Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Jejak Spiritual Dang Hyang Nirartha di Pura Uluwatu: Dibangun Sekitar Abad 11, Terungkap dalam Lontar Kusumadewa  

I Putu Mardika • Minggu, 21 Januari 2024 | 18:15 WIB

 

Areal utama Mandala Pura Uluwatu, Badung
Areal utama Mandala Pura Uluwatu, Badung
JEMBRANA EXPRESS-Pura Uluwatu yang terletak Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung merupakan salah satu dari enam buah pura yang berstatus Sad Kahyangan Jagat. Pura yang berdiri megah di ujung barat daya Pulau Bali di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi serta menjorok ke laut erat kaitannya dengan perjalanan suci dang Hyang Nirartha

Pura ini berada di wilayah Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung dan pura ini mudah dijangkau. Keindahan Pura Uluwatu memang tiada duanya. Posisinya berada di atas tebing dengan pemandangan Samudra Hindia memberikan vibrasi spiritual yang tinggi. Pemandangan yang premium ini juga membuat para wisatawan tak melewatkan kunjungannya ke Pura Uluwatu.

Pura Luhur Uluwatu dibagi menjadi tiga bagian, yakni Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala. Pada Utama Mandala terdapat prasada dan pelinggih berupa Meru Tumpang Tiga. Di Madya Mandala tidak ada pelinggih.

Sedangkan pada Nista Mandala bagian selatan yang disebut Dalem Bejurit terdapat antara lain prasada, tempat mokshanya Danghyang Dwijendra berdampingan dengan monumen berupa dua buah perahu yang dipakai berlayar sewaktu datang ke Pulau Bali.

Panglingsir Puri Agung Jrokuta selaku Pengempon Pura Uluwatu, I Gusti Ngurah Jaka Pratidnya mengatakan piodalan di Pura Uluwatu yang jatuhnya setiap enam bulan sekali tepatnya pada Anggara Kasih Medangsia. Masyarakat Desa Pecatu (Pengempon) melaksanakan kegiatan mekiis atau melasti yang berawal dari Pura Pererepan sampai tujuannya yaitu di Pura Uluwatu.

Menurut Lontar Kusumadewa, Pura ini didirikan atas anjuran Mpu Kuturan sekitar abad ke 11. Pura ini merupakan salah satu dari enam sad kahyangan yang disebutkan dalam Lontar Kusuma dewa. Yakni, Pura Besakih, Lempuyang Luhur, Goa Lawah, Pura Luhur Uluwatu, Pura Luhur Batukaru dan Pura Luhur Pusering jagat

Awalnya, pura Uluwatu disebut sebagai padma oleh Mpu Kuturan. Diceritakan, pada abad ke 16 masehi, pendeta sakti yang beraliran Siwa Buda yang berasal dari Jawa Timur yang masih keturunan Mpu Kuturan

Pendeta tersebut bernama Dang Hyang Dwijendra atau Dang Hyang Nirartha. Beliau memilih Pura Uluwatu sebagai tempat berjalannya spiritual setelah bertaun-tahun mengayomi spiritual Masyarakat Bali

Dang Hyang Dwijendra melaksanakan tapa semadi dalam kurun waktu yang cukup lama di pura ini. Ketika pada hari anggra kliwon, wuku Medangsia, Dang Hyang Dwijendra menerima wahyu agar pada hari itu juga beliau haru meninggalkan dunia fana menuju alam sunia.

Beliau merasa bahagia, karena saat yang dinantukannya telah tiba. Namun, pendeta yang juga disebut Dang Hyang Nirartha itu masih menyimpan stau pusaka yang diberikan kepada putranya. Di bawah ujung pura uluwatu, nampak seorang nelayan Bernama Ki Pasek Nambangan

Dang Hyang Dwijendra meminta kepada Ki Pasek Nambangan agar mengantarkan kepada anakny yaitu Mpus Mas yang berada di Desa Mas, Ubud, Gianyar. Bahwa Dang Hyang Dwijendra menaruh Pustaka di Pura Luhur Uluwatu

Kemudian, Ki Pasek Nambangan akhirnya pergi. Sementara itu Dang Hyang Dwijendra melakukan tapa yoga semadhi di pura tersebut, menuju sebuah batu beser di sebelah timur onggokan batu-batu bekas candi peninggalan Kerajaan Sri Wira Dalem Kesari. Di atas batu itulah, Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh beryoga mengranasika, laksana keris lepas saking urangka, hilang tanpa bekas, amoring acintia parama moksa.

Sekitar tahun 1672 Isaka 1549 Kerajaan Mengwiraja, dengan rajanya yang bergelar I Gusti Agung Putu yang mabhiseka Ida Cokorda Sakti Blambangan mempersunting seorang istri bernama I Gusti Agung Ayu Panji, putri dari raja Buleleng yang bergelar I Gusti Agung Panji Sakti. Dalam rangkaian perkawinannya itu I Gusti Agung Panji Sakti memberikan hadiah berupa “tetatadan gumi” yang merupakan daerah kekuasaan kerajaan Buleleng.

Tatadan itu berupa kekuasaan wilayah dari Jimbaran sampai ke ujung Selatan Pulau Bali dan daerah Blambangan Jawa Timur. Pada saat pemerintahan Raja Mengwi Ida Cokorde Sakti Blambangan menguasai tanah Jimbaran sampai Uluwatu, terlihatlah di sekitar Ulu Watu berupa teja gumulung (sinar bulat) setiap sore selama beberapa hari.

Peristiwa adanya teja gumulung itu dicek kebenarannya dengan mengutus seorang abdi puri Mengwiraja. Ternyata sinar yang memancar setiap sore itu adalah berupa onggokan batu yang membeku di sebelah barat onggokan batu bekas peninggalan Raja Sri Wira Dalem Kesari zaman dahulu.

Raja Mengwi, setelah mempertimbangkan matang-matang lalu membuat candi yang disebut prasada di onggokan batu itu. Sayang, candi itu tidak bertahan lama, karena hancur akibat goyangan gempa. Namun Raja tidak putus asa.

Sesudah gempa dibangunlah Palinggih Meru Tumpang Tiga dengan menstanakan Ida Pedanda Sakti Wawu Rauh. Hal inipun tidak bertahan lama pula. Palinggih ini kedapatan sudah jadi abu terbakar beberapa lama kemudian.

Oleh karena situasi sudah berubah, maka oleh masyarakat Desa Adat Pecatu pada bekas palinggih itu dibangun kembali tempat pemujaan berupa candi. Ternyata juga tidak bertahan lama karena goncangan gempa.

Masyarakat Desa Adat Pecatu kembali membangun Palinggih Meru Tungpang Tiga. Aneh, palinggih ini juga mengalami kebakaran. “Namun umat tak menyerah. Setelah peristiwa kebakaran kedua kalinya itu, masyarakat kembali membangun Palinggih Meru Tumpang Tiga. Palinggih stana Danghyang Dwijendra itu masih tegak sampai sekarang,” jelasnya. (dik)

HARD NEWS: Pemateri Hard News Muhammad Ridwan saat menyampaikan materi di depan puluhan pelajar SMA/SMK/MA se Bali di GWS, 20 Januari 2024.
HARD NEWS: Pemateri Hard News Muhammad Ridwan saat menyampaikan materi di depan puluhan pelajar SMA/SMK/MA se Bali di GWS, 20 Januari 2024.
KOLABORASI: Pemateri Feature Hari Puspita (kiri) dan moderator Maulana Sandijaya saat memaparkan materi berita Kisah atau Feature di hadapan puluhan pelajar SMA/SMK/MA sederajat, 20 Januari 2024.
KOLABORASI: Pemateri Feature Hari Puspita (kiri) dan moderator Maulana Sandijaya saat memaparkan materi berita Kisah atau Feature di hadapan puluhan pelajar SMA/SMK/MA sederajat, 20 Januari 2024.
Photo
Photo
Editor : I Putu Mardika
#pura uluwatu #Sad kahyangan #Pecatu #badung #Dang Hyang Nirartha