Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Begini Mitos Terpisahnya Pulau Bali dan Jawa, Erat Kisah Mpu Sidhi Mantra, Hukuman Anak Suka Berjudi

I Putu Mardika • Rabu, 29 November 2023 | 21:21 WIB
Pura Segara Rupek di Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng
Pura Segara Rupek di Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng

JEMBRANA EXPRESS-Dulu, konon Pulau Jawa dan Bali itu satu. Namun, ada sebuah kisah yang menyebutkan jika pada akhirnya kedua pulau ini menjadi dipisahkan oleh laut, karena kekuatan tapa bratanya tokoh spiritual Mpu Sidhi Mantra sebagai hukuman bagi sang anak Bernama Manik Angkeran yang gemar judi sabung ayam. Bagaimana ceritanya?

Kisah cerita terpisahnya inipun memiliki kaitan yang sangat kuat dengan Pura Segara Rupek. Pura ini memang butuh perjuangan untuk menjangkaunya. Karena posisinya berada di dalam hutan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Persisnya di Desa Sumberkelampok, Kecamatan Gerokgak, Buleleng.

Akses jalan menuju pura melewati kawasan hutan Bali Barat memang tidak mulus. Pemedek pun harus rela melintasi jalan bebatuan sepanjang 15 kilometer dari areal jalan utama, Singaraja-Gilimanuk. Jalan bebatuan mengakibatkan waktu tempuh pun hingga 1,5 jam lamanya.

Tetapi, sepanjang perjalanan kita disuguhkan dengan pemandangan yang indah. Sepanjang jalan bisa menikmati keindahan flora fauna yang terdapat di kawasan hutan yang dilestarikan ini.

Seperti Hewan Kijang, Monyet, beragam jenis burung hingga pepohonan langka dan dilindungi bisa terlihat jelas di sepanjang jalan. Belum lagi suguhan pemandangan lautan yang memisahkan Pulau Jawa dengan Bali begitu jelas terlihat.

Jika dilihat, areal Pura Segara Rupek sangatlah luas. Bahkan sampai 90 are. Pura ini dikelilingi hutan belantara. Sedangkan sisi baratnya merupakan selat Bali, yang memisahkan Pulau Jawa dengan Bali.

Bangunan pura begitu megah. Dibangun dari material bebatuan. Sejumlah pelinggih terlihat berdiri kokoh di areal utama mandala pura. Penataan pura pun tergolong rapi. Selain itu, pengempon juga rutin membersihkan sisa persembahan, sehingga tetap terlihat bersih.

Jro Mangku Wayan Kutang, 57, salah seorang pengempon Pura Segara Rupek kepada meceritakan pura yang persis posisinya di ujung barat laut Pulau Bali ini pujawalinya jatuh setiap Purnama Jyesta. Tepatnya pada Bulan April-Mei. Pemedek dari beragam penjuru pun banyak yang nangkil hingga mekemit.

Ada sejumlah pelinggih di areal pura ini. Diantaranya Pelinggih Bhtara Surya, Hyang Pasupati, Hyang Siwa Barung Geni, Pelinggih Taksu, Ida Bhatara Lingsir  Mpu Sidhi Mantra, Hyang Naga Basuki Raja dan Pelinggih Rencang Ida.

Mangku Kutang pun tak menampik, jika keberadaan Pura Segara Rupek tak bisa dipisahkan dari Ida Bhatara Lingsir Mpu Sidhi Mantra. Ia berkisah, jika dahulu pulau Bali masih mejadi satu dengan Pulau Jawa.

“Di Pulau Jawa ada seorang Rsi yang bernama Sidi Mantra, atau lebih dikenal dengan sebutan Mpu Sidi Mantra. Beliau tidak memiliki keturunan, kemudian suatu hari beliau elaksanakan upacara yadnya Homa, dalam prosesi upacara tersebut tiba-tiba muncul manik berwarna merah dari api upacara tersebut, dan entah bagaimana cahaya merah itu berubah menjadi seorang anak kecil laki-laki yang kemudian diberi nama Ida Bang Manik Angkeran,” jelasnya.

Singkat cerita, Ida Bang Manik Angkeran beranjak dewasa. Rupanya prilakunya tidak baik, Manik Angkeran sering mabuk-mabukan dan berjudi, suatu ketika Mpu Sidi Mantra menasehati Ida Bang Manik Angkeran untuk tidak berjudi atau mabuk-mabukakan lagi. Tetapi Manik Angkeran menanggapi nasehat ayahnya dengan perasaan tidak senang, lalu pergi.

