Dosen Filsafat Hindu, STAHN Mpu Kuturan yang juga penari Barong menjelaskan, dalam pembuatan barong ada sejumlah tahapan yang dilalui.
Mulai dari matur piuning sebagai permohonan ijin agar diberikan ijin kepada Ida Bhtara di tempat dimana nantinya barong dan rangda distanakan sebagai pratima.
Proses ini adalah tahap awal pembuatan Barong dan Rangda dengan didahului matur piuning (mempermaklumkan ke hadapan Ida Bhatara) di pura tempat dimana nantinya Barong dan Rangda tersebut disthanakan sebagai pratima.
Selanjutnya dilaksanakan Nyanjan. Prosesi ini biasanya disertai dengan pertanda gaib berupa adanya pemangku yang kerasukan Ida Bhatara untuk memberi petunjuk mengenai direstui tidaknya pembuatan atau perbaikan (kalau sebelumnya sudah ada) Barong maupun Rangda.
“Hasil dari proses Nyanjan di setiap tempat tentu berbeda-beda, tetapi ada kalanya petunjuk Ida Bhatara lewat Nyanjan itu sangat terinci, seperti menunjukkan dimana harus dicari bahan tapel Barong dan Rangda yang akan dibuat,” katanya.
Kalau petunjuk gaib tersebut menyebutkan bahwa bahan kayu tapel harus dicari di arah kaja kangin dari tempat pura, maka masyarakat harus menemukan pohon pule, kepuh, kepah sesuai petunjuk ke arah tersebut sampai kayu dimaksud ditemukan.
Apabila kayu dimaksudkan sudah ketemu, maka dilanjutkan dengan mohon izin kepada pemilik kayu serta permohonan secara gaib.
Dari proses ini sering muncul ikatan gaib antara Barong dan Rangda yang baru dibuat dengan tempat dimana kayu tersebut diperoleh.
Ikatan ini terutama terjadi apabila kayu bahan tapel tersebut diperoleh di wewidangan (areal) pura tententu atau setra sebuah desa adat.
Ikatan gaib dari Barong dan Rangda dengan tempat bahan tapel itu diperoleh biasanya ditandai dengan dihadirkannya Barong dan Rangda tersebut pada setiap pujawali di pura tempat bahan tapel itu didapat.
Kemudian dilanjutkan dengan prosesi Ngepel Kayu. Tahapan ini merupakan pemotongan kayu bahan tapel di pohon yang masih berdiri kokoh, mengingat bahan tapel Barong dan Rangda tidak boleh berasal dari pohon yang sudah tumbang ataupun sudah mati walaupun masih berdiri.
Diperlukan teknik khusus untuk memotong bahan tapel agar pohon induk tidak ikut roboh saar diambil sebagian kayunya. Ngepel kayu pun memilih hari dewasa ayu.
Biasanya dilakukan pada saat Tilem dengan terlebih dahulu memohon izin kepada dewaning taru, bersarana banten Pajati yang berisikan Pras, Ajuman soda, dan Daksina lengkap dengan pesucian dan segehan cacah
Saat Ngepel kayu tersebut krama desa atau penyungsung pura yang akan menggunakan Barong dan Rangda tersebut turut datang mendak bahan tersebut disertai gamelan kemudian potongan kayu kapundut (digotong) pulang dengan berjalan kaki.
Bahan tapel terlebih dahulu kalinggihang (ditempatkan terlebih dahulu di pura tempat dimana Barong-Rangda tersebut akan dijadikan sungsungan untuk diberi wastra (pakaian) dan upacara matur piuning sebagaimana mestinya.
Kemudian apabila sudah tiba waktu mulai pengukiran tapel tersebut, bahan kayu dibawa ke rumah undagi.
“Pahatan pertama adakalanya dilakukan oleh sulinggih sebelum digarap oleh undagi. Waktu (kala) merupakan hal yang sangat penting dalam pembuatan sebuah pratima yang nantinya diharapkan dapat mataksu,” ungkapnya.
Saat yang ideal untuk Ngepel atau memotong kayu bahan tapel Barong dan Rangda ialah ketika jatuh pada sasih Kasa dan Karo, dan Sada.
Pada ketiga sasih ini kayu berada dalam kondisi yang baik tingkat kekeringannya sehingga memudahkan untuk diukir.
Pada sasih ini pohon-pohonan tidak sedang menyerap makanan (air) sehingga pori-pori kayu cenderung tertutup. Keadaan ini menciptakan kayu menjadi tahan lama dan tidak mudah lapuk.
Sementara itu hari yang baik untuk memulai pembuatannya (mengukir tapel) adalah pada Kajeng Kliwon karena hari itu dianggap sakral (keramat) dimana Dewa Siwa disebutkan tengah beryoga pada hari tersebut.
“Oleh karena itu saat Kajeng Kliwon akan memiliki kekuatan atau daya sakti yang ampuh untuk membuat Barong ataupun Rangda. Hari Pasah hendaknya dihindari untuk kegiatan-kegiatan penting termasuk pembuatan tapel untuk tapakan,” sebutnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika