Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Buda Kliwon Pegatwakan: Disebut Nguncal Balung, Membuang Sifat Negatif Sang Kala Tiga

I Putu Mardika • Rabu, 3 April 2024 | 20:41 WIB

Penjor dibakar saat Buda Kliwon Pegatwakan, Wuku Pahang sebagai penada hari Raya Galungan Kuningan sudah usai
Penjor dibakar saat Buda Kliwon Pegatwakan, Wuku Pahang sebagai penada hari Raya Galungan Kuningan sudah usai
JEMBRANA EXPRESS-Buda Kliwon Pahang atau yang lazim disebut Buda Kliwon Pegatwakan yang jatuh pada Rabu (3/4) hari ini merupakan rangkaian akhir dari Hari Raya Galungan dan Kuningan.

Saat Pegatwakan juga umat Hindu umumnya mencabut penjor dan segala isinya, lalu dibakar dan abunya  dimasukkan ke dalam bungkak nyuh gading untuk di tanam di pekarangan rumah.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Buleleng, Nyoman Suardika, S.Ag, M.Fil.H menjelaskan, Buda Kliwon Pegatwakan secara etomologis berasal dari kata Pegat dan Wakan.

Pegat artinya putus atau bebas dan wakan itu adalah warah atau ucap.

Jadi pegatwakan itu dimaknai bahwa rangkaian upacara Galungan sudah berakhir, sehingga bebas dari pantangan-pantangan yang berlaku saat ini sesuai dengan warah-warah Hyang Widhi dalam manifestasinya Hyang Durga.

Dikatakan Suardika yang juga akademisi STAHN Mpu Kuturan Singaraja ini menambahkan, antara wuku Dunggulan sampai dengan Rabu Kliwon Pahang disebut Nguncal balung yang lamanya tiga puluh lima hari. Nguncal artinya melepas. Balung artinya tulang.

“Jadi, Nguncal balung artinya melepas atau membuang tulang atau melepaskan kekuatan atau telah dilepasnya kekuatan-kekuatan sifat-sifat kala dari Sang Hyang Kala Tiga, baik dalam wujud Purusa maupun pradhana yang tujuannya untuk kembali ke alam semia yaitu alam ketenangan,” jelasnya.

Suardika menambahkan, penjelasan tentang hari raya Pegatwakan ini termuat dalam Lontar Sundarigama, yaitu: Pahang, Buda Kliwon Pegatwakan, ngaran, pati warah panelasning mengku, biana semadi, waraning Dungulan ika, wekasing perelina, ngaran kalingan ika, pakenaning sang wiku lumekasang kang yoga semadi, umoring kala ana ring nguni, saha widi-widana sarwa pwitra, wangi-wangi, astawakna ring sarwa dewa, muang sesayut dirgayusa abesik, katur ring Sang Hyang Tunggal, panyeneng tatebus.

Terjemahannya: Buda Kliwon Pahang merupakan Hari Raya Pegatwakan. Disebut Pegatwakan karena saat itu adalah berakhirnya tapa brata. Sang wiku patut melaksanakan renungan suci.

Sarananya yaitu wangi-wangian dan sesayut dirgayusa dan dipersembahkan kehadapan Sang Hyang Tunggal, dan dilengkapi juga dengan penyeneng dan tetebus.

Disebut sebagai akhir melasanakan tapa brata. Yang dimaksud dengan tapa brata, ketika kita menimba ilmu pegetahuan, mendengarkan pengetahuan, pelaksanannya tapa brata itu sendiri. Jika dikaitkan dengan itihasa Mahabarata saat Arjuna mencari Panah Pasupati.

Kala itu,  yang mampu menggoda arjuna hanyalah Raksasa Momo Simuka yang menjelma menjadi seekor babi.

Secara filosofis Babi, memiliki makna sifat ketamakan. Tetapi, momo itu artinya wajah, karena di wajah ini terdapat indirya-indriya yang menerima pengetahuan

Seperti Caksu Indria atau indra penglihatan pada mata, Srota Indria atau indra pendengaran pada telinga.

Ghrana indria alat penciuman pada hidung, Jihwa Indria alat pengecap pada lidah dan Twak Indria alat peraba pada kulit.

Kelima panca indria ini diyakini bisa menerima pengetahuan. Semisal lewat pendengaran kita bisa menerima pengetahuan.

“Melakukan tapa brata, inilah melakukan pengendalian diri lewat panca indria. Nah selama Galungan dan Kuningan dilaksanakan, umat Hindu sudah melakukan tapa brata untuk mengekang hawa nafsu agar menang dari godaan Sang kala Tiga,” paparnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#Sang Kala Tiga #kuningan #Nguncal Balung #pegatwakan #galungan #buda kliwon pahang #penjor