BULELENG, JEMBRANA EXPRESS - Di tengah sawah yang menguning, Gede Ardika, seorang petani yang kini menjabat sebagai Kelian Subak Getih, Desa Sudaji, Kecamatan Sawan, Buleleng, bersiap dengan sabit di tangannya.
Dengan penuh semangat dan lengkap dengan capil tani di kepalanya, ia memimpin panen padi yang telah matang bersama Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng dan anggota kelompok Tani Sri Amerta Sari Aji, Desa Sudaji.
Padi yang telah menguning itu merupakan hasil dari program yang dikembangkan oleh Dinas Pertanian Buleleng, ditanam menggunakan metode System of Rice Intensification (SRI) di lahan seluas 0,75 hektar. Bersama kelompok subak, mereka menerapkan metode ini dengan penuh semangat dan kesungguhan.
Menurut Gede Ardika, SRI memungkinkan petani untuk lebih hemat dalam penggunaan air, benih, dan pupuk. Dengan menggunakan pupuk organik, mereka telah melihat peningkatan produksi yang signifikan. Dari 150 biji padi yang tumbuh menjadi 310 biji padi per batang, hasilnya telah meningkat drastis.
"Padi ini sudah ditanam selama 4 bulan. Kami merasakan dampaknya dengan hasil yang meningkat. Kami berharap dapat menjadi contoh bagi subak lain untuk beralih ke pertanian sehat dan organik," ujar Ardika.
Program penanaman padi dengan metode SRI diharapkan memberikan motivasi bagi subak lain di Kecamatan Sawan.
Dengan dukungan penuh dari Dinas Pertanian Provinsi Bali dan Buleleng serta Ketua P4S Bali Sri Organik, program ini telah memberikan hasil yang memuaskan.
Kepala Bidang Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, I Gusti Ayu Maya Kurnia, menjelaskan bahwa setelah dilakukan uji ubin dengan metode SRI, hasil panen yang didapatkan mencapai sekitar 5,9 ton sekali panen. Hasil ini meningkat drastis dibandingkan dengan sebelumnya yang hanya mencapai 3 ton.
"Dengan beralih ke sistem SRI dan menggunakan pupuk organik, hasil panen menjadi lebih banyak," ujarnya.
Dengan semangat yang tinggi dan kesadaran akan pentingnya pertanian organik yang berkelanjutan, petani di Buleleng terus berusaha untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil panen mereka. Meskipun tidak instan, namun langkah ini merupakan bagian dari perubahan menuju pertanian yang lebih sehat dan berkelanjutan.***
Editor : I Gde Riantory Warmadewa