Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Unik!!Sabha Nyenukin cara orang Pedawa Memuliakan Air, Ada 11 Sumber Mata Air Sakral

I Putu Mardika • Sabtu, 25 Mei 2024 | 18:57 WIB

Menjaga sumber mata air sebagai upaya penghormatan terhadap air di Pedawa
Menjaga sumber mata air sebagai upaya penghormatan terhadap air di Pedawa
JEMBRANA EXPRESS-Desa Pedawa memiliki ritual adat yaitu, Sabha Nyenukin sebabagi bentuk kecintaan terhadap kesucian sumber mata air, kayuan juga merupakan peninggalan leluhur yang harus dijaga kesakralannya. Termasuk Upaya mengumpulkan 11 warna air dari sumber mata air yang berbeda.

Dikatakan Wayan Sukrata, di Pedawa memiliki tradisi mengumpulkan 11 warna air itu berasal dari 11 sumber berbeda. 

Tradisi ini tak hanya bermaksud menjadikan air sebagai sarana ritual semata. Tetapi juga sebagai sarana pelestarian air dan lingkungan.

Baca Juga: Sakralnya Kayuan Bima di Desa Pedawa: Kerap digunakan Memohon Kekebalan

Prosesi mempersembahkan 11 sumber air menjadi syarat sebelum dimulainya upacara atau ritual besar seperti pernikahan, kematian, dan upacara agama lainnya. 

Uniknya, sumber-sumber air ini berasal dari berbagai lokasi di areal Desa Pedawa.

sebelas sumber air ini didapatkan dari, pertama, rongga atau empul buluh bambu terutama jenis lokal.

Kedua, yeh paung batu atau air dari lubang batu, bisa batu apa saja asalkan ada genangan air di dalamnya.

Baca Juga: Pura Goa Selonding di Desa Pecatu Yang Jadi Salah Satu Petilasan Dang Hyang Nirartha Di Bali, Kerap Muncul Suara Gaib Mirip Dengan Gamelan Selonding

Sumber yang ketiga, yakni dari paung bun atau lubang akar tanaman. Keempat, cacapan sember atau rembesan tepian sumur.

Kelima, air belahan tukad atau ujung pertemuan dua sungai. Keenam, apit munduk atau cekungan di antara dua tanah tinggi. Ketujuh, yeh anyar atau air bersih dari pancuran.

Selanjutnya sumber kedelapan, yeh mare tumbuh atau air bersih yang baru keluar dari pangkal pancuran. Kesembilan, yeh lembuah atau air dari nasi yang didinginkan.

Sepuluh, tunggal ampel atau air di bekas potongan bambu.

Sebelas, yeh ampel atau air di sisa potongan bambu. Jika upacara sudah dibuka dengan 11 warna air ini artinya menghormati pertiwi. Upacara ini dilakukan di rumah-rumah penduduk Desa Pedawa

Misal sebelum nikah, lima hari sebelumnya dilakukan ritual meneduhkan karang, untuk mengaktifkan energi.

Ada juga tradisi mecaru, tapi ini setelah upacara ditujukan bagi energi bhuta kala untuk menyeimbangkan. Nah, air dari sebelas tempat inilah yang digunakan.

Sebagai bentuk penghormatan, maka ada prosesi sabha nyenukin terhadap sumber-sumber mata air. Ritual ini dilaksanakan saat lelintihan nemu gelang.

Baca Juga: Busana unik Tari Rejang di Pedawa, Gunakan Kain Bebali

Jadi tidak tentu, bisa dilaksanakan lima tahun sekali. Yang terlibat seluruh masyarakat Desa Pedawa, baik desa Adat maupun Desa Dinas

Prosesi upacara Sabha Nyenukin ini dipusatkan di Pura Telaga Waja yang didalamnya terdapat sumber mata air disebut Tibun Derama.

Kemudian lokasi yang kedua adalah di Pura Dalem yang disebut Kayuan Bima.

“Sarana upacara dari Sabha Nyenukin sebut Sukrata bantennya biasa saja. Seperti banten pekelem. Kolam yang diupacarai adalah kolam yang terbentuk secara alami,” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#sabha nyenukin #air #Banjar #buleleng #kayuan #bima #desa pedawa