Sumbu merupakan sebuah poros (pusat). Poros atau sumber kehidupan untuk mencapai sunia (kedekatan dengan Tuhan). Ngusaba Sumbu di gelar sebagai penyambutan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan sarana upacara tiang lurus yang dihiasi berbagai perlengkapan yang kemudian disebut Sumbu.
Bendesa Adat Asak, I Wayan Segara mengatakan bentuk Sumbu bersusun mengerucut. Pada bagian paling atas Sumbu terdapat manuk dewata yang dipercaya membawa amanah dari persembahan warga. Persembahan tulus ikhlas, wujud bhakti warga yang ditujukan kepada tuhan yang Maha Esa. Sumbu di bangun setinggi sekitar 25 meter.
Harga satu sumbu bisa menghabiskan biaya belasan juta. Karena satu sumbu di bangun dengan banyak rangkaian seperti rerenteng, Bungan langkuas, reringgitan naga sari, wayang, yang rangkaiannya sangat rumit.
“Dalam proses mendirikan sumbu, sebelumnya dilakukan ritual nyulubin sumbu. Saat itu, sumbu didirikan di tempat bebas, gadis yang mendapat ayahan sumbu dengan menggunakan pakaian adat rejang sederhana, masuk pada pangkal sumbu,” jelasnya.
Sumbu lalu di putar-putar oleh truna adat. Dari ritual itu, sejumlah warga mengatakan hal itu diibaratkan sebagai peristiwa pemutaran gunung Mandara Giri dengan Sumbu dilambangkan sebagai Buana Agung.
Pemutaran dilakukan oleh truna adat, karena di percaya truna adat dalam usia yang masih remaja masih melekat sifat-sifat ke-raksaaan. Sesuai dengan cerita itu, bahwa pemutaran Gunung Mandara Giri dilakukan oleh raksasa.
Dalam cerita pemutaran gunung Mandara Giri, diceritakan saat lautan diaduk oleh Dewa dan para Raksasa untuk mendapatkan Tirta Amertha (keabadian). Maka diceritakan pula, racun mematikan yang disebut Halahala menyebar.
Racun tersebut diceritakan dapat membunuh segala makhluk hidup. Dewa Siwa kemudian meminum racun tersebut, maka lehernya menjadi biru. Setelah itu, berbagai dewa-dewi, binatang, dan harta karun bermunculan.
Diantaranya, Sura, Dewi yang menciptakan minuman anggur, Apsara, kaum bidadari kahyangan, Kostuba, permata yang paling berharga di dunia, Uccaihsrawa, kuda para Dewa, Kalpawreksa.
Kemudian ada pohon yang dapat mengabulkan keinginan, Kamadhenu, sapi pertama dan ibu dari segala sapi, Airawata, kendaraan Dewa Indra, dan Laksmi, Dewi keberuntungan dan kemakmuran. Lalu, munculah Dhanwantari membawa kendi berisi tirta amerta yang diceritakan bisa membuat hidup abadi para dewa.
“Anak gadis yang mendapat ayahan sumbu, melambangkan seorang dewi laksmi, yang dalam cerita itu adalah dewi pembawa keberuntungan dan kemakmuran. Keberuntungan dan kemakmuran bagi keluarga dan secara umum kepada desa adat,” katanya.
Dipilihnya seorang gadis dalam ayahan sumbu, karena seorang gadis nantinya akan menjadi ibu. Ibu nantinya memiliki peran besar dalam menjalankan roda kehidupan. Termasuk melahirkan dan meneruskan kehidupan.
“Setiap pelaksanaan usaba sumbu, desa adat melalui empat Pauman, yakni Pauman Beji, Pauman Desa, Pauman Manak Yeh, dan Pauman Lambuan, menunjuk masing –masing seorang gadis untuk mewakili masing-masing Pauman,” ungkapnya.
Kecuali Pauman Desa diwakili oleh dua orang gadis, karena Pauman ini warganya paling banyak, dan menurut cerita leluhur merupakan warga wed (asli) desa adat Timbrah. Dari lima gadis itu, tiga diantaranya ngayah pada usaba kaja, dan sisanya ngayah pada usaba kelod.
Rangkaian Usaba Sumbu dilaksanakan dalam satu minggu. Diawali dengan upacara melasti ke segara. Tiga hari kemudian desa adat setempat menggelar puncak Usaba Sumbu Kaja. Persembahyangan dilangsungkan tengah malam sekitar pukul 24.00 Wita.
Keesokan harinya disebut pengajengan. Pada hari ini dilaksanakan tabuh rah yang bertujuan untuk menyomyakan butha kala. Setelah pengajengan disebut penyelagan. Hari ini di pakai untuk mempersiapkan segala perlengkapan, seperti perlengkapan upacara untuk di pakai pada Usaba Kelod.
Setelah itu, hari berikutnya, barulah Usaba Sumbu Kelod. Usaba Sumbu Kelod ditujukan kepada Ida Betara Sri Rambut Sedana dengan mendirikan dua buah Sumbu, dan babi guling.
Pada malam harinya dilaksanakan upacara ngundangin. Upacara ini tergolong sakral, dengan pengucapan mantra-mantra oleh kelian Daa dalam keadaan kerauhan, yang di ikuti sorak sorai truna adat agar mantra yang diucapkan tidak di dengar pihak lain. “Dalam pelaksaan Usaba Sumbu terdapat ritual yang dinamakan Ngemalangin dimana ritual ini mundut nedunang Ide Betara Sri Rambut Sedana,” paparnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika