Penekun Lontar Ida Bagus Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring Gianyar dalam channel @Kapiyot menjelaskan, jika di bhuana agung atau di alam semesta ini terjadi gempa, maka begitu juga di bhuana alit atau bagian tubuh manusia terjadi getaran atau kedutan.
Dikatakan Bhaskara, tubuh memberi kode atau sinyal ketika akan terjadi sesuatu. Hal ini terungkap dalam Lontar Aji Palalindon Ring Sarira yang menyebutkan bahwa getaran tubuh seperti gempa yang terjadi di sarira. Dalam lontar Aji Palalindon ring sarira sarat akan makna,
Ditegaskan apapun yang terjadi di bumi juga terjadi di tubuh. Pada prinsipnya bhuana agung dan bhuana alit adalah tunggal.
“Jika gempa terjadi di bumi sebagai bhuana agung, begitu juga kedutan akan terjadi di tubuh. Tubuh juga cerdas, bahwa apapun yang terjadi, secara ilmiah membuktikan baik mata, tangan kulit semua memiliki kecerdasan,” ungkapnya.
Para Leluhur sebut Ida Bagus Bhaskara sudah mencatat, bahwa tubuh manusia memiliki kecerdasan secara alami.
Di dalam Lontar Aji Palalindon Ring Sarira, disebutkan bahwa kedutan di tubuh memiliki makna dan firasat sebagai tetengger bahwa akan terjadi sesuatu sedang terjadi di tubuh atau di keluarga.
Di dalam teks ini disebutkan ada tiga bagian tubuh yang terjadi kedutan. Pertama di Kutama Angga atau bagian kepala. Seperti di alis, telinga, pipi, hidung. “Ini di bagian tubuh atas atau areal kepala,” katanya.
Sedangkan di Madyama Angga juga terjadi kedutan di tubuh bagian tengah. Areanya mulai dari leher ke bawah sampai pusar.
Kedutan bisa di dada, punggung, perut maupun di areal bawah pusar. Kedutan juga bisa terjadi pada areal Nistama Angga, itu bagian bawah atau bagian kaki.
Lalu apa makna di balik kedutan tersebut? Dijelaskan Ida Bagus Bhaskara tetenggernya dibagi menjadi dua.
Yaitu bermakna ala atau buruk dan ayu atau baik. Apabula kedutan terjadi di bagian kepala, maka itu adalah firasat baik.
“Jadi bukan setiap gerakan itu buruk. Ini artinya sesuatu baik terjadi. Kalau di alis artinya ada rejeki yang akan datang,” imbuhnya.
Kalau kedutan terjadi pada bagian tubuh di bagian bawah pusar, ini identik dengan ketika orang belajar kawisesan.
Maka apa yang dipelajari dan dimasukkan ke dalam tubuh itu diartikan sudah tidak berfungsi dengan baik, dan ini bisa saja kedepannya akan menimbulkan penyakit, sehingga harus dibersihkan.
Selanjutnya jika kedutan terjadi pada bagian kaki bawah, seperti pergelangan kaki, maka ini juga harus berhati-hati.
Karena ini pertanda ada seseorang yang berniat tidak baik kepada kita baik hendak mencelakai atau menyebabkan marabahaya.
Getaran itu sebagai alarm agar kedepannya lebih berhati-hati. Selain itu juga disarankan untuk lebih mawas diri.
Dengan harapannya agar marabahaya yang mengintai segera bisa menghidar dari diri kita.
Di dalam lomyar Aji kedutan, juga disebutkan selain kedutan ada pula rasaning bayu. Rasaning bayu yang dimaksud adalah bagaimana perasaan kita.
Dalam lontar juga disebutkan, bahwa terkadang ada emosi yang datang secara tiba-tiba, ada pula tiba-tiba perasaan ketakutan tidak jelas,
Di dalam lontar dijelaskan bila terjadi hal itu maka dinilai kurang baik. Artinya ada musuh yang berniat tidak bagus terhadap diri kita.
Misalnya tiba-tiba ada orang ngacep. Maka muncul rasa cemas yang tidak jelas. Artinya ada Sesutu yang tidak beres.
“Rasaning bayu juga menjadi indikasi untuk mengetahui atau memahami apa yang terjadi. Misalnya ketika kita tibat tiba marah tanpa sebab, maka ini ada niat yang tidak bagus dari seseorang, misal raja pisuna. Misalnya saat kita ngobrol kemudian ada perasaan marah. Artinya kita sedang difitnah oleh seseorang,” sebutnya.
Kalau ada juga Lelah tanpa sebab padahal dalam kondisi sednag tidak bekerja, maka ini artinya lara atau sakit dalam tubuh.
Sakit ini banyak indikasi gejala fisik biasa, atau juga unsur secara niskala. Itu kan juga banyak, apakah karen kurang muspa dan sesuatu lainnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika