Masyarakat meyakini, keris ini mampu mengusir hama penyakit pada tanaman pertanian milik warga. Saat ini Keris Ki Baru Gajah disimpan dalam Gedong Simpan di Merajan Agung Puri Kediri, Tabanan.
Semenjak dibangunnya Puri Kediri, Tabanan maka salah seorang keturunan beliau Sang Natha yang bergelar I Gusti Ngurah Celuk. Beliau ditunjuk untuk menguasai wilayah selatan daerah-daerah. Khusunya yang berada di sebelah barat Tukad Yeh Penet dan di sebelah timur Yeh Panahan.
Beliau pun ditugasi sebagai penganceng Pura Luhur Pakendungan dan Pura Tanah Lot. Oleh karena itu, hingga saat ini keturunan beliau menjaga dengan baik Keris Ki Baru Gajah di Gedong Simpan Merajan Agung, Puri Kediri Tabanan.
Kepercayaan masyarakat lama terhadap genealogi tokoh-tokoh yang dihormatinya sangat mempengaruhi sehingga menjadi unsur genealogis dari mitos Keris Ki Baru Gajah dalam purana Pura Luhur Pakendungan.
Pengempon Pura Luhur Pakendungan Jro Mangku Gede Kasna menjelaskan masyarakat Kecamatan Kediri sangat meyakini Mitos Keris Ki Baru Gajah.
Kekuatan keris ini diyakini dapat mengusir hama penyakit sehingga diharapkan dapat memberikan kesejahteraan.
Mitos Keris Ki Baru Gajah dalam purana Pura Luhur Pakendungan hingga saat ini diyakini oleh keluarga Puri Kediri, dan masyarakat Kecamatan Kediri.
Jika diperhatikan sebuah keris pemberian Dang Hyang Dwijendra yang merupakan seorang pendeta mahaagung. Saat ini sudah menjadi sebuah benda yang memiliki kekuatan gaib sehingga masyarakat menamakan “Ida Bhatara” pada Keris Ki Baru Gajah.
Purana Pura Luhur Pakendungan dalam hal ini kaitannya dengan Mitos Keris Ki Baru Gajah menghubungkan peninggalan keris sakti ini kepada seorang peranda yang begitu mahaagung dan sakti, yaitu Ida Dang Hyang Dwijendra.
Di samping dipercaya karena kesaktian keris Ki Baru Gajah, masyarakat juga percaya dan mengikuti bhisama Ida Dang Hyang Dwijendra, yaitu agar keris ini dijaga dan diberikan upacara sehingga kelak akan memberikan kesejahteraan.
Jika mrana (hama) menyerang kawasan pertanian di Tabanan, subak biasanya menggelar serangkaian upacara di Pura Luhur Pakendungan guna memohon agar pertanian mampu diselamatkan.
“Air (tirta) dari pembersihan Keris Ki Baru Gajah ini diyakini mampu menanggulangi keberadaan hama dan penyakit. Keris Ki Baru Gajah ini merupakan pemberian Dang Hyang Dwijendra kepada Ki Bendesa Braban yang tiba di Bali pada tahun Isaka 1411,” ungkapnya.
Menurut purana Pura Luhur Pakendungan, tradisi Ngrebeg pada Sabtu (Saniscara) Kliwon, Wuku Kuningan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat di Desa Adat Kediri. Hanya tradisi ini dilakukan secara bergilir.
Tradisi Ngrebeg ini telah diwarisi secara turuntemurun dan sangat diyakini oleh anggota masyarakat Kecamatan Kediri. Upacara yang dilakukan oleh masyarakat serangkaian dalam tradisi ini diawali dari Puri Kediri.
Masyarakat yang bertugas menjadi “pangrebeg” dari Desa Pakraman Kediri mengungsung Keris Ki Baru Gajah dari Puri Kediri menuju pura Luhur Pakendungan.
Namun, sebelum menuju ke Pura Luhur Pakendungan “pangrebeg” menuju ke Pura Panti. Saat itu Keris Ki Baru Gajah diupacarai, dan para pangrebeg yang membawa papah jaka atau pelepah pohon enau berputar satu kali mengelilingi Puri Kediri.
Setelah itu berjalan menuju Pura Luhur Pakendungan. Saat melewati Pura Dangin Bingin dihaturkan segahan dan dilanjutkan kembali sampai akhirnya di Pura Luhur Pakendungan. Jarak yang ditempuh dari Puri Kediri sampai di Pura Luhur Pakendungan adalah 11 km.
“Kaitan dengan milik beliau, Hyang Dwijendra terdapat Ngrebeg yang setiap swakarya pujawali, Ida datang yang disebut Ki Baru Gajah. Saat upacara beliau datang, jika Keris Ki Baru Gajah belum tiba, maka swakarya pujawali tidak bisa dilaksanakan,” kata Jro Mangku Gede Kasna. (dik)
Editor : I Putu Mardika