Konco ini merupakan tempat pemujaan bagi Ratu Kang Ching We, istri kedua Raja Sri Haji Jaya Pangus.
Jro Mangku I Nengah Kadi menjelaskan Pura Dalem Balingkang menerapkan konsep Tri Mandala, yaitu Nista Mandala, Madya Mandala, dan Utama Mandala.
Pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar terletak di Utama Mandala, di sisi timur laut pura.
Secara arsitektur, pelinggih Ratu Ayu Mas Subandar mirip dengan pelinggih lainnya di Pura Dalem Balingkang.
Pelinggih ini berbentuk gedong dengan tiga bagian: alas (kaki), badan, dan pucuk (atap).
Pelinggih ini dibangun dari bahan-bahan lokal seperti batu padat, batu bata, kayu, dan ijuk.
Pelinggih ini dihiasi dengan warna merah, tedung, kelambu, lampion, tirai bambu, dan hiolo. Di depan pelinggih terdapat tempat dupa kolosal.
"Konon, uang kepeng digunakan sebagai mahar pernikahan Ratu Kang Ching We dan diwajibkan sebagai pelengkap dalam upacara Yadnya oleh Raja Sri Haji Jaya Pangus," sebutnya.
Uang kepeng juga digunakan untuk membantu perekonomian kerajaan.
Pengaruh budaya Tionghoa dalam Pura Dalem Balingkang terlihat pada material arsitekturalnya, seperti penggunaan genteng bambu oleh 75 persen masyarakat Desa Pinggan.
Hal ini diyakini sebagai warisan leluhur mereka.
"Pengaruh budaya Tionghoa juga terlihat dalam seni, seperti tarian wali yang dipentaskan dalam upacara tahunan pura," katanya.
Seperti Tari Baris Ngepang Truna, Tari Baris Gede, Tari Baris Jojor, Tari Presi, Tari Baris Dadap, dan Tari Perang.
Sentuhan Tionghoa tampak pada kostum penari, ornamen, corak warna, properti tari, koreografi, dan aransemen musik.
Akulturasi budaya Bali-China juga dapat ditemukan di berbagai daerah di Bali, seperti Baturiti, Marga, Pupuan, Petang, Carangsari, Gumicik Sukawati, Blahbatuh-Gianyar, Renon, Sanur, dan Menanga.
Hal ini terlihat dari komunitas Tionghoa Bali yang bertempat tinggal di dekat pasar tradisional, penggunaan nama-nama Bali, dan bahasa Bali sebagai bahasa ibu.
Konco Khonghucu yang terletak berdampingan dengan pura di Pabean, Sangsit (Buleleng), Pesanggaran (Denpasar), dan Abiansemal (Badung) menjadi bukti nyata akulturasi Bali dan Cina yang terjadi di seluruh pulau.
Editor : I Putu Mardika