Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Bukan Memohon Pesugihan, Ini Tempat Melukat di Tengah Hutan Cekik Gilimanuk

I Putu Mardika • Jumat, 24 Mei 2024 | 23:49 WIB

 

Pura Sumur Kembar di Hutan Cekik, ruas jalan Denpasar-Gilimanuk, Jembrana
Pura Sumur Kembar di Hutan Cekik, ruas jalan Denpasar-Gilimanuk, Jembrana
JEMBRANA EXPRESS-Pura Sumur Kembar merupakan sebuah sumur kuno peninggalan masa lampau. Letak pura ini berada di Alas Cekik, Gilimanuk.

Seperti namanya, Sumur Kembar, di pura ini ada dua buah sumur kembar yang diistilahkan lanang atau laki-laki dan wadon atau perempuan.

Butuh perjuangan untuk sampai di pura ini. Sebab, pemedek yang nangkil harus jeli melihat pelang kecil di ruas jalan Denpasar Gilimanuk.

Hanya ada jalan setapak yang kondisinya tidak diaspal dan bisa diakses dengan kendaraan roda empat.

Jalannya hanya selebar 3 meter, meski demikian tidak bisa kendaraan berpapasan. Karena berada di areal hutan, tentu di sepanjang jalan dipenuhi dengan pohon besar di kanan dan kiri jalan.

Seperti namanya sumur kembar ada dua buah sumur yang diistilahkan lanang (laki-laki) dan wadon (Perempuan).

Baca Juga: Mitos Cerita Dewa Gede Celak Kontong di Pura Kayu Putih: Berawal dari kisah kemaluannya ditarik oleh burung betet

Menariknya, lokasi ini diapit oleh dua buah setra (kuburan) masa lalu, yang kini kondisinya sudah lapang dan berupa semak belukar.

Lokasinya yang berada di tengah hutan dan jauh dari keramaian, akan membuat kesan angker. Terlebih bagi pemedek yang baru pertama kali nangkil ke Pura Sumur Kembar.

Suasana hening kian membuat bulu kuduk merinding.

Menurut penuturan Pemangku Pura Sumur Kembar, Putu Darmawa, pembangunan sumur kembar sendiri belum diketahui persis angka tahunnya.

Namun dari penuturan orang tua pendahulunya, sumur tersebut sudah ada sejak zaman Belanda.

“Kami belum tahu pasti angka tahunnya berapa. Tetapi secara turun temurun dari cerita pendahulu, katanya sumur itu sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Artinya usianya sudah ratusan tahun,” ungkapnya.

Namun, selama ini, Sumur kembar tersebut kerap disalahgunakan oleh orang-orang yang nangkil karena diidentikkan dengan tempat pesugihan. Stigma ini bahkan masih ada sampai sekarang.

Hal itu dengan tegas dibantah oleh Mangku Putu, karena pangelukatan pada dasarnya adalah tempat memohon pembersihan jasmani dan rohani.

Ia pun sangat menyayangkan adanya anggapan bahwa Pura Sumur Kembar tempat mencari pesugihan atau pengasihan.

Baca Juga: Pura Panca Tirta di Nongan: Jadi Tempat Nunas Keturunan, Ratusan Pasutri sudah Membuktikan

“Padahal, di pura ini menjadi tempat melukat untuk memohon Kesehatan, kesejahteraan. Jadi bukan untuk mendapatkan pesugihan, agar bisa kaya dengan cara cara yang instan. Tentu itu bertentangan dengan ajaran Hindu,” paparnya.

Ia menjelaskan, setiap ada yang bersembahyang di tempat ini, Mangku Darmawa selalu menekankan bahwa Pura Sumur Kembar adalah tempat suci, sehingga tidak boleh disalahgunakan untuk hal hal yang aneh, berkaitan pasugihan.

Jika dilihat secara seksama, ada dua sumur di areal Pura Sumur Kembar. Yakni Sumur Lanang dan Sumur Wadon. Posisinya berada mengapit pura, baik dari sisi kanan dan sisi kirinya.

Air suci di Pura Sumur Tirta Kembar disebut Tirta Jaya Kesuma. Untuk Sumur Lanang berada di sebelah kiri pura, dan diyakini berstana Ida panembahan Senopati Ingaloga.

Sedangkan sumur wadon yang berada di sisi kanan, merupakan stana dari Dewi Purbasari, Dewi Gendring Manik dan Dewi Ayu Petir.

Selain dua pelinggih, juga terdapat pelinggih sabda Palon, Ibu Ratu Sapuh jagat dan Bunda Ratu. Kemudian Ada juga Ratu Ayu Roro Wilis dan Ki Sentanu sebagai penglingsir areal pura.

Pujawali di pura ini berbarengan dengan Petilasan Mbah Temon yaitu satu syuro.

Umat meyakini dengan melukat di pura ini, dapat memohon pembersihan diri, agar segala rintangan dapat dihindari sehingga mampu mencapai tujuan hidup yang baik.

Apakah itu menyangkut jodoh, kesuksesan, maupun kesejahteraan.

“Ini jelas berbeda prinsipnya dengan pesugihan. Melukat kan mengikis kekotoran bathin, agar lebih terbuka memahami aspek ketuhanan, sehingga hidup menjadi lebih baik, dan memiliki tujuan hidup sejati untuk mencapainya,” jelasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#gilimanuk #jembrana #hindu #melukat #hindu bali #pura #Sumur Kembar