Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Tradisi Unik Nyepi Uma di Desa Bungkulan Buleleng: Dilaksanakan di Sawah yang Melanggar Didenda

I Putu Mardika • Senin, 12 Mei 2025 | 01:04 WIB
Suasan Nyepi Uma di pesawahan Desa Adat Bungkulan Buleleng.
Suasan Nyepi Uma di pesawahan Desa Adat Bungkulan Buleleng.

JEMBRANAEXPRESS.COM-Tradisi unik bernama Nyepi Uma masih dijaga kuat oleh masyarakat Desa Bungkulan, Kecamatan Sawan, Buleleng.

 

Ritual Nyepi Uma bukan dilangsungkan di rumah, melainkan di areal persawahan, sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kepada alam agar terhindar dari serangan hama dan penyakit tanaman.

 

Nyepi Uma atau "Nyepi di Sawah" ini menjadi warisan budaya agraris yang digelar sehari penuh setelah Purnama Kedasa.

Pada hari pelaksanaan, seluruh aktivitas pertanian dihentikan. Warga dan petani dilarang memasuki area subak.

 

Siapa pun yang melanggar akan dikenai sanksi berupa denda, sesuai kesepakatan masing-masing kelompok subak atau tempek.

Setidaknya ada enam tempek subak yang melestarikan Nyepi Uma di Desa Bungkulan, yakni Subak Yeh Lembu, Lebeha, Dalem, Pungakan, Guliang, dan Yangai.

 

Setiap tempek melaksanakan rangkaian upacara suci yang dimulai dua hari sebelum Nyepi Uma.

 

 

Prosesi diawali dengan pengambilan tirta (air suci) di Pura Ulun Danu Batur. Tirta ini lalu dibagikan ke setiap subak untuk ritual lanjutan.

 

Saat Purnama Kedasa, krama subak menggelar upacara Ngayu-ayu, sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan doa untuk kelancaran musim tanam berikutnya.

Menurut tokoh adat Jro Koming, tradisi ini juga melibatkan ngulemin dan ngaturang piuning, yang merupakan bentuk permakluman kepada para dewa bahwa Nyepi Uma akan dilangsungkan.

 

Selain itu, masing-masing subak akan melaksanakan nuur tirta di tiga pura penting: Pura Batur, Pura Jati, dan Pura Sekwani.

 

Puncak ritual adalah upacara Meayu-ayu, yang menyertakan berbagai elemen seperti pependetan, tari tombak (petiasan), mider gita, rejang subak, dan pelebaran tirta.

Upacara ini menggunakan sarana banten utama seperti dedari pulagembal sekar taman, serta berbagai sesayut dan banten suci lainnya.

 

Selama Nyepi Uma, masyarakat hanya menerapkan dua prinsip utama dari Catur Brata Penyepian, yakni amati karya (tidak bekerja) dan amati geni (tidak menyalakan api).

 

 

Aktivitas di area persawahan benar-benar dihentikan agar alam bisa “beristirahat” sejenak. Hari berikutnya disebut Ngembak Geni, di mana aktivitas pertanian kembali normal.

 

Secara spiritual, makna Nyepi Uma tak jauh dari Nyepi tahun baru Caka: menyelaraskan Buana Agung (alam semesta) dan Buana Alit (diri manusia).

 

Namun yang membedakan adalah lokasi dan bentuk pelaksanaannya, karena seluruh aktivitas penyepian berpusat di lingkungan pertanian.

 

Tradisi Nyepi Uma di Bungkulan adalah simbol keharmonisan manusia dengan alam, penghormatan terhadap Dewi Sri, dan upaya melestarikan nilai-nilai agraris Bali yang sarat spiritualitas.

 

Tradisi ini juga menjadi potensi daya tarik budaya dan spiritual bagi wisatawan yang ingin menyaksikan kearifan lokal Bali yang otentik.(*)

 

Editor : Suharnanto
#tradisi unik #Purnama Kedasa #Nyepi Uma #buleleng #desa bungkulan