Dikatakan Wayan Sukrata, di Pedawa memiliki tradisi mengumpulkan 11 warna air itu berasal dari 11 sumber berbeda.
Tradisi ini tak hanya bermaksud menjadikan air sebagai sarana ritual semata. Tetapi juga sebagai sarana pelestarian air dan lingkungan.
Baca Juga: Sakralnya Kayuan Bima di Desa Pedawa: Kerap digunakan Memohon Kekebalan
Prosesi mempersembahkan 11 sumber air menjadi syarat sebelum dimulainya upacara atau ritual besar seperti pernikahan, kematian, dan upacara agama lainnya.
Uniknya, sumber-sumber air ini berasal dari berbagai lokasi di areal Desa Pedawa.
sebelas sumber air ini didapatkan dari, pertama, rongga atau empul buluh bambu terutama jenis lokal.
Kedua, yeh paung batu atau air dari lubang batu, bisa batu apa saja asalkan ada genangan air di dalamnya.
Sumber yang ketiga, yakni dari paung bun atau lubang akar tanaman. Keempat, cacapan sember atau rembesan tepian sumur.
Kelima, air belahan tukad atau ujung pertemuan dua sungai. Keenam, apit munduk atau cekungan di antara dua tanah tinggi. Ketujuh, yeh anyar atau air bersih dari pancuran.
Selanjutnya sumber kedelapan, yeh mare tumbuh atau air bersih yang baru keluar dari pangkal pancuran. Kesembilan, yeh lembuah atau air dari nasi yang didinginkan.
Sepuluh, tunggal ampel atau air di bekas potongan bambu.
Sebelas, yeh ampel atau air di sisa potongan bambu. Jika upacara sudah dibuka dengan 11 warna air ini artinya menghormati pertiwi. Upacara ini dilakukan di rumah-rumah penduduk Desa Pedawa
Misal sebelum nikah, lima hari sebelumnya dilakukan ritual meneduhkan karang, untuk mengaktifkan energi.
Ada juga tradisi mecaru, tapi ini setelah upacara ditujukan bagi energi bhuta kala untuk menyeimbangkan. Nah, air dari sebelas tempat inilah yang digunakan.
Sebagai bentuk penghormatan, maka ada prosesi sabha nyenukin terhadap sumber-sumber mata air. Ritual ini dilaksanakan saat lelintihan nemu gelang.
Baca Juga: Busana unik Tari Rejang di Pedawa, Gunakan Kain Bebali
Jadi tidak tentu, bisa dilaksanakan lima tahun sekali. Yang terlibat seluruh masyarakat Desa Pedawa, baik desa Adat maupun Desa Dinas
Prosesi upacara Sabha Nyenukin ini dipusatkan di Pura Telaga Waja yang didalamnya terdapat sumber mata air disebut Tibun Derama.
Kemudian lokasi yang kedua adalah di Pura Dalem yang disebut Kayuan Bima.
“Sarana upacara dari Sabha Nyenukin sebut Sukrata bantennya biasa saja. Seperti banten pekelem. Kolam yang diupacarai adalah kolam yang terbentuk secara alami,” tutupnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika