Tokoh Adat Bayung Gede, I Ketut Sukarta mengatakan Ngantung ari-ari disebabkan mitologi yang diyakini kebenarannya oleh masyarakat Bayung Gede. Secara historis, masyarakat Bayung Gede merupakan keturunan dari tued kayu (pangkal pohon) yang dihidupkan dengan tirta kamandalu yang dibawa dari Pulau Jawa oleh titisan Bhatara Bayu.
Masyarakat Bayung Gede Meyakini, bahwa asal mula mereka adalah kayu yang mendapatkan restu dari Bhatara Bayu untuk menjelma menjadi manusia. Oleh karena asal mereka dari kayu, maka ketika bayi baru lahir dari rahim ibunya dia harus dikembalikan kepada asalnya, yaitu kepada kayu. Dalam pelaksanaannya, prosesi sistem gantung ini disimboliskan dengan menggantung ari-ari bayi atau saudara sang bayi dipohon bukak.
Pohon bukak merupakan pohon yang memiliki buah yang terbelah dua, yang melambangkan alat vital perempuan. Secara filosofis pohon bukak diyakini merupkan ibu sudara sang bayi yang akan mengasuhnya secara magis ari-ari yang lahir bersama dengan sang bayi.
“Prosesi upacara ari-ari dengan sistem gantung juga merupakan bentuk penghormatan terhadap nenek moyang masyarakat Bayung Gede. Karena hanya dalam prosesi inilah pohon dimaknai sebagai manusia yang menjaga saudara bayi (pasenta) dari berbagai macam gangguan,” katanya.
Sarana yang digunakan dalam ritual menggatung ari-ari adalah Tempurung kelapa. Tempurung kelapa ini dibelah menjadi dua bagian dan diusahkan ukuranya sama besar sehingga mudah untuk disatukan kembali.
Tempurung ini berfungsi untuk membungkus ari-ari bayi. Tempurung kelapa memiliki tiga bagian utama, yaitu air, isi kelapa dan tempurung, demikian juga dengan manusia diharapkan memiliki kekuatan secara fisik, memiliki ilmu yang berisi atau berguna, dan memiliki sikap yang halus seperti air.
Sarana selanjutnya adalah Ngad atau pisau yang terbuat dari bambu. Ngad digunakan untuk memotong ari-ari bayi. Selain difungsikan sebagai sarana pemotong ari-ari bayi ngad juga berfungsi sebagai sikep atau alat yang digunakan untuk berperang oleh saudara bayi, sehinga dalam prosesnya harus ditaruh didalam tempurung kelapa bersama dengan ari-ari bayi.
Sarana yang dibutuhkan selanjutnya adalah Sepit. Sarana ini digunakan untuk memegang ari-ari pada saat dipotong. Sepit bagi masyarakat bli dimaknai sebagai bentuk satu kesatuan, yang sering dijargonkan dengan “pang cara sepit puun puun bareng bareng” yang terjemahan bebasnya supaya seperti sumpit terbakar-terbakar bersama-sama.
Sempit melambangkan dengan hubungan antara bayi dengan ari-ari yang mesti saling menjaga, walaupun berada pada alam yang berbeda. Menurut keyakinan masyarakat Bayung Gede, bayi yang baru lahir sampai berumur duang oton masih dijaga oleh saudaranya. sehingga bayi sering tertawa, menangis dan mengigau tanpa sebab yang jelas.
“Konon pada saat tertawa dicandain oleh saudaranya, pada saat menangis tanpa sebab dicubit oleh saudaranya dan saat mengigau diajak jalan-jalan oleh saudaranya,” ungkapnya.
Kunyit dan jeruk lemon yang dipotong-potong yang kemudian digunakan sebagai alas pada waktu ari-ari di potong. Kunyit berfungsi untuk memberikan warna pada ari-ari agar kuning dan jeruk lemon meredam bau busuk yang ditimbulkan ketika ari-ari digantung.
Tengeh (kunyit yang diparut kemudian dicampur dengan pamor (kapur sirih) dan lemon), tengeh berfungsi sebagai lulur ari-ari tersebut. Tengeh berfungsi untuk menghilangkan bau amis dan busuk ari-ari yang ditimbulkan oleh proses biologis.
Anget-anget terdiri dari sindrong dan mica, digunakan supaya ari-ari bayi yang digantung dalam pohon tidak kedinginan. Anget-anget bagi masyarakat Bayung Gede merupakan obat penyembuh berbagai macam penyakit, seperti panas dingin, flu, filek, sakit kepala, kesemutan, rematik dan penyakit lainnya.
Sarana lainnya adalah Tali tabu. Sarana ini merupakan tali yang dibuat dari bambu yang mempunyai bentuk ikatan khusus yang digunakan untuk mengikat tempurung kelapa sekaligus sebagi penggantungan ari-ari dipohon.
Pamor (kapur sirih) digunakan untuk merekatkan tempurung kelapa yang sudah berisi ari-ari. Abu dapur, abu dapur digunakan untuk meresapkan ari-ari sehingga tidak berbau. Selain itu fungsi abu dapur ini adalah untuk menghangatkan ari-ari bayi yang telah digantung.
Setelah semua sarana prasarana yang dibutuhkan lengkap, barulah proses upacara ari ari dimulai. Proses upacara ari-ari dengan sistem gantung dimulai setelah ari-ari dibisahkan dengan bayi yang lahir.
Proses pemisahan antara bayi dengan ari-ari ini harus menggunakan ngad (bambu yang dibentuk seperti keris). Penggunaan bambu ini dinyakini akan membuat bayi akan merasa tidak sakit dan terhindar dari mara bayaha di kemudian hari.
“Karena proses kelahiran saat ini sudah banyak dilakukan di puskesmas atau rumah sakit, maka pemotongan ari-ari dengan ngad ini hanya disimboliskan saja untuk melaksanakan tradisi dan proses yang sebelumnya memang dilalui oleh semua masyarakat Bayung Gede,” imbuhnya,
Setelah proses pemotongan ari-ari dari bayi, maka proses penempatan sarana prasarana yang digunakan Adapun proses penepatan sarana dan prasarana dalam upacara ari-ari bayi yang baru lahir yaitu Kelapa dibelah menjadi dua bagian. Ari-ari yang sudah dipotong dimasukkan kedalam tempurung kelapa. Di atas ari-ari yang sudah ditaruh dalam tempurung kelapa di beri abu dapur.
Kemudian diatasnya ditaruh kunyit, lemon, ngad, sepit, tengeh dan angetanget. Setelah semua sarana dan prasarana yang digunakan ditaruh dalam tempurung kelapa, kemudian ditutup dengan belahan tempurung kelapa yang bagian atasnya.
“Tempurung kelapa yang disatukan direkatkan dengan kapur sirih. Diikat dengan tali tabu (tali khususnya yang terbuat dari bambu), kemudian dibawa ketempat lokasi penggantungan ari-ari,” ungkapnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika