Salah satu sekeha Joged yang ada di Sinabun adalah Sekeha Tunjung Mekar, yang terletak di Dusun Dalem, Desa Sinabun.
Pelang bertuliskan “Joged Tunjung Mekar Desa Sinabun” terpampang jelas di seberang gang menuju rumahnya sebagai penanda untuk memudahkan orang yang hendak mencari joged.
Adalah Wayan Netra, 71 yang sebagai Kelian Sekeha Joged sejak tahun 1996 silam. Tidak sulit mencari rumahnya. Hanya beberapa meter dari jalan utama Sinabun-Sudaji, koran ini sudah bisa menemukan rumahnya.
“Cari joged pak gih?,” begitu sapanya kepada koran ini saat menyambanginya di rumahnya. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya, ia kemudian dengan ramah mengajak koran ini naik ke lantai dua rumahnya yang mungil itu.
Pantauan Bali Express (Jawa Pos Group) terlihat sejumlah perangkat gamelan seperti rindik, kendang, yang kerap digunakan saat pentas tertata di kediamanya.
Bahkan, foto-foto saat ia pentas di berbagai pelosok Bali bersama sekeha Joged Tunjung Mekar tertempel rapi di dinding rumahnya. Gelung yang dipakai penari joged juga tertata rapi di rak kacanya.
Netra menceritakan, ketertarikannya dalam seni Tari Joged sudah diwariskan dari sang ayah. Hingga akhirnya sejak 28 tahun silam dirinya menekuni profesi sebagai kelian Sekeha Joged Tunjung Mekar.
Dirinya menyebut jika di Desa Sinabun jumlah sekeha joged sekitar 4 sekeha. Namun, para penari maupun penabuhnya tidak semua berasal dari desa tersebut. Bisa saja ada dari luar Sinabun, tetapi mesekeha ke Sinabun.
Posisinya mirip seperti seorang manajer. Jika ada orang yang hendak menyewa Joged, maka dirinyalah yang paling pertama dicari.
Tidak jarang juga dia dihubungi melalui sambungan telepon. Setelah ada kesepakatan harga, barulah ia menghubungi anggota sekehanya.
Dalam berkesenian, ia melibatkan hampir 15 orang anggota sekeha. Mereka bertugas sebagai penabuh gamelan Joged.
Sedangkan penari jogged yang dilibatkan hampir 5 orang. Para penari ini akan digilir pentas sesuai dengan kebutuhan.
“Tergantung pesanan sebenarnya. Kalau yang dicari penarinya banyak, maka sudah pasti anggota sekeha yang diajak juga banyak. Tapi kalau penarinya hanya satu orang, kadang sekehanya 2 sampai 3 orang,” ceritanya.
Dikatakan Wayan Netra, sebelum pandemi Covid-19, pihaknya bisa pentas hingga 60 kali dalam sebulan. Itu berarti, rata-rata sekeha yang dipimpinnnya itu pentas mencapai dua kali dalam satu hari.
Rata-rata tarif sewanya berbanding lurus dengan lokasi dimana pentas, jumlah anggota sekeha serta jumlah penari yang dilibatkan. Namun tawar menawar harga antara dirinya dengan pengupah tetap dilakukan sampai harga yang disepakati.
Jika pentasnya di luar Buleleng, maka sewanya bisa mencapai Rp 10 jutaan. Sedangkan jika di wilayah Buleleng masih di kisaran Rp 5 juta sampai Rp 6 jutaan.
“Karena kru yang dilibatkan banyak, ya pasti mahal, apalagi untuk biaya operasional, sewa kendaraan, upah penabuh sampai honor penari,” jelasnya.
Netra tak menampik, pandemi Covid-19 yang menghantam sejak 2 tahun silam berdampak besar terhadap jumlah pencari joged.
Bahkan dalam sebulan maksimal hanya dua kali pentas. Kadang, dalam sebulan ia benar-benar nganggur, sehingga tidak berpenghasilan.
“Ya mau tidak mau harus sabar, agar dapur tetap ngepul, saya juga buat kerajinan kecil-kecilan untuk bertahan hidup,” ungkapnya sembari menunjukkan kerajinan tangan yang terbuat dari batok kelapa.
Lesunya pengupah (penyewa, Red) juga menurutnya tak lepas dari semakin banyaknya konten youtube yang menampilkan tarian Joged.
Ia tak menampik, jika hal teresebut membawa dampak positif dan negatif.
“Sekarang orang sudah sangat gampang menonton joged dari Youtube, tetapi kami sebagai seniman yang berkecimpung di dunia itu berharap tetap ada yang ngupah,” sebutnya.(dik)
Editor : I Putu Mardika