa Taro

Konon, tradisi Ngambeng mulai dilaksanakan ketika masyarakat di Desa Bedulu mengalami kesulitan untuk mendapatkan sarana upacara untuk upacara di Pura Samuan Tiga Desa Bedulu yang diakibatkan oleh adanya bencana Gunung Batur meletus tahun 1917.

“Tradisi Ngambeng dilaksanakan berdasarkan petunjuk gaib atau pawisik yang diterima oleh pamangku Pura Samuan Tiga Desa Bedulu. Sejak saat itu tradisi Ngambeng dalam upacara Dewa Yajna di Pura Samuan Tiga Desa Bedulu dilaksanakan secara turun temurun sampai sekarang,” jelasnya.

Sedangkan laba pura tidak memadai untuk menunjang proses pembangunan di pura tersebut. Serangan hama juga ikut memperburuk situasi pertanian di Desa Bedulu sehingga ikut memperburuk keadaan perekonomian saat itu.

Masyarakat Desa Bedulu sangat meyakini tradisi Ngambeng memiliki kekuatan magis. Terdapat beberapa keyakinan magis yang dirasakan oleh masyarakat dan sudah terjadi sejak lama sampai sekarang.

Salah satunya adanya rasa bahwa ada yang mengendalikan anak-anak sebagai pelaksana tradisi Ngambeng (ngayah Ngambeng).

Adanya pengendali ini membuat mereka tidak merasa canggung atau merasa takut untuk memasuki rumah-rumah penduduk Desa Bedulu untuk Ngambeng.

Selain itu, Anak-anak yang ingin ikut serta dalam tradisi Ngambeng diyakini telah mendapat perlindungan dari Ida BhataraBhatari di Pura Samuan Tiga.

Hal buruk akan terjadi apabila ada anak-anak yang ingin ikut dalam pelaksanaan Ngambeng tetapi tidak diijinkan oleh keluarga atau orang tuanya dengan alasan keselamatan, keluarga atau orang tua yang melarang itu akan mengalami musibah.

Pangayah Ngambeng tidak akan berani berlaku curang. Apabila ada anak yang berani tidak jujur dalam melaksanakan Ngambeng maka pangayah tersebut akan mengalami gangguan seperti, sakit perut, luka pada tubuhnya, atau kejadian lainnya yang terkadang tidak masuk akal.

Masyarakat yang kedatangan anak-anak yang ngayah Ngambeng tidak akan berani tidak memberikan sesuatu yang dimiliki untuk mendukung upacara yajna di Pura Samuan Tiga.

Hal ini karena masyarakat Desa Bedulu sangat meyakini bahwa, apabila menolak atau tidak memberikan apapun kepada anak-anak yang ngayah Ngambeng maka sesuatu yang kurang baik akan dialami.

“Pangayah Ngambeng harus selalu berupaya menjaga etika dalam melaksanakan Ngambeng. Hal buruk akan terjadi apabila selama pelaksanaan Ngambeng melakukan kesalahan berbicara dan bertingkah laku” imbuhnya.

Ngambeng dilaksanakan mulai pagi hari sampai sore hari oleh kelompok anak-anak. Apabila bahan untuk menunjang pembuatan upakara dalamupacara Dewa Yajna belum dipandang cukup, makan Ngambeng akan dilaksanakan pada malam hari oleh kelompok dewasa.

Kelompok dewasa ini biasanya kelompok yang ditugaskan oleh panitia karya. Kelompok dewasa yang ditunjuk biasanya sekaha gong, sekaha angklung, atau sekha yang ngayah nunceg di Pura Samuan Tiga.

“Anak-anak datang ke Pura Samuan Tiga untuk melaksanakan persembahyangan. Anak-anak datang secara spontan tanpa diminta untuk ikut ngayah Ngambeng,” sebutnya. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bedulu #gianyar #hindu #hindu bali #ngambeng #Samuan Tiga #blahbatuh #pura #bali