JEMBRANA EXPRESS - Pada masa lalu, perjuangan untuk kesetaraan gender umat Hindu di Bali, terutama dalam pendidikan, merupakan cerita yang penuh liku-liku.
Perempuan tidak diizinkan untuk mengejar pendidikan tinggi karena dianggap akan menjadi ibu rumah tangga belaka.
Namun, bahkan di era modern ini, tantangan masih dirasakan, terutama di pelosok daerah seperti Bali.
Dr. Dra. Ida Ayu Tary Puspa, S.Ag., M.Par., memperingatkan bahwa perempuan harus diberikan hak yang setara dalam hal ilmu pengetahuan.
"Tidak hanya soal warisan materi, tetapi juga hak akan pendidikan yang layak," tegasnya.
Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh akan menjadi bekal berharga untuk mengarungi kehidupan, baik sebagai ibu rumah tangga maupun dalam mencari pekerjaan yang layak.
Penelitian menunjukkan bahwa perempuan dari berbagai lapisan ekonomi memiliki motivasi berbeda dalam bekerja.
Dari lapisan menengah ke atas, perempuan bekerja untuk aktualisasi diri, sedangkan dari lapisan menengah ke bawah, perempuan bekerja untuk membantu ekonomi keluarga.
"Peran ekonomi perempuan dalam keluarga tidak bisa dipandang sebelah mata," ungkapnya.
Terkait dengan peran perempuan yang sudah berkeluarga, Tary Puspa menekankan perlunya reposisi peran agar perempuan dapat berkarya tanpa meninggalkan kewajibannya dalam keluarga.
Dia juga menyoroti peran laki-laki dan anak dalam membantu pekerjaan domestik. Meskipun demikian, ada tantangan seperti stereotip gender yang masih menghambat.
Dalam konteks pengasuhan anak, strategi diperlukan.
Baca Juga: Kekuatan Dewa Ganapati Netralisir Panca Durga
Menitipkan anak pada pembantu, baby sitter, atau tempat penitipan anak (TPA) menjadi pilihan, tetapi Tary Puspa menekankan pentingnya memilih dengan cermat.
"Pengasuhan yang baik merupakan investasi untuk masa depan anak," katanya.
Meskipun perempuan Bali mempertahankan karakter santun dan berbakti, Tary Puspa menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara tugas domestik dan pengembangan diri.
"Dengan menjaga kesehatan dan komunikasi yang baik, akan tercipta keluarga yang bahagia dan sejahtera," tambahnya.
Dengan demikian, perjuangan untuk kesetaraan gender dan keadilan terus berlanjut, dengan harapan akan tercipta masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua. ***
Editor : I Putu Suyatra