Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Jerambah Gilimanuk, Warisan Kerja Sumber Hidup Puluhan Warga Sejak 1963 Yang Kini Dipersoalkan

I Gde Riantory Warmadewa • Kamis, 8 Januari 2026 | 13:26 WIB
Aktivitas pekerja jerambah di Dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk, Rabu (8/1/2026).
Aktivitas pekerja jerambah di Dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk, Rabu (8/1/2026).

JembranaExpress.Com – Di bibir Dermaga Landing Craft Machine (LCM) Pelabuhan Gilimanuk, suara besi beradu dengan lantai kapal menjadi irama harian.

Di sela hiruk-pikuk truk dan mobil yang antre masuk kapal, sekelompok pria berseragam biru muda setia mengangkat jerambah berupa gulungan tali kapal tebal yang menjadi jembatan kecil antara dermaga dan pintu kapal.

Bagi mereka, jerambah bukan sekadar alat bantu. Ia adalah penghidupan.

Baca Juga: Pemkab Klungkung Tata Ulang Pasar Galiran, Pedagang di Badan Jalan Ditertibkan

Salah satunya I Kadek Budiastika. Sejak pagi hingga malam, Kadek bersama rekan-rekannya bekerja bergantian selama 24 jam penuh.

Tangannya cekatan memindahkan jerambah, matanya awas memberi aba-aba pada sopir truk yang kesulitan melintas.

“Bapak saya mulai bekerja jerambah sejak tahun 1963. Saya meneruskan, sudah lebih dari 20 tahun di sini,” kata Kadek pelan, Kamis (8/1/2025).

Belakangan, pekerjaan yang telah diwariskan lintas generasi itu mendadak ramai diperbincangkan di media sosial. Jasa jerambah dituding sebagai pungutan liar.

Baca Juga: Angin Kencang Picu Dua Pohon Tumbang di Buleleng, Akses Jalan Sempat Terganggu

 Tuduhan itu terasa menyesakkan bagi para pekerja yang selama ini bergantung pada dermaga untuk menghidupi keluarga.

Jerambah yang mereka gunakan bukan keset biasa. Gulungan tali kapal berukuran besar itu dilipat berlapis hingga tebal, menjadi penghubung saat ujung pintu kapal lebih tinggi dari landasan dermaga. Kondisi yang kerap terjadi saat air laut surut.

“Kalau tanpa jerambah, kendaraan bisa tersangkut. Kami hanya membantu,” ujar Kadek.

Saat ini, ada 28 pekerja jerambah, seluruhnya warga asli Gilimanuk.

Mereka dibagi dua regu dan bekerja siang-malam. Upah yang diterima jauh dari kata besar. Untuk truk Rp5 ribu, mobil kecil Rp4 ribu. Pendapatan dikumpulkan lalu dibagi rata.

“Per hari paling dapat Rp100 ribu sampai Rp200 ribu. Itu pun sudah termasuk beli tali jerambah yang mahal,” katanya.

Tak ada paksaan. Kadek menegaskan, mereka tetap melayani meski tak diberi uang.

“Dikasih kami terima, tidak dikasih ya tidak apa-apa. Yang penting kendaraan bisa jalan,” ucapnya.

Baca Juga: Unik dan Sarat Makna, Ribuan PPPK Paruh Waktu Tabanan Dilantik Kenakan Capil

Bagi para sopir, keberadaan jerambah sering kali menjadi penyelamat. Kamim (27), sopir truk asal Mojokerto, mengaku berkali-kali terbantu, terutama saat antrean padat dan kondisi air surut.

“Kalau tidak ada jerambah, bisa lama naik kapal. Sangat membantu,” katanya singkat.

Namun tak semua sepakat. Komang Tri, sopir truk semen, menilai jasa jerambah sebaiknya dikelola secara resmi agar tak menimbulkan kesalahpahaman.

“Selama ini tidak pernah dipaksa. Tapi mungkin lebih baik kalau jadi satu dengan tiket kapal,” ujarnya.

Di tengah polemik, para pekerja jerambah hanya berharap satu hal yakni keberlanjutan hidup.

Mereka khawatir jika jasa ini dihentikan tanpa solusi, maka puluhan kepala keluarga akan kehilangan mata pencaharian yang telah dijaga selama puluhan tahun.

“Kami tidak menolak diatur. Kami hanya ingin diajak bicara,” tutup Kadek.***

Editor : I Gde Riantory Warmadewa
#dermaga lcm #Warga Lokal #Jerambah #pelabuhan gilimanuk #asdp #dermaga LCM Pelabuhan Gilimanuk #Pekerja Pelabuhan