JEMBRANA EXPRESS - Musim 2017 hingga 2018 bisa dibilang masa terindah Bali United. Di musim tersebut, emosional antara tim dengan suporter terjalin dengan bagus.
Hal itu ditambah dengan gaya permainan yang atraktif, lebih menghibur, dan berjiwa Puputan ketika dilatih oleh pelatih lokal Widodo Cahyono Putro atau Widodo CP.
Kompisisi pemain lokal dan asing yang diracik Widodo CP dicintai oleh Semeton Dewata.
Sebut saja Sylvano Comvalius, Nick van der Velden, Paulo Sergio, hingga Marcos Flores.
Belum lagi Fadil Sausu, Irfan Bachdim, Stefano Lilipaly yang sedang berada dalam top performancenya.
Musim 2017 bisa dibilang musim yang berkesan bagi suporter meskipun di musim tersebut Bali United 'digagalkan' menjadi juara.
Juara pada musim pertama era Liga 1 adalah Bhayangkara FC. Namun, itu menuai kontroversi.
Sebab, gelar juara yang diraih Bhayangkara FC berkat hadiah dari Komdis PSSI. Yakni laga Bhayangkara FC VS Mitra Kukar yang berakhir imbang 1-1 pada 3 November.
Akan tetapi Komdis PSSI menjatuhkan hukuman bahwa pertandingan itu dimenangi Bhayangkara FC 3-0, dengan dalih Mitra Kukar menurunkan pemain yang sedang menjalani hukuman pada laga tersebut.
Keputusan Komdis PSSI itu berdampak pada perolehan poin Bhayangkara FC bertamabh 2 poin. Klasemen akhir Bhayangkara FC dan Bali United sama-sama memiliki 68 poin, namun di peringkat Bhayangkara FC menang head to head, sehingga jadi juara Liga 1.
Selepas Widodo Cahyono Putro didepak, Stefano Teco Cugurra pun hadir. Membawa Persija Jakarta juara di musim 2018, Teco diharapkan meneruskan keberuntungannya di Bali United.
Harapan itupun menjadi nyata. Pelatih asal Brasil ini membawa Bali United berjaya selama 2 musim beruntun dengan gelar juara liga 1.
Teco pun disembah bak "dewa penyelamat" dan menaikkan derajat Bali United menjadi tim elit dan disegani.
Namun beberapa tahun ke belakang, pascapandemi Covid-19, permainan Bali United menurun. Jiwa Puputan, serta inovasi strategi tak terlihat. Dalam kompetisi Asia disebut hanya sebagai badut dan diolok-olok oleh suporter rival.
Suporter online pun mulai muak. Gaya monoton yang diperagakan Teco Cugurra terus menjadi cibiran. Bahkan mendapat diperolok sebagai tim guling-guling. Menyakitkan.
Hal ini pun dikomparasi dengan fasilitas latihan yang mumpuni namun permainan masih itu-itu saja sejak awal musim.
Netizen pun mulai membandingkan era Widodo CP dengan gaya bermain Bali United di musim sekarang.
"Ngeliat pola main Bali zaman WCP sama Teco beda jauh ya," tulis akun @bayutegar._ di unggahan terbaru Instagram Bali United.
"Kembalikan Bali era WCP," seloroh akun @bij.sa7
Kini, di sisa 5 pertandingan Liga 1 musim 2023/2024, akankah Teco Cugurra bisa memberikan jawaban telak kepada suporter dengan permainan yang lebih atraktif dan inovatif? Serta tentunya mengantarkan Serdadu Tridatu menuju babak Championship Series lalu menjuarainya? ***
Editor : Y. Raharyo