JEMBRANAEXPRESS.COM-Hari Raya Galungan yang jatuh pada Rabu (23/4/2025) mendatang bukan sekadar perayaan rutin bagi umat Hindu.
Lebih dari itu, Galungan adalah momen sakral untuk memperkuat diri dalam membedakan mana jalan kebenaran (Dharma) dan mana yang sebaliknya (Adharma).
Dalam perjalanan menuju hari suci ini, umat dihadapkan pada godaan dari Sang Kala Tiga—tiga kekuatan negatif yang turun menggoda manusia sejak Redite (Minggu) hingga Anggara (Selasa) Wuku Dungulan.
Ida Pandita Mpu Nabe Dwija Witaraga Sanyasa dari Geriya Taman Sari Asrama, Desa Kekeran, Busungbiu, menjelaskan bahwa Galungan adalah waktu terbaik untuk menumbuhkan kekuatan spiritual.
Melalui kekuatan ini, umat diharapkan mampu memilah dorongan positif dan negatif dalam dirinya, termasuk kecenderungan asura sampad atau sifat keraksasaan.
Lontar Sundarigama menyebutkan, "Budha Kliwon Dungulan ngaran Galungan, patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep.”
Artinya, Rabu Kliwon Wuku Dungulan disebut Galungan, hari untuk menyatukan jiwa dalam samadhi agar memperoleh pencerahan dan menjauh dari kekacauan pikiran. Di sinilah letak hakikat Galungan: kejernihan batin sebagai kemenangan Dharma atas Adharma.
Sebelum sampai ke puncak perayaan Galungan, umat Hindu melewati tiga tahapan penting: Panyekeban, Penyajaan, dan Penampahan.
Panyekeban: Menyepi dari Godaan
Pada Redite Paing Wuku Dungulan, disebutkan Sang Kala Tiga Wisesa mulai menggoda manusia. Karena itu, umat dianjurkan menenangkan pikiran, bermeditasi (anyekung jñana), agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan.
Orang-orang yang menjaga kesucian pikirannya (nirmala) dipercaya tak akan bisa diganggu oleh kekuatan negatif tersebut.
Di hari ini juga dilakukan “nyekeb”, yakni proses mematangkan buah seperti pisang atau tape, sebagai simbol pengendalian diri.
Buah-buahan yang sedang diproses itu mencerminkan pentingnya ketenangan dan kewaspadaan dalam menghadapi godaan spiritual.
Penyajaan: Persiapan dan Penguatan Niat
Dua hari sebelum Galungan, tepatnya pada Soma Pon Wuku Dungulan, umat memasuki hari Penyajaan.
Ini adalah waktu untuk menyiapkan berbagai jajan atau kue khas Galungan. Namun lebih dari sekadar aktivitas memasak, penyajian ini adalah simbol kesungguhan hati menyambut Galungan.
Pada hari ini, Bhuta Kala yang disebut Sang Bhuta Dungulan mulai menggoda dengan lebih kuat. Maka, umat disarankan untuk menjaga fokus, mempersiapkan banten (sesajen), dan memperkuat spiritualitas agar tak goyah oleh gangguan tersebut.
Hari ini juga disebut sebagai hari Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi—hari yang baik untuk pemujaan bagi mereka yang memahami makna yoga dan samadhi.
Penampahan: Menaklukkan Sifat Kebinatangan
Selasa Wage Wuku Dungulan adalah hari Penampahan, di mana dilakukan penyembelihan hewan seperti babi, ayam, atau itik.
Namun bukan sekadar ritual, penyembelihan ini mengandung makna simbolis: membunuh sifat-sifat kebinatangan dalam diri manusia, seperti tamak, amarah, dan keserakahan.
Hari ini juga disebut sebagai saat turunnya Bhuta Kala Amangkurat yang mencoba mengganggu niat suci umat untuk merayakan Galungan.
Oleh sebab itu, umat diingatkan agar menghindari pertengkaran dan memperkuat pengendalian diri.
Galungan: Saatnya Menang
Puncaknya adalah Budha Kliwon Wuku Dungulan—Hari Raya Galungan. Ini adalah waktu untuk bersyukur, bermeditasi, dan merayakan keberhasilan rohani dalam menaklukkan godaan dan kekacauan pikiran.
Persembahan utama ditujukan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dan leluhur di sanggah merajan, sebagai bentuk rasa syukur atas anugerah yang telah diberikan.
"Galungan adalah pengingat bahwa dalam setiap godaan selalu ada pilihan. Dan saat kita memilih Dharma, kita sedang menapaki jalan kemenangan sejati," tutup Ida Pandita.(*)
Editor : Suharnanto