Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Endek Mastuli Kalianget, Dikenal sejak 60 tahun silam, Bahan Baku Sutra

I Putu Mardika • Selasa, 5 Desember 2023 | 22:14 WIB

Nyoman Sedana pemilik usaha Tenun Sari Arta saat menunjukkan Kain Tenun Endek Mastuli khas Kalianget
Nyoman Sedana pemilik usaha Tenun Sari Arta saat menunjukkan Kain Tenun Endek Mastuli khas Kalianget
JEMBRANA EXPRESS-Kain Endek Mastuli, menjadi salah kain yang dihasilkan penenun Desa Kalianget, Kecamatan Seririt, Buleleng. Kain berbahan sutra ini bahkan sangat diminati oleh konsumen karena memiliki motif yang menarik.

Konon, kain ini sudah ada sejak 60 tahun yang lalu dan merupakan salah satu mata pencahariaan di desa tersebut. Kain ini juga menjadi penciri tenun ikat yang dihasilkan oleh penenun.

Kain tenun Endek Mastuli dihasilkan melalui alat tenun bukan mesin (ATBM). Meski demikian, kain ini menjadi sangat menawan dan elegan. Dengan perpaduan antara benang sutra serta pemberian warna cerah membuat Mastuli ini menjadi unik, ringan saat dipakai dan lembut seperti kulit bayi.

Seperti diungkapkan Nyoman Sedana selaku pengelola Tenun Ikat Sari Arta. Menurutnya, kain Endek Mastuli sangat cocok di tubuh anak muda yang ingin terlihat fresh. Karena Endek Sutra Mastuli ini memiliki motif yang cenderung cerah sehingga menjadikan penggunaannya terlihat lebih segar dan muda.

Proses pembuatan Endek Mastuli ini sama seperti pembuatan kain tenun pada umunya. Awalnya dilakukan proses pewarnaan benang menggunakan bubuk pewarna dengan cara direbus setelah kering benang digulung dan dimasukan ke dalam mesin ATBM. Setelah itu disiapkan motif yang ingin dibuat barulah pengrajin mulai menenun.

Terdapat berbagai motif yang indah pada Endek Mastuli seperti Motif Keplok, Dobol, Pelangi, Penyu, Cegcegan, Pot Sungenge. Semuanya memiliki peminat masing-masing namun salah satu yang paling diminati adalah motif Keplok kurung dikarenakan motifnya yang sederhana dan menawan.

Dijelaskan Sedana, dirinya tak menampik kerap mengalami kesulitan dalam hal produksi, bukan dari segi bahan. Namun SDMnya yang kurang kompeten dalam memproduksi kain Mastuli ini.

"Disini orang-orangnya gak bisa bekerja seperti orang kantoran yang menerapkan disiplin waktu, pekerja disini bekerja sesuai dengan kemauan mereka seperti sekarang ada upacara agama mereka libur, mendekati hari raya galungan mereka bisa libur sampai 3 Minggu" ujarnya.

Pemasaran yang dilakukan tidak menggunakan media soisial karena beliau takut tak bisa memenuhi permintaan pasar. Secara total produsen yang sering disapa Nyoman Agung imi memiliki 2 orang pekerja yang dibayar per projek endek yang dihasilkan.

Setiap satu projek diberi imbalan Rp 60 ribu rupiah dan rata-rata mereka bisa mengahasilkan 2 endek mastuli dalam 3 hari. Namun, dengan catatan jika penenun itu prosesnya tekun dalam mengerjakannya.

Kamen Endek Mastuli yang diproduksi, dijual dengan harga yang beragam berkisaran dari harga 400 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah tergantung seberapa sulit motif dan seberapa banyak konsumen membelinya. 

Walaupun pemasaran yang belum maksimal, namun penjualan kamen mastuli ini sudah mencapai seluruh Bali. Dalam sebulan pensiunan PNS itu mampu meraup untung kurang lebih Rp 2 juta rupiah.

“Pemasaran masih sederhana. Karena kami belum menggunakan pemasaran digital melalui media sosial. Takutnya, kami ada pesanan banyak, tetapi tidak bisa memenuhinya, karena keterbatasan penenun,” imbuhnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#ATBM #taksu #tenun ikat #Endek Mastuli #kalianget