Begitu juga saat melukat di Pura Sumur Kembar, areal Hutan Cekik di kawasan Gilimanuk, Jembrana.
Jro Mangku Putu Darmawa mengatakan bagi yang ingin malukat, selain pejati adapun sarana yang dianjurkan dibawa. Sarana tersebut akan dipersembahkan dan digunakan dalam proses pelukatan.
Rinciannya, berupa bunga cempaka putih, bunga mawar merah, bunga sandat, bunga teratai biru, teratai putih, dan bungkak nyuh gadang atau kelapa muda hijau.
Sarana tersebut dibawa oleh masing-masing orang yang ingin malukat.
“Kalau pemedek ingin melukat, bisa disiapkan sarana itu,” ungkapya.
Di dalam areal pura terdapat permandian yang dibedakan untuk tempat mandi bagi pria dan Wanita.
Tetapi, harus menimba air di kedua air sumur dan mengisinya di tempat yang telah disediakan. Setelah itu barulah dilukat oleh pemangku di kedua sumur.
Selain umat Hindu dari Bali, banyak juga umat lain dari Jawa yang nangkil ke Pura Sumur Kembar. Mereka mempercayai keberadaan pura tersebut, dan melakukan penglukatan.
Dari beberapa pengalaman, kebanyakan umat yang nangkil datang pada malam hari, saat hari hari tertentu, seperti purnama, tilem dan hari suci lainnya.
Baca Juga: Panglukatan Pura Panca Tirta di Desa Nongan: Empat Mata Air untuk Melukat, Satu Berkhasiat Obat
Pertimbangannya karena merasa lebih kusyuk dan tidak diganggu kera yang ada di kawasan pura. Selain melukat di pura sumur kembar, umat yang nangkil juga bisa melukat di areal Pantai, karean pura ini dekat dengan Pantai.
“Jadi pemedek yang nangkil tidak hanya dari Bali, tetapi Jawa juga. Mereka mendapat informasi itu ada dari mulut ke mulut, bahkan lewat media sosial,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika