Sebelum diresmikan dan di abhiseka menjadi Pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap, namanya dulu pelinggih tugu Ratu Nihang Segara yang perluasannya dimulai pada tahun 1996.
Pemangku Pura Luhur Candi Narmada, IB Made Sudana menjelaskan kala itu tegak pujawalinya bertepatan dengan rahinan Sugihan Bali (sukra kliwon sungsang) yang merupakan tegak piodalan Ida Bhatari Nihang Sakti.
“Meski demikian Perubahan tegak pujawali tersebut, tidak merubah kebiasaan menghaturkan persembahan yang sebelumnya telah mentradisi dilaksanakan hingga sampai dengan saat sekarang ini,” jelas Sudana.
Demikian pula dengan persembahan aci penyabran, aci pemehayu pujawali dipersembahkan menurut peraturan desa dan didasarkan atas tuntutan sastra agama serta tuntunan dari Sang Wiku.
Pelaksanaan persembahan, aci pemehayu, selalu dilaksanakan di Pura Luhur Candi Narmada Tanah kilap.
Prosesinya meliputi persembahan sehari-hari sebagai aci penyabran. Pemehayu piodalan nyeje-nyeje seperti Piodalan Bhatari Nihang Cakti pada rahinan Sugihan Bali (Sukra Kliwon Sungsang) setiap enam bulan.
Sedangkan bertepatan dengan hari Purnamaning Kasa dalam setiap tahunnya merupakan rahina piodalan pada Pura Luhur Candi NarmadaTanah kilap yang dapat diidentikkan dengan Ngusaba.
Pada piodalan di Pura Candi Luhur Candi Narmada Tanah Kilap selain warga Desa Pemogan Denpasar Selatan yang bersembahyang disini.
Banyak juga umat Hindu yang dari luar daerah Pemogan juga sembahyang dengan tujuan memohon kemakmuran, kerahayuan serta keselamatan.
Tak jarang juga umat Budha yang kebetulan melakukan persembahyangan di Klenteng Dwipayana.
Bahkan, yang masih berdarah orang Bali sering melakukan persembahyangan di pura Luhur Candi Narmada nangkil ke pura waktu berlangungnya piodalan Pelinggih-Pelinggih yang Terdapat di areal pura Luhur Candi Narmada Tanah Kilap. (dik)
Editor : I Putu Mardika