Bali Ekonomi Bisnis Features Hukum Kriminal Lifestyle Nasional Olahraga Opini Pojok Mekepung Politika Sosok Taksu Wisata

Pura Ulun Danu Batur Kintamani: Pusat Ritual di Bali, Erat dengan Mitos Gunung dan Danau Batur

I Putu Mardika • Senin, 29 April 2024 | 04:11 WIB

Pura Ulun Danu Batur, di desa Batur, Kecamatan Kintamani sebagai pusat ritual Hindu di Bali
Pura Ulun Danu Batur, di desa Batur, Kecamatan Kintamani sebagai pusat ritual Hindu di Bali
JEMBRANA EXPRESS-Pura Ulun Danu Batur, yang terletak di Desa Batur, Kecamatan Kintamani, Bangli, merupakan salah satu pusat ritual penting di Bali.

Keberadaannya tak lepas dari keberadaan Danau Batur dan Gunung Batur, yang melambangkan konsep lingga dan yoni.

Pura ini terletak di lokasi strategis di tepi jalan raya Kintamani, Bangli. Pemedek yang datang untuk bersembahyang datang dari berbagai umat Hindu Bali dan bahkan seluruh nusantara.

Pura ini dikelilingi oleh tiga dinding kokoh dan terbagi menjadi tiga mandala. Pertama Nista Mandala (Jabaan) Dapat diakses melalui gerbang utama yang terbelah dua (Candi Bentar).

Madya Mandala Tengah: Diakses melalui gerbang Paduraksa yang lebih kecil dan indah. Utama Mandala merupakan halaman paling suci yang diakses melalui gerbang Gelung Kori Agung yang besar, lancip, dan tinggi. Di sinilah kemegahan Pura Ulun Danu Batur terlihat jelas.

Mitos dan sejarah Pura Ulun Danu Batur terkait erat dengan Gunung Batur dan Danau Batur, serta teologi Siwaistis.

Gunung Agung dianggap sebagai purusa (laki-laki), sedangkan Gunung Batur sebagai pradhana-nya (bagian utama).

Danau Batur dianggap sebagai pradhana, sedangkan Gunung Batur sebagai purusa.

Jro Penyarikan Duuran Batur menjelaskan, pada awalnya, pura ini bernama Pura Tampurhyang atau Pura Batur dan terletak di lembah kaldera Gunung Batur sebelah barat daya.

Namun, letusan besar pada tahun 1926 menyebabkan pengungsian besar-besaran dan kerusakan pada pura.

Setelah letusan, penduduk desa dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi oleh pemerintah Hindia Belanda dan membangun kembali pura di tempat baru yang disebut "Kalangan Anyar" atau "Kalanganyar", yang sekarang dikenal sebagai Desa Batur. Pembangunan kembali pura ini dilakukan pada tahun 1928.

Secara struktur, Pura Penataran Agung Batur merupakan pura induk karena di sini terdapat beberapa palinggih utama, di antaranya Meru Tumpeng Sebelas tempat memuja Ida Bhatari Dewi Danu (Ida Bhatari Ulun Danu).

Tiga Meru Tumpang Sembilan sebagai tempat memuja Ida Bhatara Sesuhunan Sakti Ngambel Jagat, Ida Bhatara Gede Agung, dan Ida Bhatara Dalem Waturenggong.

Dua Meru Tumpeng Pitu yakni tempat memuja Ida Ratu Ayu Manik Astagina dan amongan (beban tanggungan) Puri Mengwi.

Satu buah Meru Tumpeng Lima: Amongan Puri Blahbatuh. Tiga  Meru Tumpeng Tiga: Amongan Desa Pakraman Tejakula, Kabupaten Buleleng.

Satu Gedong Tempat memuja Ida Ratu Ayu Subandar, Pesamuhan Agung Tempat pratima (perwujudan) Ida Bhatara-bhatari disthanakan pada waktu diselenggarakan upacara besar dan  Meru Tumpang Telu tempat memuja Ida Ratu Ayu Kentel Gumi.

"Pengempon utama Pura Ulun Danu Batur adalah masyarakat Desa Adat Batur, yang terdiri dari Desa Dinas Batur Utara, Batur Tengah, dan Batur Selatan," jelasnya.

Namun, mengingat sejarahnya yang terkait dengan berbagai kelompok masyarakat, seperti puri, subak, dan desa adat, setiap kelompok tersebut juga memiliki kewajiban untuk ngamong (menanggung) bagian tertentu dari pura, baik pura pelebahan maupun palinggih.

"Sistem amongan ini terutama terlihat dalam pelaksanaan upacara keagamaan, seperti pujawali atau aci-aci lainnya yang dilaksanakan di Pura Ulun Danu Batur," ungkapnya.

Pura Ulun Danu Batur bukan hanya sebuah pura yang indah dan megah, tetapi juga merupakan simbol penting budaya dan spiritual Bali.

Pura ini menjadi tempat untuk umat Hindu Bali memanjatkan doa dan harapan, serta untuk menjaga keseimbangan alam dan harmoni kehidupan. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#Lingga Yoni #gunung batur #Desa Batur #kintamani #bangli #hindu bali #pura