JEMBRANAEXPRESS.COM-Lima hari setelah Hari Raya Galungan, umat Hindu merayakan Soma Pemacekan Agung, tepatnya saat Soma Kliwon Wuku Kuningan.
Hari ini dianggap sakral, terutama bagi mereka yang mendalami ilmu kawisesan atau spiritualitas Bali.
Menurut Jro Panca, penekun spiritual asal Bali, "Pemacekan Agung" berasal dari kata pacek (menancapkan tapa) dan agung (mulia atau kuat).
Momen ini merupakan bagian dari rangkaian Galungan dan Kuningan, sebagai upaya penguatan diri terhadap godaan Sang Kala Tiga.
Secara filosofis, hari ini menjadi pengingat akan kemenangan dharma atas adharma, serta komitmen untuk menjaga martabat kemanusiaan.
Dalam Lontar Dharma Kahuripan, Pemacekan Agung dijelaskan sebagai proses pemusatan tapa kepada Sanghyang Dharma.
Tradisi lainnya dijelaskan dalam Lontar Sundarigama, di mana saat sore hari umat menghaturkan segehan agung dan sambleh ayam semalulung di pintu keluar rumah untuk menetralisir energi negatif.
Soma Pemacekan Agung juga dikaitkan dengan aktivitas leak secara niskala. Pada malam sebelumnya, yaitu Redite Kuningan (Pemagpag Pemacekan Agung), para leak pemoroan (belajar tanpa sastra) sering melakukan pertemuan spiritual.
Sementara pada hari H, para leak yang belajar secara dharma (nyastra) melakukan ritual pembersihan terhadap pelanggaran etika dalam pengelakan.
Jro Panca menambahkan, terdapat pantangan bagi masyarakat umum, seperti tidak memotong rambut, kuku, atau keramas. Ini untuk menghindari kondisi "kekaranan" atau tubuh dipinjam oleh energi lain.
Bagi orang yang lahir saat Soma Pemacekan Agung, disarankan melakukan upacara ruwatan Bayuh Melik sebagai bentuk perlindungan.
Upacara ini diyakini mampu mengarahkan energi besar dalam diri agar tidak condong ke hal negatif.
“Kelahiran di hari ini ibarat magnet. Diharapkan menarik hal positif, bukan sebaliknya. Maka penting untuk menyucikan energi melalui ritual tersebut,” tutup Jro Panca.(*)
Editor : Suharnanto