Keunikan pura ini terlihat dari keberadaan Palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im dan piodalannya yang bertepatan dengan Hari Raya Imlek.
Saat piodalan Imlek, pura ini dihiasi lampion dan ornamen khas Tionghoa berwarna merah, menyambut para peziarah Tionghoa yang datang untuk bersembahyang dan mengikuti perayaan.
Menurut Jero Mangku Karda, pemangku Pura Dalem Betawi, sejarah pura ini tersirat dalam Purana Bangsul dan cerita-cerita tetua masyarakat.
Konon, pura ini didirikan oleh Ratu Manik Galih dari Kerajaan Guan di Cina yang moksa di lokasi pura ini.
Pura Dalem Betawi memiliki beberapa nama, yaitu Betawi (berasal dari kata "bet" yang berarti hutan), Berawi (bekas setra), dan Batawi (karena bahan utama palinggihnya dari bata).
Nama Betawi akhirnya disepakati dengan asumsi berasal dari kata "Berawi" yang berarti "penguasa kuburan".
Pura ini memiliki beberapa palinggih, di antaranya Palinggih Gedong Siwa Durga yang menghadap ke barat dengan patung penjaga Rahwana dan Kumbakarna.
Palinggih Padmasana dengan ukiran Naga Basuki dan patung purusa pradana.
Ada juga Palinggih Gedong Buddha Dewi Kwan Im yang memiliki stupa di puncaknya dan patung anak kecil serta dua patung penjaga di depannya.
Di area pura juga terdapat Sambyangan Agung, tempat menerima tamu secara niskala, dan Sambyangan untuk menyimpan patung dan senjata suci pura.
Arsitektur pura ini mempertahankan ciri khasnya dengan penggunaan bata dan uang kepeng Cina.
"Pura Dalem Betawi menjadi bukti nyata akulturasi budaya Hindu dan Buddha di Bali. Keunikan dan sejarahnya menarik untuk dipelajari dan menjadikannya destinasi wisata budaya yang kaya," jelasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika