Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Ritual Ngaturin Pasek Padang Subadra di Desa Tajun Buleleng, Wujud Bakti Leluhur Lewat Persembahan Sapi

I Putu Mardika • Senin, 7 April 2025 | 13:20 WIB
Ritual Ngaturin di Pura Pengaturan Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.
Ritual Ngaturin di Pura Pengaturan Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Krama Pasek Padang Subadra di Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng kembali melangsungkan tradisi tahunan Ngaturin.

 

Upacara ini digelar di Pura Pengaturan, Desa Tajun selama empat hari, mulai Kamis (3/4) hingga Minggu (6/4/2025), sebagai bentuk bhakti kepada para leluhur.

 

Ritual dilaksanakan setelah prosesi Nyeeb atau mekrama untuk pengantin baru, dan dilakukan sebelum Purnama Kedasa.

 

Yang menjadi ciri khas dari upacara ini adalah persembahan berupa sapi sebagai sarana utama. Tahun ini, total 22 ekor sapi dipersembahkan: 8 ekor pada Jumat (4/4), 7 ekor pada Sabtu (5/4), dan 7 ekor lagi pada puncaknya, Minggu (6/4).

Sapi-sapi tersebut merupakan wujud bakti dari krama Pasek Padang Subadra kepada leluhur mereka, yang persembahannya hanya bisa dilakukan apabila leluhur tersebut telah melalui prosesi ngaben. Jumlah sapi yang dipersembahkan pun berbeda setiap tahunnya, tergantung pada leluhur yang dipersembahkan.

 

Sejak pukul 09.00 Wita, krama sudah mulai berdatangan ke Pura Pengaturan membawa berbagai sesajen.

Meski berada bersebelahan dengan Pura Dalem Dasar, Pura Pengaturan memang khusus diperuntukkan bagi upacara Ngaturin oleh trah Pasek Padang Subadra.

 

Di pura tersebut, tujuh ekor sapi disembelih secara sakral. Krama laki-laki saling berbagi peran—ada yang bertugas sebagai penyembelih, ada yang mengolah daging, dan lainnya memasak di dapur upacara (pewaregan) sebelum makanan dibagikan kepada seluruh krama.

 

Tokoh adat setempat, Made Suyasa, menjelaskan bahwa upacara Ngaturin erat kaitannya dengan trah Pasek Padang Subadra, salah satu garis keturunan dalam sistem kewangsaan Hindu Nusantara yang dikenal memiliki akar dalam kepemimpinan spiritual dan kebangsawanan.

Nama "Padang Subadra" merujuk pada tokoh Mahabharata, Subadra—istri Arjuna dan ibu dari Abimanyu. Dalam konteks lokal, keturunan ini dipercaya merupakan perpaduan antara kasta ksatria dan brahmana.

 

“Keturunan Pasek Padang Subadra dikenal sebagai pemangku peran penting, baik dalam hal adat, kepemimpinan spiritual, maupun pelestarian ajaran dharma Hindu,” jelas Suyasa.

 

Mereka kerap menjadi pemangku, sulinggih, atau tokoh adat yang mengarahkan jalannya upacara-upacara sakral.

 

Diceritakan pula bahwa keberadaan Pasek Padang Subadra di Tajun berasal dari Desa Selulung, Kecamatan Kintamani, Bangli.

 

“Dulu mereka kesah dari Selulung ke Tajun, dan jumlahnya berkembang seiring waktu,” sambungnya.

 

Upacara Ngaturin, kata Suyasa, pada hakikatnya adalah bentuk penghormatan atau pelunasan hutang (rna) kepada leluhur. Dahulu, upacara ini baru bisa dilakukan ketika kedua orang tua sudah meninggal dan telah di-aben, namun kini lebih fleksibel. Jika salah satu orang tua sudah tiada, anak sudah bisa melaksanakan ritual ini sebagai bentuk penghormatan dan penyucian roh.

 

“Kalau suami istri sudah meninggal tapi tidak punya keturunan, maka kewajiban bisa dilanjutkan oleh kerabat terdekat atau semeton yang ikut dalam hak waris,” terang pensiunan pejabat Pemkab Buleleng itu.

Pemilihan sapi sebagai sarana utama dalam upacara bukan tanpa alasan. Di Desa Tajun, sapi disembelih sebagai persembahan, berbeda dengan di Selulung, Bangli, yang menggunakan prosesi melepaskan sapi. Namun secara makna, keduanya tetap sama.

 

“Sapi dalam ajaran Hindu adalah simbol kemakmuran, kesucian, dan kesuburan. Dalam konteks Ngaturin, persembahan sapi adalah doa agar keturunan tetap berlanjut dan berkah mengalir turun-temurun,” pungkasnya.(*)

 

Editor : Suharnanto
#desa tajun #pasek padang subadra #buleleng #ritual ngaturin