Tokoh Adat Nongan I Gusti Ngurah Wiryanata Dijelaskan bahwa cerita tersebut menyatakan bahwa Pan Balang Tamak memiliki putri yang diperintahkan untuk mengenakan kalung buah ketika hendak mengiringi Raja menuju Besakih.
Ketika haus dan lapar menghampiri di tengah perjalanan, maka buah itulah yang dimakan dan jangan sesekali memberikan kepada siapa pun baik itu raja ataupun putra raja.
Selain kalung buah, Pan Balang Tamak juga memerintahkan anaknya membawa daun kumbang, yang nantinya digunakan sebagai payung ketika hujan ataupun panas.
Melihat kejadian tersebut, akhirnya para pengiring raja menggunakan kalung buah ketika mengiringi raja ke Besakih.
Kisah tentang Rejang ini juga ada versi yang lain. Konon, ketika warga memohon bantuan sang Raja untuk menjebak Pan Balang Tamak.
Raja bersabda, bahwa pada perayaan Usabha Desa seluruh anak gadis harus turut ngeRejang berdandan seindah mungkin, tidak terkecuali anak Raja.
Anak gadis yang hiasannya buruk akan dikenai denda.
Seluruh penduduk berlomba-lomba merias anak gadisnya dengan bunga dan perhiasan semewah mungkin, begitu pula Sang Raja.
Sementara itu Pan Balang Tamak yang kaya raya justru merias anak gadisnya dengan gelungan dipenuhi buah-buahan hasil kebun.
Ketika tiba waktunya untuk berbaris dan menari, tentu anak gadis Pan Balang Tamak menjadi bahan tertawaan penduduk, namun putri Sang Raja justru menangis meminta gelungan anak gadis Pan Balang Tamak karena menginginkan buah-buahannya.
Pan Balang Tamak pun memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya kepada Raja
“Jika anak Baginda menangisi gelungan milik anak hamba, maka hiasan Rejang siapakah sebenarnya yang lebih indah?, kini siapa yang seharusnya membayar denda?”. Pan Balang Tamak pun terbebas dari jebakan bahkan berhasil mendendai Raja dan warga desa.
Seperti diketahui, Tarian Rejang Pala memang tergolong unik karena menggunakan gelungan yang berbahan buah-buahan sebagai hiasan di kepala.
Selain itu Gelungan itu ditempatkan di dalam bodag atau kotak besar terbuat dari anyaman bambu sejumlah 11 buah, yang diletakkan di Bale Pasamuhan tempat meletakkan pretima Jero Gede Balang Tamak selama upacara berlangsung.
“Keunikan dari Tari Rejang Pala dapat dilihat pada gelungan yang digunakan oleh para penari Rejang dari kelompok daha (remaja putri), dihiasi dengan berbagai jenis buah-buahan segar hasil perkebunan masyarakat kami,” kata Wiryanata.
Begitu pula pada penari Rejang kelompok anak-anak, pada bagian kepalanya juga mempergunakan hiasan kepala semacam gelungan, yang juga dihiasi dengan buah-buahan.
Sedangkan untuk penari kelompok ibu-ibu hiasan kepalanya menggunakan Sanggul Bali dan semanggi dari buah-buahan, serta membawa bokoran berisi canang sari (sesaji) yang di atasnya diisi beberapa jenis buah. (dik)
Editor : I Putu Mardika