Mpu Sidi Mantra pun kebingungan memikirkan Ida Bang Manik Angkeran pergi kemana. Beliau kemudian pergi mencari Manik Angkeran hingga ke Pulau Bali. Sampai Di Bali Mpu Sidi Mantra pergi ke Gua Raja untuk bertanya kepada Hyang Basuki tentang keberadaan Ida Bang Manik Angkeran. Hyang Naga Basuki memberi petunjuk bahwa Manik Angkeran sudah dirumah.

Mpu Sidi Mantra kembali ke Pulau Jawa dan sampai di rumahnya beliau melihat Manik Angkeran sedang tertidur. “Mpu Sidi Mantra bercerita kepada istrinya bahwa ia bertemu dengan Hyang Naga Basuki dan diberikan segenggam emas, karena Mpu Sidi Mantra telah menghaturkan Empehan/ sesaji untuk Naga Basuki,” tuturnya.

Cerita tersebut kemudian didengar oleh Manik Angkeran yang sudah terbangun dari tadi. Manik Angkeran ingin berjudi lagi namun ia tidak memiliki uang. Terlintaslah di pikirannya tentang cerita Mpu Sidi Mantra dan istrinya yang mendapatkan emas dari Naga Basuki. Cepat-cepat Manik Angkeran mengambil genta milik ayahnya sebagai saranan untuk memanggil Naga Basuki. Setelah berasil menemukan genta, Manik Angkeran bergegas pergi ke Pulau Bali menuju Gua Raja untuk bertemu Hyang Naga Basuki.

Sampai Di Gua Raja, Manik Angkeran melakukan pemujaan untuk memanggil Naga Basuki dengan menggunakan genta ayahnya dan dengan menghaturkan sesajen. Sang Naga Basuki pun keluar dari goa, karena Manik Angkeran sudah menghaturkan sesajen, Naga Basuki memberika emas dua genggam kepada Manik Angkeran.

Naga Basuki pun kembali ke goa. Pada saat Naga Basuki kembali ke dalam goa, Manik Angkeran melihat ekor dari Hyang Naga Basuki berisikan permata, intan dan emas yang sangat indah. Manik Angkeran berniat jahat, ia memotong ekor Naga Basuki dan segera pergi membawa potongan ekor yang berisi batu permata dan intan tersebut.

Hyang Naga Basuki sangat sedih dan marah karena Manik Angkeran telah memotong dan mencuri batu permata dan intan yang ada di potongan ekornya itu. Naga Basuki mematuk jejak kaki Manik Angkeran, dan keluarlah api yang sangat besar. Kemanapun Manik Angkeran berlari api itupun mengikutinya.

Manik Angkeran bersembunyi di hutan cemara. Namun besarnya api tidak bisa dihindari lagi. Mpu Sidi Mantra kembali mencari Manik Angkeran hingga ke Pulau Bali dan di tengah hutan cemara ditemukan sosok mayat manusia yang sudah hangus. Sedangkan genta milik Mpu Sidi Mantra yang ditemukan disana merupakan bukti bahwa mayat tersebut adalah anaknya yaitu Bang Manik Angkeran.

Mpu Sidi Mantra sangat sedih melihat putranya sudah meninggal. Datanglah Hyang Naga Basuki menjelaskan semua yang telah terjadi. Mpu Sidi Mantra memohon kepada Hyang Naga Basuki agar bersedia menghidupkan kembali putanya. “Hyang Naga Basuki bersedia dengan syarat jika Mpu Sidi Mantra sanggup mengembalikan ekornya seperti semula, Hyang Naga Basuki bersedia menghidupkan kembali Manik Angkeran,”

Mpu Sidi Mantra segera menyanggupi permintaan Hyang Naga Basuki dengan mengucapkan mantra seketika ekor Hyang Naga Basuki kembali seperti semula. Hyang Naga Basuki pun mengeluarkan ajiannya untuk menghidupkan kembali Manik Angkeran. Ida Manik Angkeran sudah hidup kembali, dan ia meminta maaf kepada Hyang Naga Basuki atas perbuatannya itu.

Mpu Sidi Mantra selanjutnya memerintahkan Manik Angkeran untuk mengabdi kepada Hyang Naga Basuki agar bisa memperbaiki kebiasaan buruk yang selama ini selalu dilakukannya. Setelah itu Mpu Sidi Mantra kembali ke Pulau Jawa.

Ditengah perjalanan Mpu Sidi Mantra menancapkan tongkatnya dan membuat garis, seketika itu keluarlah air sehingga menjadi lautan, yang disebut dengan Segara Rupek dan sekarang lebih dikenal dengan sebutan Selat Bali.

“Segara rupek menjadi batas antara Pulau Jawa dan Bali. Beliau membuat batas seperti itu agar Manik Angkeran tidak dapat kembali pulang ke Pulau Jawa. Semenjak itulah Pulau Bali dan Jawa menjadi terpisah,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#mitos #Manik Angkeran #Pura Segara Rupek #Mpu Sidhi Mantra