JEMBRANA EXPRESS - Desa Pakraman Sai, sebuah permata tersembunyi di Kecamatan Pupuan, Tabanan, Bali, memiliki tradisi kematian Hindu yang memikat.
Di sinilah, ritual kematian Hindu tidak mengenal istilah "ngaben" yang umumnya dikenal di Bali.
Dikutip dari Bali Express, menurut Bendesa Adat Desa Pakraman Sai, I Nengah Ginawa, krama (warga) yang berpulang tidak melalui prosesi Pengabenan seperti biasanya.
Mereka langsung dikubur di setra, mengikuti tradisi yang dikenal sebagai "Nyacahin".
"Di sini, keluarga yang ditinggalkan memilih jangka waktu upacara Nyacahin, yang harus berjumlah hari ganjil," ujar Ginawa, menciptakan misteri tentang keunikan prosesi kematian di desa ini.
Tradisi Nyacahin tidak hanya menarik karena ketidakbiasaan mereka dalam Pengabenan, tetapi juga karena upacara tersebut dilakukan dalam berbagai jangka waktu setelah pemakaman, mulai dari tiga hingga sebelas hari.
Ketika waktu yang ditentukan tiba, keluarga membawa roh yang meninggal dari setra ke rumah mereka dengan menghias daksina dengan bunga-bunga, sebelum melanjutkan upacara di Pura Prajapati.
Di tengah semak belukar setra yang menyerupai kebun, terdapat banyak kuburan yang membedakan antara Setra Gede dan Setra Alit, menambah aura misteri dari tradisi ini.
Lebih menarik lagi, Desa Pakraman Sai tidak mengubur mayat anak-anak sebelum dewasa.
Sebaliknya, mayat tetap disemayamkan di rumah duka sebelum menjalani upacara "metatah" atau potong gigi, sebuah tradisi yang menambah warna lokal ke dalam ritual kematian mereka.
"Saatnya menjalani upacara potong gigi adalah langkah penting sebelum memulai prosesi kematian," ujar seorang dresta dari desa tersebut.
Dengan menghilangkan pembakaran yang umumnya terkait dengan Ngaben, suasana setra Desa Pakraman Sai terasa berbeda.
"Setra kami penuh dengan tanaman dan terkesan bersih karena tidak ada pembakaran," tambah Ginawa, menyoroti keunikan dari praktik mereka.
Ritual kematian yang unik ini menjadi daya tarik tersendiri, menarik minat para wisatawan yang ingin menjelajahi kekayaan budaya Bali yang beragam.
Desa Pakraman Sai dengan bangga mempertahankan warisan nenek moyang mereka, memperkaya lanskap budaya Bali yang kaya dan beraneka ragam. ***
Editor : I Putu Suyatra