Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Menditeksi Penyakit Lewat Tenung Pelelintangan, Ini Penjelasan Penekun Usada Bali Gede Sutana, S.Kes,M.Si

I Putu Mardika • Kamis, 10 April 2025 | 14:34 WIB
Warga asing berobat dengan cara tradisional di Bali.
Warga asing berobat dengan cara tradisional di Bali.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Di tengah modernisasi ilmu kesehatan, Bali menyimpan warisan pengobatan yang tak kalah menarik: Tenung Pelelintangan.

 

Bukan sekadar ramalan, sistem ini adalah bagian dari pranata mangsa yang hidup dalam keseharian masyarakat Bali—sebuah pengetahuan turun-temurun yang mampu menafsirkan kecenderungan penyakit berdasarkan waktu lahir seseorang.

 

Gede Sutana, S.Kes., M.Si, seorang penekun Usada Bali, menyebut pelelintangan sebagai panduan spiritual, bukan mistik semata.

 

“Ini bukan tentang menakut-nakuti, melainkan membuka pemahaman tentang diri dan potensi gangguan kesehatan, baik fisik maupun mental,” ujarnya.

Sistem pelelintangan bersandar pada astrologi Hindu-Bali, dengan membagi tahun menjadi 12 mangsa atau musim.

 

Setiap mangsa merepresentasikan karakter dasar, potensi fisik, hingga kerentanan penyakit dari seseorang yang lahir dalam periode tersebut.

 

Ambil contoh mereka yang lahir pada Mangsa Kasa (23 Juni–2 Agustus). Orang-orang ini biasanya memiliki tubuh bulat, wajah ramah, dan kecerdasan alami.

 

Namun, sejak kecil kerap menghadapi gangguan di area liver dan perut, serta berisiko mengalami masalah dada saat dewasa.

 

Sementara itu, kelahiran Mangsa Karo (3–25 Agustus) mencerminkan sosok yang dominan dan bertubuh tegap.

 

Sayangnya, sifat keras kepala yang melekat justru menjadi titik rawan, sering membawa luka fisik maupun batin.

“Mereka cenderung menantang keadaan, dan itu bisa berdampak pada kondisi psikis, bahkan memicu gangguan kejiwaan,” tambah Sutana.

 

Mangsa Ketiga (26 Agustus–18 September) melahirkan pribadi yang sensitif dan sering memendam perasaan.

 

Tak heran jika gangguan paru-paru dan kesulitan tidur jadi masalah umum bagi mereka.

 

Yang menarik, sistem ini masih menjadi acuan di berbagai desa Bali. Orang tua tidak jarang mempertimbangkan pelelintangan saat menamai anak atau menentukan pola asuh.

 

“Bagi kami, ini semacam cetak biru spiritual,” ucap Sutana.

 

Lalu, lahir pada Mangsa Kapat (19 September–13 Oktober) biasanya membawa bakat seni. Anak-anaknya bertubuh atletis, bersuara merdu, dan cocok jadi seniman.

 

Meski demikian, mereka rentan terhadap masalah lambung, tenggorokan, dan panas dalam.

 

Mangsa Kalima (14 Oktober–9 November) memberi tanda pada mereka yang emosional. Pria dalam kelompok ini cenderung rentan terhadap reumatik dan gangguan jantung,

sedangkan wanita lebih sering menghadapi masalah rahim dan keputihan.

 

Berlanjut ke Mangsa Kanem (10 November–22 Desember), dikenal menghasilkan pribadi berpikir logis dan tegas.

 

Namun, mudah tersinggung menjadi kelemahan mereka, disertai risiko gangguan tulang punggung dan sistem pernapasan.

 

Lahir di Mangsa Kapitu (23 Desember–3 Februari) ditandai dengan postur kurus dan wajah tegas. Mereka pekerja keras, tetapi cenderung malas olahraga.

 

Akibatnya, gangguan tenggorokan, kulit, hingga masalah jantung ringan bisa muncul.

 

Sementara Mangsa Kawulu (4–28 Februari) menghasilkan anak-anak berkarisma tinggi sejak dini, tapi mudah tersinggung.

 

Kesehatan mereka sering terganggu pada bagian tulang belakang, mata, serta sistem peredaran darah.

 

Orang-orang Mangsa Kasanga (2–26 Maret) biasanya bertubuh gemuk dan empatik. Namun, kekhawatiran yang berlebih membuat mereka rentan terhadap penyakit kulit, paru-paru, dan sendi.

Kelahiran Mangsa Kadasa (27 Maret–19 April) menghadirkan karakter penuh semangat dan keras kepala.

 

Jika tidak bisa mengelola emosi, mereka rawan terhadap masalah pencernaan, ginjal, dan jantung.

 

Mangsa Jiyestha (20 April–12 Mei) membawa sifat sabar dan kebijaksanaan. Tapi mereka juga akrab dengan sariawan, panas dalam, serta gangguan lambung dan kandung kemih.

 

Terakhir, Mangsa Saddha (13 Mei–22 Juni) mencerminkan pribadi tinggi besar dan pemikir tajam. Sayangnya, kecenderungan untuk terlalu banyak berpikir membuat mereka rentan sakit kepala, gangguan saraf, dan paru-paru.

 

Namun, semua ini bukan untuk menghakimi nasib. Sebaliknya, pelelintangan justru menjadi alat pencegahan dini.

 

“Kalau kita tahu kecenderungan penyakit kita sejak dini, maka langkah pencegahan bisa lebih tepat,” ujar Sutana.

 

Kini, sistem ini mulai menarik perhatian akademisi. Beberapa perguruan tinggi di Bali mulai memasukkan kajian tenung dan wariga dalam mata kuliah antropologi dan budaya lokal.

Dalam praktiknya, banyak balian—dukun tradisional Bali—yang mengombinasikan hasil pelelintangan dengan ramuan herbal, yoga, hingga meditasi cakra untuk membantu penyembuhan.

 

Bagi masyarakat Bali, tenung pelelintangan adalah lebih dari sekadar tradisi. Ia adalah cara menyatu dengan waktu dan memahami diri sebagai bagian dari alam semesta.

 

“Ini tentang mengenali posisi kita dalam kosmos, bukan sekadar melihat tubuh sebagai mesin yang rusak,” tutup Sutana dengan tenang.(*)

 

Editor : Suharnanto
#usada #menditeksi penyakit #bali #Tenung Pelelintangan