Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pentingkah Nunas Bawos sebelum Ngaben? Tidak Dimuat dalam Sastra, Gunakan Nalar dan Wiweka

I Putu Mardika • Sabtu, 13 April 2024 | 15:03 WIB

 

Ida Bagus Made Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar
Ida Bagus Made Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring, Gianyar
JEMBRANA EXPRESS-Nunas Bawos atau metuwunang kerap dilakukan untuk mendapatkan pawisik atau petunjuk bagi pitra yang akan dibuatkan upacara pengabenan.

Matuwun ini dilakukan oleh sanak saudara yang meninggal untuk memastikan apakah ada permintaan baik banten maupun hal lain jelang upacara pengabenan.

Tetapi, tidak jarang saat proses metuwunang, sang roh yang meminjam badan kasar Balian kerap meminta hal-hal yang tidak masuk di akal, di luar banten atau sarana yang dibutuhkan.

Seperti  sepeda motor hingga barang lainnya. Tentu, hal ini memberikan berbagai macam asumsi bagi pratisentananya yang akan mengabenkannnya.

Penekun Lontar Ida Bagus Bhaskara dari Geria Sunia Tampaksiring Gianyar dalam channel @Kapiyot mengatakan Ngaben di Bali pasti memiliki uger-uger dalam pelaksanaannya, baik mengacu pada sastra maupun berdasarkan konsep desa kala dan patra.

Dikatakan Bhaskara, banyak fenomena umat Hindu yang melaksanakan prosesi nedunang atau mepeluasang.

Menurutnya, proses itu tergantung dengan rasa atau kepuasan diri (atmanastuti). Roh yang akan diaben sebagai bukti bahwa pratisentananya sudah bhakti kepada leluhurnya.

“Jadi tidak perlu dikomunikasikan lagi melalui metuun atau nedunang, Kenapa? karena  secara sastra. Apalagi proses pengabenan pasti pelaksanaannya sudah bersumber dengan sastra indik pengabenan,” paparnya.

Bhaskara mengingatkan jika pelaksanan upacara ngaben tidak serta merta menentukan posisi leluhur apakah mendapat sorga dan neraka ataupun meraih posisi sunia loka.

Namun, ada hal yang jauh lebih penting sebab tujuannya bagaimana sentana mendoakan agar leluhur mendapat tempat yang bagus, sesuai dengan karma wasana. Tentu didoakan agar mendapat tempat yang baik.

“Doa kita sangat membantu, karena dasar prinsip yadnya adalah karma sandiasa, bagaimana menerapkan karma yadnya untuk membantu proses pelepasan leluhur kita, dan menyatu dengan brahman,” imbuhnya.

Bhaskara menyebut memang banyak kasus unik yang terjadi saat mepeluasan sebelum ngaben dilaksanakan oleh pihak keluarga.

Semisal ada leluhur yang tidak mau diabenkan. Padahal menurut Weda sang pitra wajib ngaben.

“Tetapi karena bersumber dari rawos mepinuasan, roh itu tidak mau diaben. Akhirnya tidak diaben. Otomatis pratisentananya bingung.

Ada juga kejadian aneh, si roh minta dibekali sepeda motor. Ini tentu sangat tidak logis. Kita dibekali wiweka, jadi harus pakai logika menalarnya,” pesannya.

Menurutnya, beragama dengan mengutamakan nalar sangatlah penting. Kalaupun ada yang mempertanyakan itu, maka ia menyarankan agar tetap menggunakan wiweka (logika).

Sebab, jika ada permintaan yang di luar dan tidak masuk akal, maka sebaiknya tidah harus diindahkan, atau pindah di tempat lain untuk nunasang bawos.

Di sisi lain, tidak ada dasar sastra yang mengatur secara langsung maupun tidak langsung terkati prosesi metuun, baik dilakukan setelah meninggal, atau saat akan ngaben.

Tidak pernah ditegaskan dalam sastra yang berkaitan dengan proses pengabenan. Baik dalam Lontar Yama Purana Tatwa maupun Purana Yama Tattwa.

Sejauh ini tidak ada rujukan bahwa setelah meninggal wajib mepeluasan. Tetapi ini juga erat kaitannya dengan rasa.

“Karena rasa dan sastra tidak bisa dipisahkan, tetapi harus ingat koridor batasan ada pada logika dan wiweka. Ini juga bukan menyalahkan,” ungkapnya.

Pada sumber sastra manapun dijelaskan bahwa proses yadnya tidak akan ada sempurna, karena manusia tidak sempurna. Tidak semuanya baik.

Bisa saja saat pelaksanaannya tidak sempurna. Meskipun sumber sastranya jelas, tetapi kadang saat pelaksanannya pasti ada yang kurang.

Sehingga setiap banten Ngaben pasti ada banten pemogpog.

Banten ini berfungsi sebagai permohonan maaf jika ada sarana yang kurang atau lebih pada saat prosesi pengabenan. Banten ini tentu sebagai pelengkap jika ada yang bersifat kurang.

Di sisi lain, Sulingih atau pendeta yang muput karya ngaben menurutnya sudah pasti mengucapkan mantra yang Namanya mantra pengrampeg.

Mantra inilah yang digunakan untuk menyempurnakan jika ada yang kurang, ada yang terlupakan, maka banten pemopog inilah yang menyempurnakan, termasuk puja ratu peranda, serta tirta di kahyangan tiga juga akan menyempurnakan. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#nunas bawos #ngaben #Lontar Yama Purana Tattwa #hindu #wiweka #Ida Bagus Bhaskara #nalar #bali #pitra