Tradisi nyeeb bisa dilaksanakan oleh pasangan suami istri baik yang baru menikah atau yang sudah beberapa tahun membina rumah tangga. Kegiatan nyeeb dipusatkan di depan Pura Bale Agung, Desa Tajun.
Prosesinya dilaksanakan dari pagi hari hingga sore hari. Pasangan suami istri yang hendak mengikuti tradisi nyeeb ini sudah mulai berdatangan, dengan membawa berbagai sarana yang dibutuhkan saat nyeeb dilangsungkan.
Puluhan pasang suami istri tersebut mengikuti prosesi Nyeeb secara utuh. Mereka duduk berjejer di depan Pura Bale Agung dengan menggunakan pakaian adat secara berdampingan. Prosesi Nyeeb ini dipimpin oleh sejumlah ulun desa dan pemangku desa adat Tajun yang duduk di depan pasangan suami istri.
Jro Nyoman Sumeka selaku pemangku Pura Bale Agung, Desa Adat Tajun mengatakan tidak ada catatan secara tertulis sejak kapan tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat. Namun sudah dijalankan secara turun temurun dan tidak ada paksaan untuk mengikutinya.
Dalam cerita yang berkembang di masyarakat disebutkan dahulu, jumlah masyarakat Desa Tajun sedikit, jarak untuk tempat tinggalnya semua berjauhan serta keadaan ekonomi serba pas-pasan. Para tetua dan krama desa adat berunding, apabila masyarakat Desa Tajun melangsungkan pernikahan harus melalui dengan prosesi upacara Nyeeb.
Saat adanya perkawinan, rupanya tidak menggunakan upacara mabyakaonan dan hanya cukup dengan nunas tirta di Pura Taman saja. Nah, untuk mensiasati hal tersebut dibuatkankanlah upacara mebyakaonan secara masal pada satu tempat untuk pengantin yang sudah menikah pada kurun waktu tertentu dan disebut dengan upacara Nyeeb. Sampai sekarang pun tradisi ini masih tetap menjadi lanjutan dari rangkaian perkawinan di Desa Tajun.
Ia menyebut, tempat pelaksanaan tradisi Nyeeb dilakukan di areal Jaba Pura Bale Agung dan masyarakat Desa Tajun menyebutnya dengan Bencingah Agung. Sejak dulu hanya tempat itu yang menjadi satu satunya tempat pelaksanaan tradisi Nyeeb.
Selain lokasinya yang lumayan luas, juga posisinya sangat strategis. Karena berada di tengah-tengah pusat Desa Tajun. “Areal jaba Pura Bale Agung juga bukan sembarang tempat dan termasuk tempat yang sangat disucikan. Pura Bale Agung juga diyakini sebagai tempat pertemuan para dewa,” imbuhnya.
Pelaksaanaan tradisi Nyeeb sebutnya juga rutin dilaksanakan setiap satu tahun sekali, yaitu pada Sasih Kedasa dalam perhitungan kalender Bali yang tepatnya pada 4 hari setelah hari raya Nyepi yang disebut dengan pinanggal ping lima sasih kedasa
Berjalannya tradisi Nyeeb ini berdasarkan pada perhitungan Dewasa sesuai dengan baikburuknya hari yang sudah ditetapkan oleh leluhur masyarakat di Desa Tajun. Dipilihnya waktu tersebut sebagai momen untuk melaksanaan tradisi Nyeeb bukanlah tanpa pertimbangan.
Sebab, pada pinanggal ping lima sasih kedasa, sangat dipercayai sebagai hari yang sangat baik untuk melaksanakan tradisi Nyeeb yang mana pelaksanaan dari tradisi ini dilaksanakan selama satu hari dari pagi sampai selesai. (dik)
Editor : I Putu Mardika