JEMBRANA EXPRESS- Sunari di Bali adalah alat terbuat dari buluh bambu yang telah dilobangi menggunakan teknik khusus, sehingga menghasilkan suara ketika tertiup angin.
Pada pandangan pertama, Sunari tampak seperti buluh bambu utuh yang menjulang tinggi. Namun, alat ini memiliki hubungan erat dengan kegiatan dan warisan budaya pertanian umat Hindu di Bali.
Menurut Budayawan Kota Denpasar, I Gede Anom Ranuara, Sunari konon berasal dari kata 'Sunar', yang berarti sinar.
Sesuai dengan perannya, sinar diartikan sebagai penerangan bagi umat manusia dalam kehidupan mereka.
Penjelasan ini sejalan dengan satu sumber yang tertulis dalam buku Sundarigama karya Drs. K.M Suhardana, yang menginterpretasikan kata Sunari sebagai buluh perindu.
"Meskipun tidak sepenuhnya dijelaskan, namun kita dapat menganggap bahwa kata Sunari memiliki makna yang sama dengan sundari," ujar Anom kepada Bali Express (Jawa Pos Group).
Dalam literatur lain, Anom menemukan dalam kamus Jawa Kuna-Indonesia karya P.J Zoetmoulder, bahwa kata Sundari diartikan sebagai sejenis serangga yang bersuara nyaring di pepohonan.
Sedangkan dalam Bahasa Sanskerta, Sundari berarti wanita cantik, dan kata gama dapat diartikan sebagai perjalanan atau jalan.
Dalam konteks Sundarigama, sundar diartikan sebagai terang, sementara gama berarti petunjuk.
"Dengan demikian, Sundarrigama memiliki makna petunjuk menuju jalan yang terang atau benar," jelas Anom.
Secara filosofis, suara Sunari berfungsi sebagai alat atau peringatan bagi manusia agar selalu peka terhadap suara atau petunjuk alam.
Dengan demikian, kita dapat selalu berinteraksi dan hidup berdampingan dengan alam, baik dengan sesama manusia maupun dengan aspek-aspek alam lainnya.
"Keselarasan dengan alam itulah yang membuat kita merasa bahagia dalam melaksanakannya. Kita bekerja sama dalam prosesnya dan menikmati hasilnya bersama-sama," tambahnya.
Selain untuk seni, hiburan, dan sebagai alat pengusir hama di sawah, Sunari juga dibuat untuk keperluan upacara keagamaan.
Sunari memiliki peran penting dalam setiap upacara besar keagamaan Hindu, terutama dalam kategori utama.
Upacara ini dikenal dengan sebutan Ngadegan Sunari, yang berarti memasang atau mendirikan Sunari. Dalam kepercayaan Hindu, Sunari adalah simbol dari Dewa Brahma; pada lengkungan Sunari terdapat gambar kera yang melambangkan maruti, yang berarti angin, dan angin merupakan asengeng yang berarti spiritual.
Bentuk Sunari yang digunakan dalam upacara yadnya memiliki lobang-lubang pada bambu dengan konsep Panca Maha Butha, yang melambangkan unsur-unsur alam.
Sunari ini terdiri dari bentuk bulat yang melambangkan windu atau bulan, segitiga yang melambangkan nada atau bintang, berpalang empat yang merupakan simbol ongkara, serta segi empat dan tegak lurus sebagai sumber bunyi dari Sunari.
Pada bagian atas lengkungan bambu, terpasang binatang kera yang sedang memanjat, sebagai simbol untuk Sunari yang akan digunakan dalam upacara.
Sedangkan untuk penggunaan di sawah, simbol sepasang tupai atau sembilan laki-laki dan perempuan melambangkan keseimbangan dan kesuburan.
"Pada upacara keagamaan yang besar, Sunari biasanya dipasang agak tinggi menghadap ke arah timur laut dari halaman pamerajan atau pura," terang Anom.
Ditambahkan oleh Anom, Sunari yang diartikan sebagai sinar tentu saja akan memberikan penerangan.
Dalam konteks budaya dan sosial, ini dapat dimaknai sebagai sarana penerangan atau pencerahan.
Ini merupakan keyakinan budaya agar saat melakukan aktivitas besar atau upacara yadnya, hujan tidak turun.
"Dengan memasang Sunari bersama-sama, kita mengajak para pelaku upacara untuk bertekad atau berdoa agar proses upacara keagamaan berlangsung lancar dan tanpa hujan," tutup Anom Ranuara. (*)