JembranaExpress.Com - Polemik penutupan 13 akomodasi wisata di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, berdampak serius terhadap sektor pariwisata.
Konflik yang berujung pada pemasangan seng di areal persawahan milik petani menyebabkan tren kunjungan wisatawan mancanegara anjlok hingga 80 persen.
Baca Juga: Tanah Lot Art & Food Festival Kembali Digelar, Ada Parade Gebogan hingga Klinik Kuliner
Menanggapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Tabanan melalui Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menawarkan solusi berupa moratorium khusus bagi masyarakat lokal pemilik lahan agar tetap dapat menjalankan usaha di kawasan Subak Jatiluwih.
Moratorium ini dinilai sebagai jalan tengah untuk meredam polemik penutupan 13 akomodasi wisata yang disebut melanggar aturan tata ruang di kawasan warisan budaya dunia tersebut.
Manajer DTW Jatiluwih, I Ketut Purna, menyambut baik kebijakan tersebut.
Menurutnya, moratorium khusus ini menjadi angin segar bagi pemulihan industri pariwisata di Jatiluwih.
“Ini berita yang sangat bagus. Seng akhirnya dibuka atas inisiatif Bapak Bupati beserta jajarannya. Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tabanan yang telah memfasilitasi pencabutan seng ini,” ujar Ketut Purna, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga: Motor Sewaan Dijual Tanpa Izin, Anggota Polisi di Buleleng Jadi Korban Penggelapan
Pria yang akrab disapa Jhon itu mengungkapkan, sebelum seng dicabut, pihak pengelola kerap kesulitan menjawab pertanyaan wisatawan terkait pemasangan seng di tengah areal persawahan.
Untuk meredam kekhawatiran wisatawan, pengelola terpaksa menyampaikan bahwa seng tersebut dipasang untuk menghalau burung yang kerap merusak tanaman padi.
Selain kembali menyiapkan sarana dan prasarana pendukung wisata, pihak pengelola DTW Jatiluwih juga akan segera menyampaikan informasi pencabutan seng tersebut kepada berbagai pemangku kepentingan pariwisata.
Mulai dari Asosiasi Biro Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Bali, pelaku freelance pariwisata Jatiluwih, hingga sejumlah paguyuban pariwisata lainnya.
Baca Juga: Bupati Kembang Turun ke Tukadaya, Pantau Wantilan dan Pastikan Air Bersih Mengalir ke Warga
“Kami berharap ke depan tidak lagi terjadi konflik serupa di Jatiluwih. Dampaknya sangat besar terhadap sektor pariwisata. Sejak polemik ini mencuat, tercatat tiga wholesaler pariwisata dari Jerman dan Prancis menghentikan penjualan paket wisata ke Jatiluwih dengan alasan pertimbangan keselamatan wisatawan,” ungkapnya.
Berdasarkan data pengelola, akibat polemik tersebut jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke DTW Jatiluwih terjun bebas.
Dari sebelumnya mencapai 800 hingga 1.000 orang per hari, selama konflik berlangsung angka kunjungan merosot tajam menjadi sekitar 100 hingga 120 orang per hari.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa