Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Desa Wisata Les Buleleng: Wisata Alam, Budaya, dan Kearifan Lokal yang Menjadi Inspirasi Nasional

Suharnanto • Kamis, 25 September 2025 | 21:35 WIB
Wisatawan dapat mengagumi kemegahan pura di Desa Les Buleleng dengan arsitektur menyerupai Pura Besakih, yang dikenal sebagai pura terbesar di Bali.
Wisatawan dapat mengagumi kemegahan pura di Desa Les Buleleng dengan arsitektur menyerupai Pura Besakih, yang dikenal sebagai pura terbesar di Bali.

JEMBRANAEXPRESS.COM- Desa Les di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, kini semakin dikenal luas sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Indonesia.

Setelah meraih predikat Desa Wisata Terbaik Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, desa ini resmi dikembangkan sebagai Kampung Berseri Astra (KBA).

Langkah ini menandai babak baru bagi Desa Les, bukan hanya sebagai tujuan wisata, melainkan juga sebagai simbol pemberdayaan masyarakat berbasis keberlanjutan.

“Dengan masuknya Desa Les sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra, kami berharap desa ini semakin maju, mandiri, dan mampu menginspirasi desa lainnya di Indonesia,” ujar Ida Bagus Astawa Suryawan, Koordinator Wilayah Grup Astra Bali, dalam peresmian KBA Desa Les di Denpasar, 7 Desember 2024.

Pengakuan ini tidak datang begitu saja. Desa Les memang menyimpan beragam pesona yang mampu menarik wisatawan, baik dari keindahan alam, kekayaan budaya, hingga komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan pengembangan UMKM.

Pesona Alam: Air Terjun Yeh Mampeh dan Surga Bawah Laut

Bagi pencinta wisata alam, Desa Les menawarkan pengalaman tak terlupakan. Air Terjun Yeh Mampeh, salah satu air terjun tertinggi di Bali, menjadi destinasi favorit wisatawan.

Dengan jalur tracking yang relatif mudah, wisatawan dapat menikmati segarnya udara pegunungan sekaligus menjelajahi hutan dengan kadar oksigen tinggi.

Lebih dari itu, air terjun ini juga menjadi lokasi spiritual untuk ritual melukat (penyucian diri) di mata air suci Yeh Anakan.

Tak hanya wisata pegunungan, Desa Les juga terkenal dengan pesona bawah lautnya. Terumbu karang yang masih alami membuat kawasan ini menjadi surga bagi pecinta snorkeling dan diving.

Wisatawan bisa berenang di antara biota laut yang indah sambil menikmati kehangatan panorama Bali Utara. Sore harinya, pemandangan sunset yang berpadu dengan deretan jukung nelayan tradisional menjadi daya tarik tersendiri.

Tak ketinggalan, wisatawan juga bisa mengunjungi ladang garam tradisional, salah satu identitas budaya pesisir Desa Les.

Desa Ramah Lingkungan: Komitmen pada Sustainable Tourism

Selain menawarkan keindahan alam, Desa Les juga berkomitmen kuat terhadap prinsip pariwisata berkelanjutan (sustainable tourism).

Warga setempat aktif mengelola sampah melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) dan turut mengembangkan integrated farm yang bersifat edukatif.

Kegiatan ramah lingkungan lain yang menjadi bagian dari keseharian warga adalah pembuatan kompos organik.

Langkah ini tidak hanya membantu mengurangi limbah rumah tangga, tetapi juga meningkatkan kualitas pertanian desa. Dengan cara ini, Desa Les menunjukkan bahwa pariwisata tidak boleh merusak lingkungan, melainkan justru menjadi sarana untuk menjaganya.

Warisan Budaya: Pura Megah dan Arca Kuno

Keistimewaan Desa Les tidak berhenti pada wisata alam dan lingkungannya. Desa ini juga menyimpan warisan budaya yang unik. Wisatawan dapat mengagumi kemegahan pura dengan arsitektur menyerupai Pura Besakih, yang dikenal sebagai pura terbesar di Bali.

Selain itu, Desa Les juga menyimpan koleksi arca kuno yang tersimpan dengan baik di Pura Puseh.

Koleksi ini menjadi bukti sejarah panjang desa, sekaligus kekayaan budaya yang memperkaya identitas Bali Utara. Perpaduan antara wisata alam, budaya, dan spiritual inilah yang menjadikan Desa Les berbeda dari destinasi lain di Bali.

UMKM Lokal: Oleh-Oleh Berkualitas dari Desa Les

Kunjungan ke Desa Les tidak akan lengkap tanpa membawa pulang produk UMKM lokal yang berkualitas tinggi. Sebagai salah satu desa binaan Astra, Desa Les memiliki beragam produk olahan masyarakat yang kini semakin dikenal luas.

Di antara produk unggulan tersebut adalah garam organik palungan khas Les, arak dan gula juruh lontar tradisional, serta VCO dan minyak tandusan asli Bali.

Produk-produk ini tidak hanya menjadi oleh-oleh khas, tetapi juga menjadi sumber penghasilan penting bagi masyarakat setempat.

Menurut Ida Bagus Astawa Suryawan, dukungan Astra terhadap UMKM di Desa Les merupakan bagian dari upaya meningkatkan ketahanan ekonomi masyarakat.

“Kami ingin agar masyarakat Desa Les tidak hanya merasakan manfaat pariwisata, tetapi juga memiliki kualitas hidup yang lebih baik melalui pemberdayaan ekonomi,” tegasnya.

Kolaborasi Astra dan Desa Les: Pilar Pembangunan Berkelanjutan

Pengembangan Desa Les sebagai Kampung Berseri Astra mengintegrasikan empat pilar utama kontribusi sosial Astra, yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan kewirausahaan.

Dengan pendekatan ini, Desa Les tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga pusat pemberdayaan yang memberi dampak luas bagi masyarakat.

Melalui berbagai program, masyarakat didorong untuk terus meningkatkan kapasitasnya. Mulai dari pengelolaan sampah, pelatihan produk UMKM, hingga pengembangan wisata berbasis komunitas.

Dukungan ini diharapkan mampu memperkuat Desa Les agar tetap relevan dan berdaya saing di tengah persaingan pariwisata global.

Harapan dan Masa Depan Desa Les

Sebagai Desa Wisata Terbaik ADWI 2024, Desa Les kini memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga reputasi dan kualitas pariwisatanya.

Dukungan Astra melalui program Kampung Berseri Astra menjadi momentum penting untuk mewujudkan visi tersebut.

“Harapan kami, Desa Les bisa menjadi role model bagi desa-desa lain di Indonesia dalam mengembangkan wisata yang berkelanjutan dan berdaya saing,” pungkas Ida Bagus Astawa Suryawan.

Dengan pesona alam seperti Air Terjun Yeh Mampeh dan keindahan bawah laut, ditambah budaya yang kental, komitmen lingkungan, serta produk UMKM yang kreatif, Desa Les membuktikan bahwa sebuah desa bisa menjadi destinasi wisata kelas dunia.

Kini, Desa Les menanti wisatawan dengan sejuta pesona dan keunikannya. Tips bagi pengunjung: waktu terbaik untuk berkunjung adalah pagi hingga sore hari, jangan lupa membawa kamera, baju ganti, dan sunscreen.

Aktivitas wajib? Snorkeling, diving, dan menikmati air terjun. Dan tentu saja, jangan pulang tanpa membawa garam organik khas Les sebagai oleh-oleh.

Dengan semua keunggulan ini, Desa Les bukan hanya sekadar tujuan liburan, melainkan destinasi yang menyatukan keindahan alam, kekuatan budaya, dan harapan masa depan yang berkelanjutan. Sebuah desa kecil di Bali Utara yang kini mendunia.(*)

 

 

 

Editor : Suharnanto
#buleleng bali #kompos organik #air terjun yeh mampeh #kampung berseri astra #desa wisata terbaik #warisan budaya #desa wisata les #wisata alam