Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Nyepeg Sampi di Desa Adat Asak simbol Kemandarian Sekeha Truna

I Putu Mardika • Selasa, 20 Februari 2024 | 03:49 WIB

Tradisi Nyepeg Sampi di Desa Adat Asak, Desa Pertima, Kecamatan/Kabupaten Karangasem
Tradisi Nyepeg Sampi di Desa Adat Asak, Desa Pertima, Kecamatan/Kabupaten Karangasem
JEMBRANA EXPRESS-Selain bermakna religis magis yang bersifat spiritual, pelaksanaan Nyepeg Sampi pada khususnya dan Usaba Kaulu pada umumnya juga dapat memberi makna dan pembelajaran secara kolektif dan individu.

Dikatakan Kadek Agus Hermawan, kemandirian dan sikap gotong royong dapat tercermin dari pelaksanaan Usaba Kaulu yang murni dilakukan oleh Sekeha Teruna-Deha tanpa bantuan yang signifikan dari struktur Desa Adat diatasnya.

Dalam pelaksanaan tradisi nyepeg sampi, hal ini tercermin dari sikap teruna bilamana ada yang melanggar tata cara pelaksanaan nyepeg sampi yang benar (wajib membayar denda), maka mereka dengan jujur siap untuk membayarnya.

“Ketentuan denda ini sangatlah melatih dan menguji kejujuran, sebab denda akibat kesalahan pelaksanaan tradisi nyepeg sampi dijatuhi tidaklah dengan bukti keterangan saksi atau alat bukti lainnya selain pengakuan teruna yang bersangkutan,” ungkapnya.

Pelaksanaan tradisi nyepeg sampi dipercaya akan membawa kedamaian bagi masyarakat Desa Asak dan keharmonisan alam. Ini berarti bahwa bila tradisi ini tidak dilaksanakan maka masyarakat Desa Asak akan merasakan kedisharmonisan.

Tradisi nyepeg sampi murni bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam di lingkungan Desa Adat Asak. Pelaksanaan tradisi nyepeg sampi secara eksplisit juga telah diatur dalam lontar Kembal Truna

“Secara maknawi, tradisi Nyepeg sampi saat Usaba Aci Kaulu adalah kesucian, keseimbangan alam semesta ini” tutupnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#kaulu #Desa Adat Asak #Usaba #kemandirian #gotong royong #nyepeg sampi