Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

UNIK!! Ini tempat Suci Masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan.

I Putu Mardika • Sabtu, 18 Mei 2024 | 16:00 WIB

Pura di Desa Tenganan Pegringsingan
Pura di Desa Tenganan Pegringsingan
JEMBRANA EXPRESS-Di Desa Adat Tenganan Pegringsingan, Kecamatan Manggis, Karangasem ada tradisi madulu ke arah Kelod (Selatan) dan ke arah jalan (awangan). Tradisi ini tergolong unik, karena tidak ditemukan di Hindu Bali pada umumnya.

Hal ini dibuktikan dengan adanya tempar pemujaan berupa palinggih Kamulan (Sanggah Kelod), suatu bangunan suci beruang satu sebagai tempat memuja leluhur.

Tempat pendirian Sanggah Kamulan ini adalah di sebelah Selatan natar pekarangan. Kiblat terhadap tempat suci di arah Selatan ini, diyakini sebagai tradisi pengaruh sekte Indra

Kelian Adat Tenganan Pegringsingan Putu Suarjana menjelaskan, sebagai bentuk penghormatan Krama Tenganan kepada Bhatara Indra, maka oleh masyarakat setempat kemudian dibuatkan tempat pemujaan khusus dari tumpukan batu dalam bentuk bangunan suci yaitu di Pura Batan Celagi.

Selain itu ada juga upacara yang disebut sangkepan kilap (pertemuan dengan petir) yang diadakan pada sasih (bulan) Kanem dan Kapitu (Juli dan Agustus) menurut perhitungan dan adat setempat.

Dalam rapat (sangkepan) tersebut disertai dengan memanggil-manggil petir dengan kata Kaki Kilap.

“Kiblat ke arah jalan, dapat dibuktikan dengan pendirian Bale Buga dan Palinggih Pasimpangan yang berada di arah jalan (awangan) atau berdekatan dengan pintu keluar rumah,” katanya.

Tipe-tipe tempat suci yang berumur lebih tua mempunyai hubungan yang erat dengan cerita legenda tentang sejarah desa, yaitu mengenai matinya seekor kuda milik raja dari Bedahulu pada zaman dahulu.

Baca Juga: Legenda Asal Usul Terbentuknya Desa Tenganan Pegringsingan : Berawal dari Aswameda Yadnya, Kuda Oncesrawa sebagai Caru  

Pura atau tempat suci yang dimaksud diantaranya Kaki Dukun, merupakan tempat suci yang terdapat di bagian sebelah Utara desa. Hal ini tergolong unik dan tidak ditemukan di Bali pada umumnya.

Pura ini merupakan bentuk monolith yang menyerupai phalus (kemaluan) kuda yang dalam keadaan tegak.

Menurut anggapan masyarakat setempat apabila ada seorang/sepasang suami istri yang lama belum memeroleh keturunan dalam perkawinannya, maka mereka melakukan permohonan ke tempat suci Kaki Dukun itu agar memeroleh keturunan.

Batu Taikik, yaitu tempat suci yang terdapat di bagian sebelah Utara Desa Adat Tenganan Pegringsingan.

Bangunan ini berbentuk monolith yang terbesar di antara monolith-monolith yang ada di wilayah desa tersebut. Bentuk monolith ini dianggap sebagai bekal isi perut/kotoran kuda. Upacara yang dilakukan di sini bertujuan untuk memohon kemakmuran.

Rambut Pule, merupakan tempat suci yang terdapat di bagian sebelah Utara desa.

Baca Juga: Kesejahteraan dipertaruhkan jika Nekat Berpoligami di Tenganan

Monolith ini di samping merupakan onggokan yang tersusun dari batu-batu kali, juga dianggap sebagai bekas kepala dan rambut kuda.

Penimbalan, merupakan tempat suci yang terdapat di bagian sebelah Barat desa yang disebut Bukit Papuhun.

Bentuk monolith ini yang oleh masyarakat setempat dianggap sebagai bekas paha kuda. Sebagai upacara yang dilakukan di tempat suci ini adalah dalam rangkaian upacara Matruna Nyoman.

“Batu Jaran, merupakan tempat suci yang terdapat di sebelah Utara desa. Monolith ini oleh masyarakat setempat dianggap sebagai bekas matinya kuda,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#karangasem #hindu #indra #hindu bali #pura #Tenganan #Tenganan Pegringsingan #bali